Jumat, 27 Juli 2018

Kata Kata Bijak Al Habbib Luthfi bin Yahya Pekalongan

"KATA-KATA BIJAK SANG SUFI, AL–‘ARIF BILLAH MAULANA AL-HABIB LUTFI BIN YAHYA PEKALONGAN"

“Rahasia Allah terletak pada makhlukNya.”

“Sesama wali quthub meski memiliki pangkat kewalian yang sama tetapi memiliki sirr atau rahasia yang berbeda. Salah satu hikmahnya adalah agar tidak ada kecemburuan di antara makhluk Allah.”

“Jangan sekali-kali melupakan guru yang telah mengenalkanmu dzahir-dzahir syariat, terlebih guru mursyidmu yang telah membimbingmu menuju Allah. Salah satu sebab kenapa aku memperoleh derajat terhormat saat ini adalah karena aku sangat menghormati guru-guruku.”

“Rizki itu ada dua, Tajrid dan Kasbi. Rizki Tajrid diperoleh tanpa melalui ikhtiar, inilah karunia yang Allah berikan kepada para auliya' (kekasih Allah). Sedang rizki Kasbi didapat melalui proses ikhtiar.”

“Rizki itu ibarat tangki mobil, sudah ada takarannya gak bisa dilebihkan atau dikurangi. Kalau dilebihkan bisa-bisa luber dan kalau dikurangi bisa-bisa pengemudi tidak sampai ke tujuan.”

“Jangan kau akui keilmuan seorang alim yang suka mencerca para auliya’ dan ulama.”

“Qana’ah dan zuhud adalah pakaian tani yang kita gunakan untuk menggarap lahan di sawah, pelindung dari kotoran-kotoran dan lumpur yang bisa menodai tubuh kita dikala menggarap lahan. Begitulah kaum sufi memandang dunia, mereka tetap bekerja, ikhtiar mencari rizki dengan bersikap qana’ah dan zuhud agar kotoran dunia tidak mengotori hati mereka yang bersih.”

“Anda keliru jika menyangka para ulama sufi tidak kaya. Al-Imam Abul Hasan asy-Syadzili memiliki empat ekor kuda paling mahal di masanya, kereta kudanya memiliki dua roda yang dihiasi mutiara dan batu mulia, tapi tidak sedikitpun kemegahan kereta kuda itu mengisi relung hatinya. Bahkan ketika ada orang yang takjub akan kemegahan kereta kudanya dan sangat menginginkan apa yang dimiliki sang sufi, asy-Syadzili lantas memberikan kereta kudanya untuk orang tersebut.”

“Tidak usah memikirkan kekeramatan, yang penting kalian mendalami sekaligus mengamali secara benar dzahir-dzahir syariat.”

“Aku tidak pernah belajar komunikasi dengan arwah di alam barzakh. Aku bisa karena memiliki mahabbah(kecintaan) kepada meraka. Ilmu seperti itu tidak usah dipelajari, berbahaya, karena kalian belum bisa membedakan mana arwah para wali dan mana arwah yang merupakan jelmaan iblis.”

“Hikmah di balik tanaman yang diletakkan di atas kuburan adalah untuk meringankan adzab si ahli kubur. Karena selama tanaman itu masih hijau, dia (tanaman) bertasbih memujiNya. Hal inilah yang menjadi sebab turunnya rahmat diringankan siksaan si ahli kubur.”

“Kasih sayang seorang wali itu sama seperti kasih sayang seorang ibu kepada anaknya, bahkan mereka rela menanggung adzab yang turun di umat mereka. Begitulah sifat para auliya’.”

“Rahmat turun karena sebab ikhtiar. Contoh: sakinah, mawaddah dan rahmahakan muncul jika seseorang sudah ikhtiar untuk menikah.”

“Qudrat dan iradat Allah Swt. ditunjukan pada tiap makhluk yang telah Dia ciptakan.”

“Make up orang mukmin ialah bekas sujud yang memancar dari wajahnya.”

“Maksiatnya Nabi Adam As. merupakan tarbiyah Allah Swt. kepada Nabi Adam As. agar kelak jangan mengulangi perbuatan tersebut.”

“Hikmah diperoleh setelah penalaran yang mendalam. Hikmah juga mengajarkan seseorang untuk bersikap sabar.”

“Demi menghormati Abdullah bin Umi Maktum, Rasulullah Saw. selalu berdiri tiap kali ada orang buta yang lewat di hadapan beliau.”

“Berpalingnya Rasulullah Saw. dari Abdullah bin Umi Maktum membuat beliau ditegur oleh Allah Swt. dengan cara yang halus yaitu dengan dhamir ghaib: “Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling”, bukan dengan dhamir mukhathab: “Kamu (Muhammad) bermuka masam dan berpaling”, (QS. ‘Abasa ayat 1). Hal ini adalah bentuk pendidikan sekaligus perintah Allah kepada Rasulullah Saw. untuk menyampaikan dakwah, terlepas dari diterima atau tidaknya dakwah Rasulullah Saw., sebagai kewajiban beliau selaku utusan Allah sekaligus menekankan bahwa hak Allah Swt. adalah memberikan hidayah pada siapa saja yang Dia kehendaki.”

“Salah satu penyakit hati yang berbahaya adalah hasud. Hasud jika dikombinasikan dengan sifat ghaflah atau lalai akan memunculkan sikap sombong.”

“Hasad dan marah adalah dua hal yang saling berhubungan satu sama lain.”

“Segala sesuatu memiliki batasan, termasuk kesabaran. Jika sabar tidak memiliki batas, mungkin Kanjeng Nabi Saw. akan diam saja dan tidak akan memerangi kaum kafir di Perang Badar.”

“Bersabar tidak boleh menuruti hawa nafsu tapi harus dengan ilmu.”

“Aku (Oki Yosi) pernah bertanya kepada Abah: “Bagaimanakah cara kita mengetahui keinginan yang semata-mata karena Allah dan keinginan yang bersumber dari nafsu?” Beliau Habib Luthfi bin Yahya menjawab: “Bagi saja keinginan itu menjadi dua, satu untuk akal dan kedua untuk ilmu. Akal sebagai hakim dan ilmu alat untuk menganalisa dengan hati sebagai rajanya yang akan mendorong keinginan kita bertindak semata-mata karena Allah.”

(Disarikan dari pengajian rutin al-‘Arif Billah Maulana al-Habib M. Luthfi bin Yahya Pekalongan selama Ramadhan 1434 H)

Tawasul

Langsung Saja Minta Sama Allah, Kenapa Minta Sama Yang Lain....

Ya itulah Salah satu kalimat yang diucapkan beberapa orang ketika ada diskusi tentang keutamaan doa lewat wasilah orang2 tertentu...

Suatu kisah dalam kitab hadits bukhori...

Musim kemarau pernah terjadi Pada Zaman Umar Bin Khottob..

Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu anhu, Mu’awiyah bin Abi Sufyan Radhiyallahu anhu dan para Shahabat yang bersama mereka, juga para Tabi’in yang mengikuti mereka dengan baik ketika ditimpa kekeringan mereka memohon diturunkannya hujan, bertawassul, dan meminta doa kepada orang yg memiliki keutamaan seperti kepada al Abbas bin Abdil Muththalib selaku Paman Rasulullah saw

Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu anhu berkata....

*_Ya Allah dahulu kami bertawassul kepada-Mu dengan Nabi-Mu dan Engkau menurunkan hujan kepada kami dan kini kami bertawassul kepada-Mu dengan Paman Nabi kami, karena itu turunkanlah hujan kepada kami_*

Akhirnya tidak lama kemudIan turunlah hujan disaat Itu juga.

Sahabat Umar Bin Khottob menyadari Paman Nabi memiliki keutamaan yang berbeda dibandingkan dengan sahabat Nabi yg bukan keluarga Nabi Langsung

Ditambah Abbas bin Abdul Mutholib jUga seorang Ulama Dan Wali Allah.

Inilah juga Mengapa Saya sangat senang berdekatan Dan melayani Keturunan Rasulullah saw hingga bisa belajar Langsung dengan mereka.

Cara yang dilakukan Sahabat Umar Bin Khottob bisa dinamakan dengan wasilah Dan tawassul

wasilah dan tawasul adalah istilah yang saling berkaitan satu sama lain.

Wasilah adalah perantara Atau secara etimologi berarti:  segala hal yang dapat mencapai atau mendekatkan kepada sesuatu.

Sedang tawassul adalah usaha mendekatkan diri kepada Allah dengan menggunakan wasilah

Washilah terbagi dua :

Wasilah kauniyah : wasilah yang Allah ciptakan secara  fitrah untuk seluruh manusia

Wasilah syar’iyah :  wasilah yang di syariatkan di dalam Al Qur'an maupun sunnah

Wasilah kauniyah sangat mungkin diwujudkan seorang mu’min ataupun kafir.  

Contoh :  makan untuk kenyang, pakaian untuk menjaga diri dari rasa dingin atau panas dan seterusnya.

Adapun wasilah syar’iyah hanyalah muncul dari seorang mukmin saja.

Tentang wasilah Dan tawassul ini juga dijelaskan dalam Surat Al Maidah Ayat 35 :

يَأيُّهَا الَّذِيْنَ أَمَنُوْا اتَقُوا اللهَ وَ ابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيْلَةَ

_“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan *carilah wasilah yang mendekatkan diri kepada-Nya*_

Dengan wasilah Apa saja Kita bertawassul kepada Allah..

Jawabannya sebagai berikut...

*1. Tawasul melalui Asmaul Husna*

Dengan nama nama Allah yang baik dan sifat-sifat-Nya yang tinggi.  Hal ini Allah tegaskan dalam surat Al A’raf ayat 180 :

وَ ِللهِ الأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوْه بِهَا

_“Dan hanya milik Allah nama-nama yang baik. Maka berdoalah kalian dengan (wasilah) nama-nama tersebut”._

Sebutlah asma2 Allah Saat Kita sebelum berdoa kepada-Nya

*2.Tawassul dengan membaca shalawat*

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, _“Semua doa tertutupi tidak bisa naik ke langit sampai dibacakan shalawat untuk Nabi Muhammad shallahu ‘alaihi wa sallam.”

(HR. At Thabrani)

Dan Allah azza WA jalla pun mengajarkan agar Kita Perbanyak Membaca shalawat kepada Beliau.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

_“Sesungguhnya Allah dan Malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.”_

[Al-Ahzaab: 56]

Sebagaimana Saya sering sarankan perbanyaklah baca shalawat Fatih yg memiliki berbagai keutamaan dibandingkan shalawat lain.

*3.Tawasul dengan amalan sholih yang pernah dilakukan seseorang yang bertawasul tersebut.*

Jenis tawasul ini didasari hadits Muttafaqun ‘Alaihi dari Abdullah bin Umar tentang tiga orang dari kaum terdahulu yang terperangkap di sebuah gua karena tertutup batu besar.

Salah satu diantara mereka bertawasul dengan amalan berbakti kepada kedua orang tuanya.

Yang kedua bertawasul dengan terjaganya kehormatan dia dari perbuatan zina dan yang ketiga bertawasul dengan penunaian amanahnya.

Hal itu mereka lakukan agar Allah menggeser batu tersebut. Akhirnya pun Allah kabulkan do’a mereka.

*4.Tawasul dengan menyebutkan keadaannya yang sangat membutuhkan sesuatu kepada Allah*

Doa Nabi Zakariya yang Allah kisahkan di dalam firman-Nya menunjukkan bolehnya perkara ini.

قَالَ رَبِّ إِنِّي وَهَنَ الْعَظْمُ مِنِّي وَاشْتَعَلَ الرَّأْسُ شَيْبًا وَلَمْ أَكُنْ بِدُعَائِكَ رَبِّ شَقِيًّا

_“Wahai Rabbku sesungguhnya tulangku telah melemah, rambutku telah ditumbuhi uban dan aku belum pernah kecewa dalam berdo’a kepada-Mu, wahai Rabbku”._

Kemudian beliau pun meminta kepada Allah untuk dianugerahi seorang putera yang sholih. Dan Allah pun mengabulkannya.

*5.Tawasul dengan Doa Orang Yang Sholeh Dan berilmu*

Surat Al-Mujadilah Ayat 11

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ ۖ وَإِذَا قِيلَ انْشُزُوا فَانْشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

_Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu._

_Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", maka berdirilah, *niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.* Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan._

Jadi tidak hanya sholeh saja Namun juga memiliki ilmu.

Tentu berbeda aktivitas seorang yang berilmu Dan tidak berilmu

Allah berfirman,

قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُوْلُوا الْأَلْبَابِ

_Katakanlah apakah sama orang-orang yang mengetahui dan orang-orang yang tidak mengetahui._

_Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran._

(QS Az Zumar: 9)

Ketika orang sholeh Pada umumnya hanya melihat dari sisi luar Atau dzhohir saja

Maka mereka yg berilmu jauh melihat lebih dalam Dan jauh lagi.

Merekalah yg disebut Ulama Dan Wali Allah

Namun Terkadang Kita merasa sudah cukup dari Pemikiran Kita saja

Dan perlu diingat ketika seseorang bertawasul bukan berati ia seperti tdk berharap kepada Allah

Atau ada kalimat yg menyatakan terlalu melebihkan dengan perantara tawassul Baik dengan Atas nama Rasulullah saw Atau  wali Allah

Kita tetap bergantung kepada Allah Namun menyadari ada seseorang yg Allah cintai

Ditambah Jika Kita berdoa Langsung dengan banyaknya dosa serta kekurangan yg ada belum Tentu diterima Allah azza WA jalla

Dan tanpa sadar dalam keseharianpun Kita juga suka memakai perantara

Ketika Kita berobat ke dokter juga bukan berharap sembuh dari Dokter

Itu hanyalah wasilah saja..

Demikian ulasan yang bisa Saya berikan.

Semoga Allah Dan Rasulullah ridhoi

Senin, 23 Juli 2018

Tawasul

Langsung Saja Minta Sama Allah, Kenapa Minta Sama Yang Lain....

Ya itulah Salah satu kalimat yang diucapkan beberapa orang ketika ada diskusi tentang keutamaan doa lewat wasilah orang2 tertentu...

Suatu kisah dalam kitab hadits bukhori...

Musim kemarau pernah terjadi Pada Zaman Umar Bin Khottob..

Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu anhu, Mu’awiyah bin Abi Sufyan Radhiyallahu anhu dan para Shahabat yang bersama mereka, juga para Tabi’in yang mengikuti mereka dengan baik ketika ditimpa kekeringan mereka memohon diturunkannya hujan, bertawassul, dan meminta doa kepada orang yg memiliki keutamaan seperti kepada al Abbas bin Abdil Muththalib selaku Paman Rasulullah saw

Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu anhu berkata....

*_Ya Allah dahulu kami bertawassul kepada-Mu dengan Nabi-Mu dan Engkau menurunkan hujan kepada kami dan kini kami bertawassul kepada-Mu dengan Paman Nabi kami, karena itu turunkanlah hujan kepada kami_*

Akhirnya tidak lama kemudIan turunlah hujan disaat Itu juga.

Sahabat Umar Bin Khottob menyadari Paman Nabi memiliki keutamaan yang berbeda dibandingkan dengan sahabat Nabi yg bukan keluarga Nabi Langsung

Ditambah Abbas bin Abdul Mutholib jUga seorang Ulama Dan Wali Allah.

Inilah juga Mengapa Saya sangat senang berdekatan Dan melayani Keturunan Rasulullah saw hingga bisa belajar Langsung dengan mereka.

Cara yang dilakukan Sahabat Umar Bin Khottob bisa dinamakan dengan wasilah Dan tawassul

wasilah dan tawasul adalah istilah yang saling berkaitan satu sama lain.

Wasilah adalah perantara Atau secara etimologi berarti:  segala hal yang dapat mencapai atau mendekatkan kepada sesuatu.

Sedang tawassul adalah usaha mendekatkan diri kepada Allah dengan menggunakan wasilah

Washilah terbagi dua :

Wasilah kauniyah : wasilah yang Allah ciptakan secara  fitrah untuk seluruh manusia

Wasilah syar’iyah :  wasilah yang di syariatkan di dalam Al Qur'an maupun sunnah

Wasilah kauniyah sangat mungkin diwujudkan seorang mu’min ataupun kafir.  

Contoh :  makan untuk kenyang, pakaian untuk menjaga diri dari rasa dingin atau panas dan seterusnya.

Adapun wasilah syar’iyah hanyalah muncul dari seorang mukmin saja.

Tentang wasilah Dan tawassul ini juga dijelaskan dalam Surat Al Maidah Ayat 35 :

يَأيُّهَا الَّذِيْنَ أَمَنُوْا اتَقُوا اللهَ وَ ابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيْلَةَ

_“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan *carilah wasilah yang mendekatkan diri kepada-Nya*_

Dengan wasilah Apa saja Kita bertawassul kepada Allah..

Jawabannya sebagai berikut...

*1. Tawasul melalui Asmaul Husna*

Dengan nama nama Allah yang baik dan sifat-sifat-Nya yang tinggi.  Hal ini Allah tegaskan dalam surat Al A’raf ayat 180 :

وَ ِللهِ الأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوْه بِهَا

_“Dan hanya milik Allah nama-nama yang baik. Maka berdoalah kalian dengan (wasilah) nama-nama tersebut”._

Sebutlah asma2 Allah Saat Kita sebelum berdoa kepada-Nya

*2.Tawassul dengan membaca shalawat*

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, _“Semua doa tertutupi tidak bisa naik ke langit sampai dibacakan shalawat untuk Nabi Muhammad shallahu ‘alaihi wa sallam.”

(HR. At Thabrani)

Dan Allah azza WA jalla pun mengajarkan agar Kita Perbanyak Membaca shalawat kepada Beliau.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

_“Sesungguhnya Allah dan Malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.”_

[Al-Ahzaab: 56]

Sebagaimana Saya sering sarankan perbanyaklah baca shalawat Fatih yg memiliki berbagai keutamaan dibandingkan shalawat lain.

*3.Tawasul dengan amalan sholih yang pernah dilakukan seseorang yang bertawasul tersebut.*

Jenis tawasul ini didasari hadits Muttafaqun ‘Alaihi dari Abdullah bin Umar tentang tiga orang dari kaum terdahulu yang terperangkap di sebuah gua karena tertutup batu besar.

Salah satu diantara mereka bertawasul dengan amalan berbakti kepada kedua orang tuanya.

Yang kedua bertawasul dengan terjaganya kehormatan dia dari perbuatan zina dan yang ketiga bertawasul dengan penunaian amanahnya.

Hal itu mereka lakukan agar Allah menggeser batu tersebut. Akhirnya pun Allah kabulkan do’a mereka.

*4.Tawasul dengan menyebutkan keadaannya yang sangat membutuhkan sesuatu kepada Allah*

Doa Nabi Zakariya yang Allah kisahkan di dalam firman-Nya menunjukkan bolehnya perkara ini.

قَالَ رَبِّ إِنِّي وَهَنَ الْعَظْمُ مِنِّي وَاشْتَعَلَ الرَّأْسُ شَيْبًا وَلَمْ أَكُنْ بِدُعَائِكَ رَبِّ شَقِيًّا

_“Wahai Rabbku sesungguhnya tulangku telah melemah, rambutku telah ditumbuhi uban dan aku belum pernah kecewa dalam berdo’a kepada-Mu, wahai Rabbku”._

Kemudian beliau pun meminta kepada Allah untuk dianugerahi seorang putera yang sholih. Dan Allah pun mengabulkannya.

*5.Tawasul dengan Doa Orang Yang Sholeh Dan berilmu*

Surat Al-Mujadilah Ayat 11

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ ۖ وَإِذَا قِيلَ انْشُزُوا فَانْشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

_Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu._

_Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", maka berdirilah, *niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.* Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan._

Jadi tidak hanya sholeh saja Namun juga memiliki ilmu.

Tentu berbeda aktivitas seorang yang berilmu Dan tidak berilmu

Allah berfirman,

قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُوْلُوا الْأَلْبَابِ

_Katakanlah apakah sama orang-orang yang mengetahui dan orang-orang yang tidak mengetahui._

_Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran._

(QS Az Zumar: 9)

Ketika orang sholeh Pada umumnya hanya melihat dari sisi luar Atau dzhohir saja

Maka mereka yg berilmu jauh melihat lebih dalam Dan jauh lagi.

Merekalah yg disebut Ulama Dan Wali Allah

Namun Terkadang Kita merasa sudah cukup dari Pemikiran Kita saja

Dan perlu diingat ketika seseorang bertawasul bukan berati ia seperti tdk berharap kepada Allah

Atau ada kalimat yg menyatakan terlalu melebihkan dengan perantara tawassul Baik dengan Atas nama Rasulullah saw Atau  wali Allah

Kita tetap bergantung kepada Allah Namun menyadari ada seseorang yg Allah cintai

Ditambah Jika Kita berdoa Langsung dengan banyaknya dosa serta kekurangan yg ada belum Tentu diterima Allah azza WA jalla

Dan tanpa sadar dalam keseharianpun Kita juga suka memakai perantara

Ketika Kita berobat ke dokter juga bukan berharap sembuh dari Dokter

Itu hanyalah wasilah saja..

Demikian ulasan yang bisa Saya berikan.

Semoga Allah Dan Rasulullah ridhoi

*KETIKA ALLAH MEMBUKA PINTU PERKENALAN*

إِذَا فَتَحَ لَـكَ وِجْهَةً مِنَ التَّعَرُّفِ فَلاَ تُبــَالِ مَعَهَا أِنْ قَلَّ عَمَلُكَ فَإِنَّـهُ مَا فَـتَـحَهَا لَكَ إِلاَّ وَهُوَ يُرِ يْدُ أَنْ يَـتَـعَرَّفَ إِلَيكَ. أَلَمْ تَـعْلَمْ أَنَّ الـتَّــعَرُّفَ هُوَ مُوْرِدُهُ عَلَيْكَ، وَاْلأَعْمَالُ أَنْتَ مُــهْدِ يْــهَا إِلَـيْهِ، وَأَيــْنَ مَا تُــهْدِ يْهِ إِلَـيْهِ مِمَّا هُـوَ مُوْرِدُهُ عَلَـيْكَ

"Ketika Dia membukakan bagimu (suatu) Wajah Pengenalan, maka jangan engkau sandingkan (hadirnya) pengenalan itu dengan sedikitnya amal-amalmu; karena sesungguhnya Dia tidak membukakan pengenalan itu bagimu kecuali (bahwa) Dia semata-mata menginginkan untuk memperkenalkan (Diri-Nya) kepadamu.
Tidakkah engkau mengetahui bahwa sesungguhnya (suatu) pengenalan itu (semata-mata) Dia yang menginginkannya atasmu, sedangkan amal-amal itu (semata-mata) suatu hadiah dari engkau kepada-Nya; maka tidaklah sebanding antara apa-apa yang engkau hadiahkan kepada-Nya dengan apa-apa yang Dia inginkan untukmu."

Syarah

Ada rahasia yang sangat halus dibalik kalimat-kalimat Ibnu Athaillah dalam pasal ini. Ibnu Athaillah bukan hendak mengatakan bahwa amaliah tidak berarti, karena itu adalah tanda kepatuhan kepada-Nya. Namun ada persoalan yang lebih besar dari itu yang harus dimiliki setiap pejalan suluk.

Ketika Allah membuka “Wajah Pengenalan”, maka yang Dia anugrahkan kepada seorang hamba adalah Diri-Nya, Eksistensi-Nya, bukan semata perbuatan-Nya, karunia-Nya, atau surga-Nya. Maka tidaklah sebanding ketika Allah menyerahkan seluruh Diri-Nya untuk dikenali, sementara seseorang hanya menyerahkan amal perbuatannya, bukan dirinya.

Adalah Nabi Muhammad SAW memberi nasihat kepada putrinya Fatimah r.a. untuk senantiasa berdoa pada setiap pagi dan petang:

يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْثُ! أَصْلِحْ لِي شَأْنِيَ كُلَّهُ، وَلاَ تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ

Wahai (Dzat) yang Maha Hidup dan Maha Berdiri! Dengan rahmat-Mu aku memohon pertolongan. Perbaikilah urusanku seluruhnya; dan jangan Engkau serahkan aku kepada diriku walau hanya sekejap mata. – H.R. Imam An-Nasai, Imam Al-Hakim.

Dalam hadits yang lain dikatakan:

اللَّهُمَّ رَحْمَتَكَ أَرْجُو، فَلاَ تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ، وَأَصْلِحْ لِي شَأْنِي كُلَّهُ، لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ

Ya Allah, hanya rahmat-Mu yang kuharapkan! Maka janganlah Engkau serahkan aku kepada diriku meski sekejap mata, dan perbaikilah urusanku seluruhnya. (Sungguh) tidak ada tuhan selain Engkau. – H.R. Imam Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Hibban.

Bahwa kebanyakan manusia mengandalkan urusannya kepada dirinya, kepintarannya, amal perbuatannya. Dan sangatlah sedikit manusia yang menginginkan berserah diri sepenuhnya kepada Allah. Sementara dalam Al-Quran dikatakan bahwa sebaik-baik agama seseorang adalah yang: aslama wajhahu (menyerahkan wajahnya), seluruh eksistensinya, seluruh jiwa-raganya, hidup dan matinya, hanya kepada Allah.
وَمَنْ أَحْسَنُ دِينًا مِّمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ وَاتَّبَعَ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا

Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang menyerahkan wajahnya kepada Allah, sedang diapun seorang yang ihsan dan mengikuti millah Ibrahim yang lurus?– Q.S. An-Nisa [4]: 125

Ma’rifat [mengenal] kepada Allah, itu adalah puncak keberuntungan seorang hamba, maka apabila Tuhan telah membukakan bagimu suatu jalan

*IQRO LEARNING CENTER*

Petunjuk Kebajikan Kepada Mahluk Di Dalam Perihal Memaknakan Rukun Rukun Islam

Bismillahirrahmannirrahim

Pasal 1

Bermula Wajib Atas Tiap Tiap Mukhalaf, yakni Aqil Baligh Bahwa Ia Menuntut Ilmu Segala Pekerjaan Agama Yang Wajib Atasnya. Demikian Pula Wajib Atas Seumpama Bapak Atau Suami Bahwa Ia Mengajar kan Yang Demikian Itu, Akan Anak Anaknya Atau Istrinya.

Adapun Jikalau Keduanya Itu, Tiada Boleh Mengajarkan Mereka Itu Maka Wajib Menyerahkan Kepada Yang Mengajar. Adapun Jikalau Yang Belajar Itu Perempuan, Maka Yang Mengajarkan nya pun Perempuan, Melainkan Jikalau Tiada Dapat Guru Perempuan Maka Laki Laki, Tetapi Syarat nya Aman Dari Pada Fitnah Lagi Wajib Pakai Dayang Dayang (Hijab/Penghalang) Antaranya.

Pasal 2

Artinya Baligh yaitu Cukup Umurnya Lima Belas Tahun Qomariyah Yaitu Dengan Itungan Bulan Bulan Islam. Sama Saja Anak Laki - Laki Atau Perempuan Demikian Pula Anak Perempuan Jika Dapat Haid Dari Umur Sembilan Tahun Atau Lebih Adanya. 


Pasal 3

Bermula Nikmat Tuhan Yang Amat besar Kepada Hambanya Yaitu lah Nikmat Islam dan Nikmat Iman Sebab Amalan Amalan Keduanya Itu Menjadi Lantaran Pada Masuk Surga Dan Selamat Dari Pada Api neraka. 




Minggu, 22 Juli 2018

Tetap Berdakwah

Perjuangan Ini Belum Selesai, selama Ruh ini Masih ada di dalam Jasad, maka teruslah Melangkah kedepan....

Memang Ujian, cobaan, dan Godaan Pasti Akan Menghampiri Bagi Mereka Yang Berjuang di Jalan Allah....

Shalawat Al Fatih

BERADAB DAN BERAKHLAQ KEPADA AHLUL BAIT PARA HABAIB

Aku ​SANTRI DURHAKA KEPADA GURU​

Dikisahkan belasan tahun lalu seorang santri yang sedang nyantri di Rubat Tarim yang saat itu diasuh Habib Abdulloh Assyatiri, dia dikenal sangat Alim hingga mampu menghafal kitab tuhfatul muhtaj 4 jilid. siapa tak kenal dia??
Semua tau bahwa ia sangat Alim bahkan diprediksi sebagai calon ulama besar.

Nah, Suatu hari disaat habib Abdulloh mengisi pengajian rutin santri, tiba tiba habib bertanya tentang santri yang sangat terkenal Alim itu. "Kemana si fulan???"
Semua santri bingung menjawab pertanyaan sang guru.

Ternyata santri yang dimaksud tidak ada di pondok melainkan keluar berniat mengisi pengajian di kota Mukalla tanpa izin.

Akhirnya habib Abdulloh Assyatiri yg sangat terkenal Allamah dan Waliyulloh berkata :

*"Baiklah orangnya boleh keluar tanpa izin, tapi ilmunya tetap di sini!!!".*

Di kota Mukalla, santri yang sudah terkenal Alim tersebut sudah di nanti nantikan para pecinta ilmu untuk mengisi pengajian di masjid omar Mukalla.
Singkat cerita si santri ini pun maju kedepan dan mulai membuka ceramahnya dengan salam dan muqaddimah pendek.

Allohu akbar !!! Ternyata, setelah membaca amma ba'du si Alim ini tak mampu berkata sama sekali, bahkan kitab paling kecil sekelas Safinah pun tak mampu ia ingat sedikitpun....
Sontak dia tertunduk dan menangis.. para hadirin pun heran,

"Ada apa ini???",, akhirnya Salah satu Ulama kota mukalla pun menghapirinya dan bertanya;
"Saudara mengapa begini??? Apa yang saudara lakukan sebelumnya?".

Dia menjawab :
"Aku keluar tanpa izin habib dari pesantren."
Dia terus menangis , dan beberapa orang menyarankan agar ia meminta maaf kepada Habib..

Parahnya dia dengan sombong tidak mau meminta maaf!!.
Kesombongannya ini membuat semua orang menjauhinya, dan tidak ada satupun yang perduli padanya, bahkan hidupnya setelah itu sangat miskin dan terlunta lunta dengan menjual daging ikan kering.
Dan di saat ia meninggal, ia mati dalam keadaan miskin bahkan kain kafannya pun tak mampu dibeli dan akhirnya Su'ul Khotimah.

Na'udzubillahi Min Dzalik.

Wallahu'alam

Semoga kita diwafatkan dalam keada'an husnul khatimah dan mampu mengucapkan" لااله الا الله "

*_Saat Rabithah guru dan murid terbangun inilah yg terjadi_*

ada sahabat kami langsung yg ia beberapa waktu lalai dengan dzikir thoriqoh ya...

dan yang terjadi Syekh Thoriqoh y datang dalam.mimpi dan memarahinya

begitujuga istri dari guru kami Abah Kyai Yunus

saat ia seorang hafidzoh lalai murojaah krn lelah banyak aktivitas...

ia didatangi oleh ayahnya dalam mimpi dan menegurnya...

*Inilah Rabithah yg terbangun*

*maka sedihlah jika dirimu sudah jarang bertemu guru di alam dzohir ditambah di alam bathin gurumu tak pernah berjumpa denganmu*

sebagaimana ada kisah seorang wanita yg menangis krn sdh 3 hari tdk bertemu Rasulullah saw dalam mimpi

Pintu Syariat terletak pada para Ulama dimana berbagai limpahan ilmu syariat akan mengalir

saat didepan mereka kita terlalu banyak bicara maka akan sedikit ilmu yg akan diperoleh dari para Ulama..

proses penjagaan Ulama kepada santrinya lewat majelis2 ilmu yg diajarkan terutama dengan metode talaqqi hingga pemberian ijazah ilmu...

Proses pelajaran bisa dirasakan langsung oleh kita

maka saat kita sdh lamatdk hadir ke majels ilmu dan dibiarkan oleh para guru saat kita lama tdk datang ke majelis

maka berhati2lah hubunganmu dengan mereka sdh emakin menjauh

Sementara

Auliya ialah Gerbang Ilmu Makrifatullah Wa Makrifaturrasul

Dimana Hati ialah adalah kunci dari ilmu tsb...

betapa banyak org yg peroleh ilmu laduni tanpa melalui proses belajar formal dikarenakan hati mereka yg kuat Rabithah dengan sang aulia

namun saat aulia itu di kecewakan jangan heran ilmu laduni atau berkah yg kita rasa akan bermasalah

proses penjagaan Auliya terutama lewat alam bathin seperti mimpi

bahkan bisa lebih halus di alam bathinul bathin

pelajaran yg diberikan auliya ada yg dirasakan lgs dan ada jg yg tdk kita rasakan langsung

saat kita sdh lama tdk bermimpi guru2 auliya kita maka bisa jadi hubungan hatimu sdh mulai menjauh

sebagaimana kisah yg di group diskusi...

apalagi jika Ulama Wal Auliya maka lisan dan hati perlu dijaga...

bila hubungan dengan ulama dan auliya sdh semakin menjauh

maka siapa lg yg akan mengantarkanmu kepada Allah dan Rasulullah saw.

Jumat, 20 Juli 2018

Risalah 3

Ada sebagian sahabat bertanya...

_Kenapa ya saya sudah ikut kajian kemana2 tapi hati masih gelisah?_🤔

Dan ternyata yang alami ini bukan hanya satu atau dua orang saja.

Bisa jadi diantara kita sudah sering ikut kajian dimanapun tetapi kita melupakan apa yg di butuhkan oleh diri kita.

Sebagaimana di Risalah ke 2 saya sampaikan manusia  memiliki 3 Komponen yaitu :

- Jasadiyah
- Fikriyah
- Ruhiyah

Setiap komponen di atas membutuhkan asupan untuk meningkatkan kemampuannya...

Komponen jasadiyah di latih dengan Shaum,Olahraga Dan Makan yang halalan Thoyyiban

Komponen Fikriyah dibina dengan ikut belajar kajian berbagai Ilmu Pengetahuan Umum Maupun Agama.

Kebanyakan sahabat menyadari saat mereka datang ke kajian2 agama maka itu sudah lebih dari cukup.

Padahal Komponen Ruhiyah ditingkatkannya tdk bisa dengan pola pembelajaran Fikriyah..

Sebagaimana ada seorang guru sampaikan kepada muridnya agar bersabar dalam hadapi ujian..

Muridnyapun bingung karena sudah merasa bersabar namun hatinya masih belum bisa tenang atau ikhlas atas apa yg dialaminya.

Karena perkara sabar bukan hanya sekedar kata2 saja..

Sebagaimana saya pernah sampaikan ke team dakwah SWAT IQRO

*_Ilmu itu tidak hanya dipelajari namun harus dirasakan_*

sebagaimana Nabi Ibrahim as pernah alami sebuah kisah untuk meningkatkan kekuatan iman kepada Allah

Surat Al-Baqarah Ayat 260

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ أَرِنِي كَيْفَ تُحْيِي الْمَوْتَىٰ ۖ قَالَ أَوَلَمْ تُؤْمِنْ ۖ قَالَ بَلَىٰ وَلَٰكِنْ لِيَطْمَئِنَّ قَلْبِي ۖ قَالَ فَخُذْ أَرْبَعَةً مِنَ الطَّيْرِ فَصُرْهُنَّ إِلَيْكَ ثُمَّ اجْعَلْ عَلَىٰ كُلِّ جَبَلٍ مِنْهُنَّ جُزْءًا ثُمَّ ادْعُهُنَّ يَأْتِينَكَ سَعْيًا ۚ وَاعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

_Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata: "Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang mati"._

_Allah berfirman: "Belum yakinkah kamu?"_

_Ibrahim menjawab: "Aku telah meyakinkannya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap_

_Allah berfirman: "(Kalau demikian) ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah semuanya olehmu._

_(Allah berfirman): "Lalu letakkan diatas tiap-tiap satu bukit satu bagian dari bagian-bagian itu, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera". Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana._

Ayat di atas menjelaskan bahwa peningkatan Ruhiyah diperlukan sebuah proses belajar yg berbeda saat belajar dengan proses fikriyah.

Proses belajar fikriyah Nabi Ibrahim as telah di lalui lebih dahulu dengan kisah yg dijelaskan dalam ayat ini..

Surat Al-An'am Ayat 76

فَلَمَّا جَنَّ عَلَيْهِ اللَّيْلُ رَأَىٰ كَوْكَبًا ۖ قَالَ هَٰذَا رَبِّي ۖ فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لَا أُحِبُّ الْآفِلِينَ

_Ketika malam telah gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: "Inilah Tuhanku", tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: "Saya tidak suka kepada yang tenggelam"._

Surat Al-An'am Ayat 77

فَلَمَّا رَأَى الْقَمَرَ بَازِغًا قَالَ هَٰذَا رَبِّي ۖ فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لَئِنْ لَمْ يَهْدِنِي رَبِّي لَأَكُونَنَّ مِنَ الْقَوْمِ الضَّالِّينَ

_Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: "Inilah Tuhanku". Tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata: "Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang yang sesat"._

Surat Al-An'am Ayat 78

فَلَمَّا رَأَى الشَّمْسَ بَازِغَةً قَالَ هَٰذَا رَبِّي هَٰذَا أَكْبَرُ ۖ فَلَمَّا أَفَلَتْ قَالَ يَا قَوْمِ إِنِّي بَرِيءٌ مِمَّا تُشْرِكُونَ

_Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, dia berkata: "Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar". Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata: "Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan._

Surat Al-An'am Ayat 79

إِنِّي وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا ۖ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ

_Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan._

*_Dimana seseorang saat dalam tarbiyah fikriyah lebih banyak menggunakan dengan kemampuan Analisa Logika_*

*_Dan saat memasuki tarbiyah ruhiyah maka ia harus belajar lebih daripada logikanya saja_*

*_Dan untuk memasuki Tarbiyah Ruhiyah membutuhkan guru yg memiliki sanad ilmu dan amalan yang sampai kepada Rasulullah saw_*

jangan sampai kita sibuk belajar kajian ke berbagai tempat namun tidak memahami apa yg sedang kita cari.

ada sebuah kisah yg menarik...

Suatu ketika ada seorang Nelayan dan Anak Muda  yang pintar dengan gelar S3 yg dimilikinya.

Mereka pergi ke suatu tempat dengan memakai perahu🛶🛶

Sambil menuju tempat perahu dilabuhkan mereka berdialog

Sang pemuda bertanya kepada bapak nelayan

_Bapak terakhir sekolah apa?_🤔🤔

_Bapak ndk sekolah nak. dari kecil langsung jadi nelayan bersama ortu_
☺☺

_Wah bapak rugi banget ndk pernah sekolah. padahal zaman sekarang dibutuhkan ilmu berbagai hal termasuk jd nelayan_
😎📕📕📕

bapak nelayan hanya terdiam senyum☺

Hingga akhirnya mereka naik perahu menuju tengah lautan untuk melakukan penelitian.

Tiba2 anak muda tadi terjatuh ke tengah laut dan meminta tolong kpd bapak nelayan😱😱

Namun nelayan tersebut hanya berkata :

_Sekarang dengan ilmu yg banyak kau pelajari selamatkan dirimu_

_saya memang tidak pandai dalam banyak hal namun saya tahu ilmu apa yg terpenting dan tetap akhirnya bapak nelayan menolong sang pemuda yang telah dapat pelajaran_

*Jangan sampai kita sudah merasa banyak ilmu padahal belum mencapai ilmu yg lebih mendalam lagi*

_Buya Muhammad Reza_

Rabu, 18 Juli 2018

Risalah 2

Manusia diberikan oleh Allah kesempurnaan di bandingkan mahluk lain.

Surat At-Tin Ayat 4

لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ

_sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya._

Kesempurnaan tersebut di dukung dengan tiga komponen  tubu yaitu :

Jasadiyah
Fikriyah
Ruhiyah

Ditambah lagi dengan adanya SK tugas yang Allah berikan

Surat Al-Baqarah Ayat 30

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ

 Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi

Dengan kesempurnaan komponen yg Allah berikan dan adanya SK sebagai Kholifah

Maka sejatinya manusia bukanlah mahluk yg biasa2 saja.

Faktanya...

Manusia belum mampu mengenali akan dirinya...

Manusia belum mampu menyadari siapa dirinya di bumi ini

Tanpa sadar terjebak dengan kehidupan dunia yang fana dan penuh jebakan.

Surat Al-Mu’minun Ayat 115

أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ

_Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?_

Saat manusia memiliki masalah kehidupan...

Fokusnya ia mencari solusi temporer bukan permanent

Ia sibuk mencari solusi atas masalahnya

daripada mencari pesan Allah dalam setiap kejadian.

Wajar akhirnya hatinya tak tenang dan dibutakan dunia ini..

untuk itulah wajib bagi kita mengetahui siapa kita sebenarnya...

ُمَنْ عَرَفَ نَفْسَهُ فَقَدْ عَرَفَ رَبَّه

_artinya Barang siapa yang mengenal dirinya, sungguh ia telah mengenal Tuhannya.”_

Bagaimana mungkin manusia akan mengenal Allah azza wa jalla..

jika dirinya sendiri saja ia tak mengetahui...

dan yang dikhawatirkan manusia akan menjadi apa yang pernah di katakan buya hamka

_Jika hidup sekedar hidup_

_babi dihutan juga hidup_

_jika hidup sekedar bekerja_

_kera juga bekerja_

untuk itu wahai sahabatku...

Bangunlah Malam untuk Tahajud..

Selepas itu tanyakan kepada dirimu...

*_Siapakah engkau sebenarnya di dunia ini_*

*_Apa yang kau cari di dunia ini_*

_Buya Muhammad Reza_

Risalah 1


Manusia sejatinya memiliki problematika kehidupan siapapun manusia itu termasuk para Rasul dan Nabi

Hanya tingkatan ujian yang membedakan antara satu dengan yg lainnya

Dari Mush’ab bin Sa’id -seorang tabi’in- dari ayahnya, ia berkata,

يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلاَءً

“Wahai Rasulullah, manusia manakah yang paling berat ujiannya?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

« الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلاَؤُهُ وَإِنْ كَانَ فِى دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِىَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَمَا يَبْرَحُ الْبَلاَءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِى عَلَى الأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ »

_“Para Nabi, kemudian yang semisalnya dan semisalnya lagi. Seseorang akan diuji sesuai dengan kondisi agamanya. Apabila agamanya begitu kuat (kokoh), maka semakin berat pula ujiannya. Apabila agamanya lemah, maka ia akan diuji sesuai dengan kualitas agamanya. Seorang hamba senantiasa akan mendapatkan cobaan hingga dia berjalan di muka bumi dalam keadaan bersih dari dosa.”_

 (HR Tirmidzi)

Namun seringkali kita tdk mampu menangkap pesan yang Allah berikan dalam setiap ujian

dan kita hanya terfokus pada solusi atas ujian...

bermasalah dengan kesehatan...

yang dicari gimana supaya bisa sehat...

bermasalah dengan keuangan...

yang dicari gimana dapat uang yang cukup...

*akhirnya tanpa sadar kita disibukkan mencari solusi bukan mencari Allah*

jika yang dicari solusi maka mau cara apapun yang penting dapat...

sekalipun solusi yang diperoleh tidak Allah ridhoi...

karena sungguh bagi seorang yang benar2 yakin kepada Allah....

tidak mungkin Allah akan membiarkan hamba-Nya dalam kesulitan hidup

Surat Ali 'Imran Ayat 182

ذَٰلِكَ بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيكُمْ وَأَنَّ اللَّهَ لَيْسَ بِظَلَّامٍ لِلْعَبِيدِ

_(Azab) yang demikian itu adalah disebabkan perbuatan tanganmu sendiri, dan bahwasanya Allah sekali-kali tidak menganiaya hamba-hamba-Nya._

*pertanyaannya ialah sudahkah kita benar diakui sebagai hamba-Nya atau belum*

jika benar dirimu merasa sudah menjadi hamba..

maka apapun yang ditakdirkan oleh-Nya takkan ada kesedihan bagi hatimu..

Surat Al-Baqarah Ayat 112

بَلَىٰ مَنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَلَهُ أَجْرُهُ عِنْدَ رَبِّهِ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

_(Tidak demikian) bahkan barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati._

*selama hati ini masih ragu kepada-Nya atas apa yang ditakdirkan-Nya maka belum sempurna kehambaan kepada Allah azza wa jalla*


_Buya Muhammad Reza_

Jumat, 13 Juli 2018

Perhitungan Terhadap Allah

Ini yang membuat bani israel dibenci oleh Allah swt...

Pasca kaum bani israel lari dari kejaran firaun dan melewati Laut Merah yg terbelah..

Maka mereka mencari Negeri Yang Dijanjikan untuk mereka tetapi mereka tidak bisa memasukinya hingga baru bisa 40 tahun kemudian masuk dan 2000 tahun kemudian menguasai negeri itu...

Apa ya penyebabnya..

Kita simak kalam Allah Surat Al Maidah ayat 21 sampai 26

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

. يَا قَوْمِ ادْخُلُوا الأرْضَ الْمُقَدَّسَةَ الَّتِي كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ وَلا تَرْتَدُّوا عَلَى أَدْبَارِكُمْ فَتَنْقَلِبُوا خَاسِرِينَ

Hai kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu lari ke belakang (karena takut kepada musuh), maka kamu menjadi orang-orang yang merugi.

. قَالُوا يَا مُوسَى إِنَّ فِيهَا قَوْمًا جَبَّارِينَ وَإِنَّا لَنْ نَدْخُلَهَا حَتَّى يَخْرُجُوا مِنْهَا فَإِنْ يَخْرُجُوا مِنْهَا فَإِنَّا دَاخِلُونَ

Mereka berkata:

"Hai Musa, sesungguhnya dalam negeri itu ada orang-orang yang gagah perkasa, sesungguhnya *kami sekali-kali tidak akan memasukinya sebelum mereka ke luar daripadanya.* Jika mereka ke luar daripadanya, pasti kami akan memasukinya."

23. قَالَ رَجُلانِ مِنَ الَّذِينَ يَخَافُونَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمَا ادْخُلُوا عَلَيْهِمُ الْبَابَ فَإِذَا دَخَلْتُمُوهُ فَإِنَّكُمْ غَالِبُونَ وَعَلَى اللَّهِ فَتَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

Berkatalah dua orang di antara *orang-orang yang takut (kepada Allah)* yang Allah telah memberi nikmat atas keduanya:

"Serbulah mereka dengan melalui pintu gerbang (kota) itu, maka bila kamu memasukinya niscaya kamu akan menang.

Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakal, jika kamu benar-benar orang yang beriman".

24. قَالُوا يَا مُوسَى إِنَّا لَنْ نَدْخُلَهَا أَبَدًا مَا دَامُوا فِيهَا فَاذْهَبْ أَنْتَ وَرَبُّكَ فَقَاتِلا إِنَّا هَا هُنَا قَاعِدُونَ

Mereka berkata:

"Hai Musa, kami sekali-sekali tidak akan memasukinya selama-lamanya, selagi mereka ada di dalamnya, karena itu *pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua,* sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja."

25. قَالَ رَبِّ إِنِّي لا أَمْلِكُ إِلا نَفْسِي وَأَخِي فَافْرُقْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ الْقَوْمِ الْفَاسِقِينَ

Berkata Musa:

"Ya Tuhanku, aku tidak menguasai kecuali diriku sendiri dan saudaraku. Sebab itu *pisahkanlah antara kami dengan orang-orang yang fasik itu"*

26. قَالَ فَإِنَّهَا مُحَرَّمَةٌ عَلَيْهِمْ أَرْبَعِينَ سَنَةً يَتِيهُونَ فِي الأرْضِ فَلا تَأْسَ عَلَى الْقَوْمِ الْفَاسِقِينَ

Allah berfirman:

"(Jika demikian), maka sesungguhnya negeri itu diharamkan atas mereka selama empat puluh tahun, (selama itu) mereka akan berputar-putar kebingungan di bumi (padang Tiih) itu.

Maka janganlah kamu bersedih hati (memikirkan nasib) orang-orang yang fasik itu."

Bani Israel memang terkenal sontoloyo alias banyak aja tingkah yg buat menyeleneh, hingga Allah kirim banyak utusan kepada-Nya.

Perhatikan kalimat2 yg saya tebalkan di atas...

Setelah mereka rasakan pertolongan Allah dgn diberikan mukjizat untuk Nabi Musa membelah Laut Merah yg Besar dan Dalam.

*Mereka masih merasakan ketakutan kepada selain Allah dan tidak taat kepada gurunya merasa paling pintar*

Hingga akhirnya Allah putuskan mereka 40 tahun berkelana di padang pasir dan baru bisa menguasai Palestina  2000 tahun kemudian.

Adakah kita masih takut kepada selain Allah...

Salah satu ketakutan yg sering kita masih nikmati ialah saat syetan membisikan kemiskinan

ٱلشَّيْطَٰنُ يَعِدُكُمُ ٱلْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُم بِٱلْفَحْشَآءِ وَٱللَّهُ يَعِدُكُم مَّغْفِرَةً مِّنْهُ وَفَضْلًا وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٌ

_Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir)_

_Sedang Allah menjanjikn untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui._

(Al Baqarah ayat 268)

kita bekerja dan berbisnis lebih keras dengan alasan banyak kebutuhan yg belum tercukupi

Kita merasa bisnis dan berkerja tdk berhasil tdk mencapai penghasilan yg diinginkan...

Maka disaat itulah syetan berhasil menakuti kita dengan kemiskinan...

Dan kita akan selalu diperbudak dengan ketakutan2 tadi....

Jika memang kita berkerja atau berbisnis untuk mencari ridho Allah

Mau naik jabatan atau tidak di kantor...

Mau tercapai Closingan Bisnis atau tidak...

Hatinya tetap berharap semoga Allah ridho dengan aktivitasnya...

Karena jika Allah ridho, bisa jadi akan ada jalan rezeki yang ia tak sangka duga2...

KH Didin Hafidudin Ulama Zakat Nasional pernah berkata :

*jika kamu masih bisa perhitungkan kamu dapat rezeki darimana  bisa jadi iman kamu masih standar*

*namun jika kamu sering dapat kejutan rezeki dari Allah dan hanya fokus berusaha mencari ridho Allah itulah iman sebenarnya*

_Buya Muhammad Reza_

RABITHAH

Ikatan hati yg kokoh  mengantarkan sang murid untuk sampai kepada Allah

ikatan hati tidak hanya diihat dari sekedar komunikasi antar guru dan murid..

namun terlihat dari dua hal ...

sami´na wa atho´na dan pengorbanan...

sebagaimana saya sampaika tadi pagi...

jika kepada guru yg tampak oleh mata saja tak mampu ditaati

bagaimana ingin mentaati kepada Allah dan Rasulullah yg blm pernah kita temui...

ikatan hati akan berbuah pada tarbiyah guru dalam kehidupan

bukan hanya tarbiyah dalam alam dzohir saja namun juga tarbiyah secara batiniah...

hasil tarbiyah akan terlihat dengan sendiriny jika murid berhasil patuh kepada guru baik itu disukai atau tidak...

tak semua murid mampu memahami tarbiyah sang guru..

jika hatinya masih tidak mau berserah atas didikan gurunya

wajar akhirnya ia tdk memiliki arah yg jelas dalam proses pendidikan

sekalipun murid dekat dengan guru belum tentu jaminan keberhasilan tarbiyah

ingatkah...

istri dan anak Nabi Nuh dan Luth gagal dalam tarbiyah nubuwah

padahal mereka adalah orang terdekat utusan-Nya

ingatkah...

bagaimana bani israel sekalipun sudah melihat kebesaran mukjizat Nabi Musa as

namun mereka tetap tidak bisa peroleh tarbiyah sempurna

dikarenakan mereka yg tak berserah diri kepada sang guru musa as....

ingatkah...

bagaimana kisah Musa dan Khidir yg hanya sesaat bersama

dikarenakan murid (musa) tdk sami´na wa atho´na atas tindakan sang guru(khidir)

Tarbiyah Ruhiyah adalah kunci penjaga hati...

banyak orang yg mengaji namun tidak ada perubahan lebih baik...

karena mereka belum memasuki tahapan tarbiyah ruhiyah..

Tarbiyah Ruhiyah secara sempurna hanya bisa dilakukan Rasulullah saw

dan didelegasikan kepada para pewarisnya...

Kamis, 12 Juli 2018

Perempuan

اَلْأُنْثَى: كَالْقَهْوَةِ، إِذَا أَهْمَلْتَهَا أَصْبَحَتْ بَارِدَةً، حَتَّى فِيْ مَشَاعِرِهَا
Perempuan itu seperti kopi, jika engkau abaikan, ia menjadi dingin, sampai dalam hal cita rasanya.

عِنْدَمَا تَصْمُتُ الْأُنْثَى أَمَامَ مَنْ تُحِبُّ، تَأْتِي الْكَلِمَاتُ عَلَى هَيْئَةِ دُمُوْعٍ
Saat perempuan diam di depan orang yang ia cintai, maka muncullah banyak kata dalam bentuk air mata.

اَلْأُنْثَى: فِي الْبِدَايَةِ تَخَافُ أَنْ تَقْتَرِبَ مِنْكَ، وَفِي النِّهَايَةِ تَبْكِيْ حِيْنَ تَبْتَعِدُ عَنْهَا، قَلِيْلٌ مَنْ يَفْهَمُهَا
Perempuan itu, pada mulanya takut untuk mendekatimu, namun pada akhirnya, ia menangis saat engkau menjauh darinya .. sedikit sekali orang yang memahaminya.

اَلْأُنْثَى: لَا تُرِيْدَ مِنْكَ الْمُسْتَحِيْلَ، هِيَ فَقَطْ تُرِيْدُكَ أَنْ تَكُوْنَ مِثْلَ الرَّجُلِ الَّذِيْ تَتَمَنَّاهُ أَنْتَ لِشَقِيْقَتِكَ
Perempuan itu tidak menginginkan kemustahilan darimu, dia hanya menginginkan agar engkau seperti lelaki yang engkau bayangkan tentang saudari kandungnya.

اَلْأُنْثَى: إِمَّا كَيْدٌ عَظِيْمٌ، أَوْ حُبٌّ عَظِيْمٌ! وَأَنْتَ مَنْ يُحَدِّدُ أَيُّهَا الرَّجُلَ، فَإِنْ مَكَرْتَ بِهَا مَكَرَتْ بِكَ، وَإِنْ أَحْبَبْتَهَا عَشِقَتْكَ
Perempuan itu tipu daya besar atau cinta agung, dan engkau lah yang menentukannya wahai lelaki..jika engkau membuat makar atasnya, diapun membuat makar kepadamu, dan jika engkau mencintainya, ia pun kasmaran terhadapmu.

بِقَدْرِ مَا تُحِبُّ الْأُنْثَى هِيَ تَغَارُ، لِذَا أَيُّ أُنْثَى تَجُنُّ غِيْرَةً، هِيَ تَجُنُّ حُبًّا
Sesuai dengan tingkat cintamu kepada perempuan, seperti itulah ia cemburu, karenanya, apa saja yang membuat perempuan menjadi gila karena cemburu, itu juga yang membuatnya gila karena cinta.

اَلْأُنْثَى: تُدَاوِيْ وَهِيَ مَحْمُوْمَةٌ، وَتُوَاسِيْ وَهِيَ مَهْمُوْمَةٌ، وَتَسْهَرُ وَهِيَ مُتْعَبَةٌ، وَتَحْزَنُ مَعَ مَنْ لَا تَعْرِفُ
Perempuan itu mengobati, padahal dia sedang demam, membantu, padahal dia susah, begadang, padahal lelah, dan..berduka terhadap seseorang yang tidak dikenalnya.

اَلْأُنْثَى : تُحِبُّ أَنْ تُعَامَلَ كَطِفْلَةٍ دَائِماً مَهْمَا كَبُرَتْ
Perempuan itu selalu ingin diperlakukan seperti bocah kecil, betapapun ia menua.

لَا تَطْرُقْ بَابَ قَلْبِ الْأُنْثَى، وَأَنْتَ لَا تَحْمِلُ مَعَكَ حَقَائِبَ الِاهْتِمَامِ
Jangan berani-berani mengetuk pintu hati perempuan jika engkau tidak membawa berkoper-koper perhatian.

عِنْدَمَا تَغَارُ الْأُنْثَى: اُرْسُمْ قُبْلَةً عَلَى يَدَيْهَا، دَعْهَا تَشْعُرُ بِأَنَّها نِعْمَةٌ مِنَ اللهِ لَدَيْكَ
Saat perempuan cemburu, buatlah lukisan ciumanmu pada kedua tangannya, biarkan dia merasakan bahwa dia merupakan kenikmatan Allah SWT yang sangat besar bagimu.

اَلْأُنْثَى اَلْهَادِئَةُ، اَلنَّاعِمَةُ، أكْثَرُ ضَجِيْجًا بِقَلْبِ الرَّجُلِ
Perempuan, yang tenang, nan lembut, ternyata pembuat kebisingan terbesar pada hati lelaki.
اَلْأُنْثَى: وَإِنْ قَسَتْ؛ فَإِنَّهَا لَا تَخْلُوْ مِنْ مَشَاعِرِ الْعَطْفِ، وَالرَّأْفَةِ
Perempuan itu, meskipun keras hati, sebenarnya tidak pernah kosong dari rasa simpati dan kasih sayang.

لَا يَحْتَمِلُ جُنُوْنَ الْأُنْثَى وَغِيْرَتَهَا، إِلَّا رَجُلٌ أَحَبَّهَا بِصِدْقٍ
Tidak ada yang mampu menanggung kegilaan perempuan dan kecemburuannya, kecuali lelaki yang mencintainya dengan sebenarnya.

لَيْسَ عيَباً أنَ يَتَعَلَّمَ الرَّجُلُ مِنْ قَلْبِ الْأُنْثَى شَيْئا يَجْعَلُهُ أكَثرَ إِنْسَانِيَّةً وَرِقَّةً
Tidak aib jika lelaki mau belajar dari hati perempuan sesuatu yang menjadikannya semakin manusiawi dan semakin lembut.

اَلْأنثىْ : تَخشىْ الخيانْة ، وَالفقدانْ ، وَالغيابْ ، ولا تسَتطيع بسهولة نسيانْ غائبْ أحَبته ، تظل تراقِبه منْ بعد
Perempuan itu takut dikhianati, takut kehilangan, takut tiada, dan tidak mudah melupakan seorang yang tiada yang dicintainya, ia terus menerus mengawasinya dari jauh.

للأنثى : أن تربي طفلاً بلا أب ، لكن لا يمكن للرجل أن يربي طفلاً بلا أمهنا روعه الأنثى
Mungkin perempuan mengasuh anak tanpa seorang ayah, tetapi, tidak mungkin lelaki mengasuh anak tanpa ibu. Di sinilah terletak keindahan perempuan.

مَتى مآ كُنت 'رجُل' تكُن لك «امرأة
Jikalau kamu benar-benar lelaki, pasti punya perempuan.

مَتى مآ كُنت 'ذكَر' تكُن لك «أنثى
Jikalau engkau jantan, pasti punya betina.

مَتى مآ كُنت 'ملِك' تكُن لك «أميرة
Kapan engkau menjadi raja, pasti ada ratu.

مَتى مآ كُنت 'عاشِق' تكُن لك «متيمة
Kapan engkau kasmaran, pasti perempuan itu seperti seorang yang kehilangan anak.

فلا تكُن 'لاشيء' وتُريدهآ أن تكون «كل شيء
Jangan sampai engkau tanpa apa-apa sementara engkau menginginkan perempuan segala-galanya.

عندمآ تُنفخ فيك الروح تكون في بطن امرأة
Ingatlah, saat ruh ditiupkan kepadamu, engkau ada di rahim perempuan.

عندما تبكي، تكون في حضن امرأة
Saat engkau menangis, engkau ada di pangkuan perempuan.

وعندما تعشق، تكون في قلب امرأة
Saat engkau kasmaran, engkau ada di hati perempuan.

رفقاً بهآ .. فالاُنثى أمانة ،، مآ خُلِقَت لﻹهانة
Karenanya, perlakukan perempuan dengan penuh kelembutan.
Perempuan itu dicipta sebagai amanah

Kamis, 05 Juli 2018

Mungkinkah Kita Bertemu Rasulullah Saw Secara Sadar


Masih di bulan yang penuh kemuliaan ini,bulan dimana Baginda Rasulullah saw dilahirkan.

Kali ini saya ingin membahas sedikit apa mungkin kita bertemu Rasulullah saw secara sadar bukan hanya dalam mimpi...

*Jawabannyaa sangat mungkin Dan bukan perkara yang mustahil*

Para Syuhada’ hidup di alam barzah.

  ولاتقولوا لمن يقتل في سبيل الله أموات، بل أحياء ولكن لا تشعرون. (البقرة: 154) 

  “Dan janganlah kamu mengatakan kepada orang orang yang gugur di jalan Allah itu mati, bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya”. 

(QS. Al Baqarah: 154).

   ولا تحسبن الذين قتلوا في سبيل الله امواتا، بل احياء عند ربهم يرزقون. (ال عمران: 169)

  “Janganlah kamu mengira orang orang yang gugur di jalan Allah itu mati, bahkan mereka hidup disisi Tuhan mereka dengan mendapat rezeki”.
(QS: Ali Imran: 169).  

*Jika para syuhada’ hidup di alam barzah, apakah para Nabi yang menjadi pemimpin para syuhada’ mati tanpa ada khususiyahnya sebagaimana manusia pada umumnya*

Kehidupan Rasulullah SAW. dan para nabi lainnya di alam barzah.

  وعن أوس بن أوس رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:”إن من أفضل أيامكم يوم الجمعة، فأكثروا علي من الصلاة فيه، فإن صلاتكم معروضة علي”فقالوا:يارسول الله، وكيف تعرض صلاتنا عليك وقد أرمت؟. قال: يقول: بليت ،قال “إن الله حرم على الارض أجساد الانبياء” (رواه ابو داود) 

Diriwayatkan oleh Aus bin Aus RA :

Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya hari yang paling utama bagimu adalah hari Jum’at. Maka perbanyaklah membaca shalawat untukku didalamnya. Sesungguhnya shalawat kalian disampaikan kepadaku”.

Para sahabat bertanya :

Ya Rasulallah, Bagaimanakah shalawat kami disampaikan kepada Tuan, padahal Tuan sudah berkalang tanah?…

Rasulullah SAW menjawab:
“Sesungguhnya Allah SWT mengharamkan bagi tanah untuk makan jasad para Nabi” ( HR. Abu Daud ).

  وعن أبي هريرة  رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “مامن أحد يسلم علي الا رد الله علي روحي حتى أرد عليه السلام، (رواه ابو داود باسناد صحيح) 

Diriwayatkan oleh Abi Hurairah RA.

Rasulullah SAW bersabda: “Tak seorangpun yang bershalawat kepadaku, kecuali Allah mengembalikan ruhku kepada (jasad)ku, sehingga
aku menjawab salamnya”.

(HR. Abu Daud dengan sanad shahih).  

Bertemu Rasulullah SAW dalam keadaan sadar adalah salah satu kekaramatan para wali Allah, termasuk juga bagian dari mu’jizat bagi Rasulullah SAW yang berlaku bukan hanya ketika beliau masih hidup,setelah wafatpun tetap jalan, diantaranya adalah Al Qur’an. Dimana kita selaku muslim menyakini adanya mukjizat bagi para Nabi serta

Karamah bagi para Wali.   Kalau fenomena ini kita kaji
dengan akal sesehat dan secerdas apapun jelas tidak akan terjangkau. Karena memang sudah bukan ruang lingkup cakupan akal yang sangat terbatas kemampuannya. Persoalan utamanya disinibukan tidak masuk akal  tapi tidak terjangkau oleh akal.

Yang bisa jangkau hanyalah pandangan hati yang sangat bersih, bening dan penuh dengan iman.  Bukti lain bahwa Rasulullah SAW tetap berkomunikasi dengan sahabatnya setelah beliau wafat adalah paparan Saykhul Islam Al Imam Fahrur Razi dalam menafsiri S. Al Kahfi berkata :

“Adapun S. Abu Bakar Al Shiddiq ra. maka sebagian karomahnya ialah, bahwa setelah janazahnya dibawa menuju pintu kuburan Nabi SAW dan disampaikan ucapan : السلام عليك يارسول الله هذا أبو بكر بالباب “Salam sejahtera untukmu ya Rasulullah, ini Abu Bakar di pintu”.   

Maka tiba tiba pintu terbuka dengan sendirinya dan ada hatif ( suara tanpa diketahui orangnya ) berkumandang dari arah kubur Rasulullah SAW. أدخلوا الحبيب إلى الحبيب “Masuklah kekasih pada (tempat) kekasih“ .

 Berkata Syeikh Jalaluddin Al Suyuthi dalam kitabnya “Anbaaul Adzkiya’ Hayaatul Anbiya’”. 

“ Nabi SAW hidup di dalam kuburnya, begitu juga para Nabi lainnya ‘alaihimus shalatu was salam. Adalah suatu hal yang kami ketahui dan yakini berdasarkan dalil hadits yang mutawattir”. 

Adapun hadits yang menguatkan pendapat ini adalah :

  عن انس رضي الله عنه: “أن النبي صلى الله عليه وسلم مر بقبر موسى عليه السلام فإذا هو حيى فى قبره يصلى قائما” ومنذلكالحديث “الأنبياء أحياء في قبورهم يصلون” ( رواه مسلم )

 Diriwayatkan oleh Anas ra.: “Sesungguhnya Rasulullah SAW lewat di kuburan Nabi Musa AS. (pada malam Isra’ dan Mi’raj ), Dia hidup di kuburannya sedang berdiri dalam shalat”. dan dari hadits ini pula, “Para Nabi hidup di kuburnya dan melaksanakan shalat”.

( HR. Muslim )  

*/berapa abad jarak wafatnya Nabi Musa dengan kehidupan Nabi muhammad SAW?….*

Lebih jelas lagi, kehidupan para Nabi dan Rasul di alam barzah banyak dijelaskan dalam hadits – hadits tentang Isra’ wal Mi’raj Rasulullah SAW.    

Firman Allah SWT:  

 أَلآ إِنَّ أَوْلِيَآءَ اللهِ لاَخَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَهُمْ يَحْزَنُونَ(62) اَلَّذِيْنَ أَمَنُوْا وَكَانُوْا يَتَّقُونَ (63) لَهُمُ البُشْرَى فِى الحَيَوةِ الدُّنْيَا وَفِى الأَخِرَةِ، لاَتَبْدِيْلَ لِكَلِمَاتِ اللهِ، ذَلِكَ هُوَ الفَوْزُ العَظِيْمِ.(64)(يونس: 62-64)   “Ingatlah !, Sesungguhnya para wali Allah itu adalah mereka yang tidak merasa takut (akan kematian) dan mereka tidak bersedih hati (karena berbagai cobaan dan kesulitan dunia). (62) Yaitu orang orang yang beriman dan mereka selalu bertaqwa (63).Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan dunia dan dalam kehidupan akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat kalimat (janji janji) Allah, yang demikian itu adalah kemenangan yang sangat besar.(64).
(Q.S. Yunus: 62-64) 

  Sabda Rasulullah SAW dalam menjelaskan adanya Awliya’:

  عن أبي هريرة رضي الله عنه، قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ قال: مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ أَذَنْتُهُ بِالحَرْبِ، وَمَاتَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبدِي بِشَيْئٍ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ، وَمَا يَزَالُ عَبدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِيْ يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ الَّذِيْ يُبْصِرُبِهِ وَيَدَهُ الَّذِيْ يُبْطِشُ بِهَا وَرِجلَهُ الَّذِي يَمْشِيْ بِهَا وإِنْ سَأَلَنِي َلاُعْطِيَنَّهُ وَلَئِنْ اَسْتَعَاذَنِي َلَأُعِيْذَنَّهُ. (رواه البخاري)

Diriwayatkan oleh Imam Abi Hurairah RA, bersabda Rasulullah SAW: 

“Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla berfirman: Barangsiapa yang menyakiti WALIKU maka benar benar Aku umumkan perang dengannya. Dan tidaklah seorang hamba mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang paling Aku sukai yaitu sesuatu yang telah Aku wajibkan kepadanya, dan hambaku senantiasa mendekatkan diri kepadaku dengan sunnah sunnah sampai Aku mencintainya, Apabila aku mencintainya, maka akulah yang menjadi pendengarannya yang mana ia akan mendengarkan dengannya, dan Akulah yang jadi matanya ketika ia melihat dengannya, dan Akulah yang jadi tangannya ketika ia memegang dengannya, dan Akulah yang jadi kakinya ketika ia berjalan dengannya, dan jika ia meminta kepadaku maka aku benar benar memberinya, dan jika ia mohon perlindungan kepada-Ku niscaya Aku benar benar melindunginya”.

(HR. Bukhari).  

Melihat / bertemu Rasulullah SAW dalam sadar bagi para Pembesar Awliya’ adalah perkara wajar dan bagian dari karomah yang menjadi BUSYRO bagi mereka (para Awliya’).

Sebagai pejabat ruhani / pegawai Allah, para Nabi mendapat bekal mukjizat sebagai hujjah yang haq kepada seantero alam raya.

Demikian pula para Wali Allah, mereka mendapat bekal khusus sebagai bukti kebenaran dakwah mereka berupa karomah, yang mana karomah itu sendiri sebenarnya sebagai berita gembira dari Allah SWT sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Yunus ayat 64 :

لَهُمُ البُشْرَى فِى الحَيَوةِ الدُّنْيَا وَفِى الأَخِرَةِ، لاَتَبْدِيْلَ لِكَلِمَاتِ اللهِ، ذَلِكَ هُوَ الفَوْزُ العَظِيْمِ.

Bagi mereka BERITA GEMBIRA di dalam kehidupan dunia dan dalam kehidupan akhirat. Tidak ada perobahan bagi kalimat kalimat (janji janji) Allah, yang demikian itu adalah kemenangan yang sangat besar.(64).
(Q.S. Yunus: 64)  

Syaikhul Islam Al Imam Al Hafidz Imaduddiin, Abil Fida’ Ismail bin Katsir dalam kitab tafsirnya yang terkenal dengan Tafsir Ibnu Katsir, beliau menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan “Berita gembira” pada surat Yunus ayat 64 tersebut diatas adalah:  

عن أبي الدرداء رضي الله عنه,  عن النبي صل الله عليه وسلم  فى قوله: (لَهُمُ البُشرَى فِى الحَيَوةِ الدُّنيَا وَفِى الأَخِرَةِ) هِيَ الرُّؤيَا الصَّالِحَةُ يَرَاهَا الرَّجُلُ الْمُسْلِمُ أَو تُرَى لَهُ , بَشَّرَاهُ فِى الحَيَاةِ الدُّنْيَا وَبَشَّرَاهُ فِى الْأَخِرَةِ اَلْجَنَّةَ. (رواه أحمد وءابن جرير والحاكم وغيرهما ) 

“Dari Abi Darda’ ra. dari Rasulullah SAW menjelaskan firman Allah SWT yang artinya ‘Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan dunia dan dalam kehidupan akhirat‘ adalah mimpi baik seorang muslim, atau melihat langsung (dalam sadar) terhadap (fenomena) yang menjadi kabar gembira baginya untuk kehidupan dunia dan kabar gembira baginya untuk kehidupan akhirat berupa surga”.

(HR. Ahmad, Ibnu Jarir dan Al Hakim serta ulama’ Hadits lainnya)  

 اَلرُّؤْيَا الصَّالِحَةِ  يَرَاهَا الْعَبْدُ الْمُؤْمِنُ فِى الْمَنَامِ أَوْتُرَىلَهُوَهِيَ جُزْءٌ  مِنْ أَرْبَعَةِ وَأَرْبَعِيْنَ جُزْأً أَوْ سَبْعِيْنَ جُزْأً مِنَ النُّبُوَّةِ. (تفسيرالقران العظيم ءابن كثير:)  

“Berita baik bagi hamba Allah yang mukmin yang didapat melalui mimpi atau melihatnya secara langsung (secara sadar), hal seperti ini adalah 1/44 atau 1/70 bagian dari ilmu kenabian”.
 (Tafsir Ibnu Katsir : Jilid 2 halaman 364).  

Pendapat ini dijelaskan secara panjang lebar dalam kitab tafsir Ibnu Katsir, dengan dasar beberapa riwayat hadits shahiih mengenai maksud ayat tersebut diatas.

Demikian juga Syaikhul Islam Al Imam Jalaluddin Al Suyuthy dalam kitab tafsir Jalalain menjelaskan maksud ayat ini dengan penafsiran yang sama yaitu ru’yah al shalihah.

Dalam beberapa riwayat hadits ru’yah al shalihah ini termasuk satu bagian dari 44 bagian ilmu kenabian (nubuwah), riwayat lain menyebut satu bagian dari 70 bagian ilmu nubuwwah.   Menurut terminologi kaum sufi, Al Ru’yatu as shalihah paling shahih adalah ru’yah / melihat Rasulullah SAW. karena Rasulullah SAW tidak bisa ditiru oleh syetan.

Sebagaimana Hadits Nabi Muhammad SAW:   

Hadits lain yang menjelaskan masalah bisyarah:  

وعن أنس بن مالك رضي الله عنه قال,  قال النبي صل الله عليه وسلم: إِنَّ الرِّسَالَةَ وَالنُّبُوَّةَ قَدْ إِنْقَطَعَتْ, فَلاَ رَسُولَ بَعْدِي وَلاَنَبِيَّ : قَالَ فَشَقَ ذَلِكَ عَلَى النَّاسِ, فَقَالَ: وَلَكِنَّ الْمُبَشِّرَاتِ. قَالُوا يَارَسُولَ اللهِ وَمَاالْمُبَشِّرَاتُ؟ قَالَ: رُؤيَا الرَّجُلُ الْمُسْلِمِ وَهِيَ جُزْءٌ مِن أَجْزَاءِ النُّبُوَّةِ. (رواه الترمذي وقال صحيح غريب) 

“Dan diriwayatkan dari Anas bin Malik ra, dia berkata:

Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya kerasulan dan kenabian(wahyu, syari’at) sudah putus(ditutup).

Maka tidak ada lagi Rasul danNabi setelahku”.

Sahabat berkata: (Manusia pasti rusak jika begitu).

Kemudian Rasulullah SAW bersabda: “Tapi ada mubasysyirat”.

Sahabat bertanya: Ya Rasulallah, apa mubasysyirat itu?.

Rasulullah SAW bersabda: “Mimpi seorang laki laki muslim termasuk bagian dari kenabian”. (HR. Turmudzi, dan dia mengatakan bahwa hadits ini shahiih gharib).  

 Riwayat hadits  yang mempertegas adanya mubasysyirat (berita gembira) untuk para auliya’ radliyallaahu anhum sebenarnya sangat banyak, untuk menambah wawasan berikut ini kami sampaikan lagi sebuah hadits:  

عَن عُثمَانِ بِن عُبَيْدِ الرَّاسِبِي قَالَ, سَمِعْتُ أَبَا الطُفَيْلِ رَضِيَ الله عَنْهُ يَقُولُ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّ الله عَلَيهِ وَسَلَّمَ: لاَنُبُوَّةَ بَعْدِي إِلاَّ الْمُبَشِّرَاتِ.قِيلَ:وَمَاالْمُبَشِّرَاتُ يَارَسُولَ الله؟ قَالَ: اَلرُّؤْياَ الْحَسَنَةِ. أَو قَالَ: اَلرُّؤْياَ الصَّالِحَةِ. (رواه أحمد)

Diriwayatkan oleh Utsman bin Ubaid Ar Rasibi yang mengatakan: Saya mendengar Aba Ath Thufail ra mengatakan: 

Rasulullah SAW bersabda:“Tidak ada lagi (wahyu) kenabian setelahku, kecuali Al Mubasysyirat”.

Sahabat bertanya: “Apakah Al Mubasysyirat itu ya Rasulallah?” 

Rasulullah SAW menjawab: Mimpi yang baik”. (HR. Ahmad).  

 Dalil yang menguatkan bahwa seseorang bisa bertemu Rasulullah SAW baik dalam mimpi ataupun dalam keadaan sadar / tidak tiduradalah sabda Nabi SAW:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: من رأني فى المنام فسوف يراني يقظة ولا يتمثلالشيطان بي( رواه البخاريومسلم وابو داود وغيرهم ) 

Rasulullah SAW bersabda : “Barangsiapa melihatku dalam mimpi, maka dia akan melihatku dalam keadaan jaga, dan syaithan tidak bisa menyerupai aku”.

(HR. Buhari, Muslim, Abu Daud dan muhaddits  lainnya).   

Riwayat hadits lain mengatakan : 

  قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: من رأني فى المنام فسيراني فى اليقظة. (رواه  البخاري) 

Rasulullah SAW bersabda : “Barangsiapa melihatku dalam mimpi, maka dia akan melihatku dalam keadaan jaga”.
( HR. Buhari ).   

Kedua hadits Nabi SAW tersebut diatas, sangat jelas dan tidak perlu penafsiran lagi, bahwa Nabi bisa dilihat dalam mimpi ataupun jaga (sadar / bukan mimpi), dan adanya jaminan syaithan tidak bisa ngaku atau menyamar sebagai Nabi.

Dalam kitab Bughyatul Mustafid li Syarhi Munyatul Murid karangan Sayyidi Muhammad Al ‘Araby halaman 211 diterangkan bahwa : “Dan diantara faedah / keuntungan bershalawat kepada Nabi SAW ialah mendekatkan hamba tersebut dengan Nabi Muhammad SAW. yang ahirnya sampai bisa bertemu dengannya dalam keadaan sadar / jaga.

Dan dengan demikian dia aman dari resiko dicabut pangkat kewaliannya. Sebelum bertemu Rasulullah dalam sadar, seorang wali yang ‘arif billah masih takut dicabut kewaliannya.   

Orang yang mengklaim bertemu langsung (dalam keadaan sadar) dengan Rasulullah SAW setelah beliau wafat, bukan hanya Sayyidi Syeikh Ahmad bin Muhammad Attijany RA dan para Wali lainnya yang dianggap sesat dan syirik oleh golongan salafi dan wahhabi.

Para sahabat banyak yang menyatakan bertemu Rasulullah SAW setelah wafatnya.

Salah satunya dan tertulis dalam sejarah adalah diceriterakan oleh Abdullah bin Salam RA. Khalifah Ar Rasyidiin ke tiga Sayyidina Utsman bin Affan RA. ketika dikepung para musuh politiknya pada saat hari terbunuhnya beliau, juga dijumpai Rasulullah SAW dalam jaga / sadar / bukan mimpi dan ditawari dua pilihan ; diselamatkan dari kepungan musuh atau berbuka bersama Rasulullah SAW. Dia memilih yang kedua dan wafat hari itu juga.

Dalam perjalanan Isra’ dan Mi’raj diceriterakan bahwa Rasulullah SAW bertemu dan menjadi imam shalat berjamaah dengan para Nabi sebelumnya, serta pertemuan dan diskusi Rasulullah SAW dengan Nabi Adam, Ibrahim, Musa dan lain sebagainya.    

Mimpi para Nabi bisa dijadikan dalil syar’i karena tergolong wahyu kenabian.

  Padahal Al Qur an menegaskan “Busyra = Ar Ru’yah As Shalihah (mimpi baik orang beriman)” itu merupakan 1/44 atau 1/70 bagian dari ilmu kenabian (Nubuwwah).

Lebih dari itu kalau kita mau sedikit jeli. Banyak perkara besar dalam syariat agama kita ini perintahnya lewat mimpi.

Diantaranya dalam tafsir Ibnu Katsir, dalam menjelaskan Busyra = Ar Ru’yatus Shalihah, terdapat sebuah Hadits yang menyatakan bahwa wahyu pertama yang diterima Rasulullah SAW adalah mimpi melihat terbitnya fajar.

Demikian juga fathul Makkah (penaklukan kota Mekkah) Rasulullah SAW diberitahu oleh Allah SWT melalui mimpi dan ditegaskan oleh Allah melalui firman-Nya:

  لَقَدْ صَدَقَ اللهُ رَسُوْلُهُ الرُّءْيَا بِالْحَقِّ لَتَدْخُلُنَّ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ إِنْ شَاءَ اللهُ أَمِنِيْنَ مُحَلَّقِيْنَ رُؤُسَكُمْ وَمُقَصِّرِيْنَ لاَتَخَافُوْنَ فَعَلِمَ مَالَمْ تَعْلَمُوْا فَجَعَلَ مِنْ دُوْنِ ذَلِكَ فَتْحًا قَرِيْبًا. ( الفتح : )

Sesungguhnya Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya tentang kebenaran mimpinya dengan sebenar benarnya bahwa, sesungguhnya kamu akan memasuki Masjid Al Haram insya-Allah dengan aman, dengan mencukur rambut kepala dan mengguntingnya.

Sedangkan kamu tidak merasa takut. Maka Allah Maha mengetahui apa yang tidak kamu ketahui, dan Dia memberikan selain itu kemenangan yang dekat. (QS. Al Fath : 27).   

Nabi Ibrahim Al Khalil as. berkorban dengan menyembelih putranya Nabi Ismail as. perintahnya juga lewat mimpi. 

  فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيُ قَالَ يَابُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِى الْمَنَامِ إِنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى، قَالَ يَأَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللهُ مِنَ الصَّبِرِيْنَ، (الصفات:

 “Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama sama Ibrahim, Ibrahim berkata;

‘Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi, bahwa aku menyembelihmu, maka fikirkanlah apa pendapatmu?’,

Ia menjawab;

‘Wahai Bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan (oleh Allah) kepadamu, Insya-Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang orang yang sabar”.

(QS. As Shaffat : 102)  

 Demikian juga Nabi Yusuf yang bermimpi bintang, bulan dan matahari sujud sebagai kabar gembira bahwa dia akan jadi raja.  

 إِذْ قَالَ يُوْسُفَلِأَبِيْهِ يَأَبَتِ إِنِّي رَأَيْتُ أَحَدَ عَشَرَ كَوْكَبً وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ رَأَيْتُهُمْ لِي سَجِدِيْنَ ( يوسف :

  “Ketika Yusuf berkata pada ayahnya; Wahai ayahku, sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas bintang dan matahari serta bulan sujud kepadaku”, (QS. Yusuf : 4 )

Mimpi para Awliya’ tdk bisa dijadikan dalil syar’i, tapi tergolong busyra yang bersifat fadhailul a’mal dan baik untuk diamalkan jika tdk bertentangan dengan syariat Islam.

Hadits Rasulullah SAW:  

عَنْ عَبْدِاللهِ بْنِ عُمَرَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِى قَوْلِهِ : (لَهُمُ البُشْرَى فِى الْحَيَوةِ الدُّنْيَا وَفِىالأَخِرَةِ) هِيَ الرُّؤْياَ الصَّالِحَةِ يُبَشِّرُهَا الْمُؤْمِنُ جُزْءٌ مِنْ تِسْعَةٍ وَأَرْبَعِيْنَ جُزْأً مِنَ النُّبُوَّةِ، فَمَنْ رَأَى ذَلِكَ فَالْيُخْبِرْ بِهَا، وَمَنْ رَأَى سِوَى ذَلِكَ فَإِنَّمَا هُوَ مِنَ الشَّيْطَانِ لِيُحْزِنَهُ فَلْيَنْفُثْ عَنْ يَسَرِهِ ثَلاَثًا وَلْيُكَبِّرْ وَلاَ يُخْبِرْهَا أَحَدًا. (رواه أحمد وءابن جريروغيرهما)

“Diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar, dari Nabi SAW,menjelaskan firman Allah SWT yang artinya ‘Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan dunia dan dalam kehidupan akhirat‘ adalah mimpi baik seorang mukmin adalah satu bagian dari empat puluh sembilan bagian ilmu kenabian. Barang siapa mengalaminya maka hendaklah hal tersebut diceriterakan, dan bagi siapa saja yang bermimpi buruk maka itu dari syeitan yang bertujuan menyusahkan kita, maka (ketika terbangun) meludahlah tiga kali ke sebelah kiri dan bertakbirlah, dan jangan ceriterakan (mimpi buruk tersebut) kepada siapapun”

(HR. Ahmad dan Ibnu Jarir dan ulama’ Hadits lainnya).  

Mu’jizat para Nabi dan Karomah para Wali.

Menurut para ulama’, difinisi mu’jizat ialah:   اَلْمُعْجِزَةُ الأَمْرُ الْخَارِقُ لِلْعَادَةِ الْمَقْرُونُ بِالتَّحَدِّى اَلْمُوَافِقُ لِلدَّعْوَى مَعَ عَدَمِ إِمْكَانِ مُعَارَضَتِهِ، (كفاية العوام :

Mukjizat adalah suatu perkara yang menyalahi adat yang disertai tantangan sesuai dengan dakwah (kenabian)serta tidak mungkin tertandingi. (Kifaayatul ‘awam: 73)   

Sedangkan Karomah para Wali pada hakekatnya adalah mukjizat para nabi yang menjadi panutannya.

Cuma ada sedikit perbedaan antara mukjizat dan karomah, kalau mukjizat kemunculannya disertai tantangan, sedangkan karomah tidak selalu muncul karena adanya tantangan. Adapun difinisi karomah adalah:  

الكَرَامَةُ: الأَمْرُ الخَرِقُ لِلْعَادَةِ الَّذِيْ يَظْهَرُ عَلَى يَدِ عَبْدٍ ظَاهِرِ الصَّلاَحِ (حجة الله على العالمين: 13 – يوسف النبهاني)

Karamah adalah sesuatu yang menyalahi hukum adat (bukan menyalahi hukum Islam / Syariah) yang memancar dari tangan / anggota badan hamba Allah yang benar benar shalih. (Hujjatullah ‘alal ‘alamiin ; 13. oleh Yusuf An Nabhani)

Puncak Karomah para Wali Allah adalah bertemu Rasulullah dalam sadar.

Dalam banyak literatur sufi, seperti kitab Jami’ Karamatil Auliya’ banyak kita jumpai ceritera ceritera tentang kekeramatan para Wali Allah.

Dari kekaramatan dzahir seperti bisa terbang dan lain lain sampai pada kekeramatan maknawi (batin).

Sedangkan kekaramatan maknawi adalah karomah yang mempunyai nilai tertinggi disisi Allah SWT maupun bagi kebaikan manusia.

Puncak dari karomah maknawi adalah karunia pertemuan khusus dalam keadaan sadar dan bercakap cakap langsung dengan Rasulullah SAW. Ini pula yang menjadi standart paling akurat dari ketinggian derajat seorang Wali Allah termasuk juga standart terbaik dari tingkat kemakrifahannya disisi Allah SWT.

Sebagaimana diterangkan dalam kitab Rimah jilid 1 halaman 210 dijelaskan :   سَمِعْتُ سَيِّدِي عَلِيًّا اَلْخَوَاصَ رَحِمَهُ الله تَعَالَى  يَقُوْلُ: لَايَكْمُلُ عَبْدٌ فِي مَقَامِ الْعِرْفَانِ حَتىَّ يَصِيْرَ يَجْتَمِعُ بِرَسُوْلِ اللهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْظَةً وَمُشَافَهَةً (رماح:

Saya mendengar Sayyidi Ali Al Khawwash Rahimahullaahu ta’ala berkata:

“Tidak sempurna kedudukan seorang hamba pada maqam MA’RIFAH sampai hamba tersebut bertemu l berkumpul dengan Rasulullah SAW secara langsung (musafahah) dan dalam kondisi sadar / yaqadzah (bukan hanya melalui mimpi).   

Karomah dalam segala bentuknya selama itu tidak bertentangan dengan syariah (hukum Islam) adalah sesuatu yang mumkin / boleh terjadi sebagaimana adanya mukjizat bagi para Nabi.

Dalam kitab Al Fatawi haditsiyah – Ibnu Hajar Al Haitami halaman 256 dikatakan bahwa:  

وَقَدْ تَقَرَّرَ أَنَّ مَاجَازَ لِلأَنْبِيَاءِ مُعْجِزَةً جَازَ لِلأَوْلِيَاءِ كَرَامَةً بِشَرْطِ عَدَمِ التَّحَدِّى. (الفتاوى الحديثية لابن حجر الهيتمي : 258)

 Dan telah menjadi ketetapan bahwa sesungguhnya apa saja yang bisa menjadimukjizat bagi para nabi, maka bisa juga menjadi karomah para wali, dengan syarat tidak disertai tantangan.(Al Fatawi haditsiyah – Ibnu Hajar Al Haitami halaman 256)  

Bertemu barzakhi dengan Rasulullah SAW dalam sadar secara hukum diakui kebenarannya sesuai Al Qur’an dan Hadits Rasulullah SAW dan atsar para Sahabat dan Para Ulama Khas (para Awliya’).

Amalan yang diberikan/ diijazahkan oleh Rasulullah SAW melalui pertemuan barzakhi secara hukum bisa diterima dan diamalkan. Karena status kenabian dan kerasulan Rasulullah SAW tetap berlaku sampai akhir zaman.

Untuk perkara umum dalam syariat Islam, sudah putus dan sudah sempurna, maka tidak ada tambahan lagi sejak wafatnya Rasulullah SAW. sedangkan untuk perkara khusus untuk kalangan khusus tetap berjalan sampai akhir zaman.

  Dari penjelasan Al Qur’an dan Hadits tentang PERTEMUAN BARZAKHI dengan Rasulullah SAW adalah PERKARA MUMKIN.

Maka secara hukum mumkin pula adanya percakapan / pesan barzakhi dengan beliau.

Oleh karena itu =SANAD BARZAKHI= yang merupakan hasil pertemuan barzakhi secara hukum bisa diterima.

Karena Sifat Rasulullah SAW tetap AL AMIN baik ketika masih hidup maupun setelah wafatnya. Dan martabat kenabian dan kerasulan Beliau tetap berlaku / tidak dicabut sanpai hari kiamat.  

Dan siapapun bisa mengalami hal ini dengan bimbingan keilmuan secara khusus.

_Ingin memahami hal ini lebih luas,daftar Kelas PDT IQRO_

PDT : Pelatihan Dasar Tasawuf

*IQRO LEARNING CENTER*