*PELAJARAN KEDUA*
setelah kita mengetahui ada para pejabat ruhani yg bisa diistilahkan dengan Wali...
maka saya akan ulangi kembali sedikit...
ada kewalian yg bersifat masyhur dan mastur
kewalian yang besifat masyhur dimana seorang wali harus mempublikasi kepada khalayak umum kalau dirinya pejabat ruhani yang Allah angkat
sebagaimana
Sayyidi Syekh Ahmad At Tijani yg dimnta proklamirkan sebagai
Khotamul Awliya Fi Kullli Zaman.
Pemimpin dan Penutup para wali disemua zaman
sebagaimana
Syekh Abdul Qodir Jaelani diminta proklamirkan
Sulthonul Auliya fi hadza zaman
Penguasa Wali pada Zamannya...
semua ini bukan atas mau dirinya atau pamer
sebagaimana sosok presiden yg sdh dilantik maka ia harus berikan pidato politiknya dengan tujuan rakyat faham akan dibawa kemana negara ini
begitujuga para wali yg publikasikan kewaliaan memiliki tujuan agar ummat faham akan metode dakwah yg menjadi warisan Rasulullah sebagai Rahmatan lil alamin
berbeda dengan kewalian yg bersifat mastur atau tersembunyi
ketika ia peroleh SK kewaliaan maka ia akan peroleh tugas sesuai yg diamanahkan
ibaratnya menteri di pemerintahan yg memiliki tugas masing2
kewalian juga memiliki tugas yg berbeda satu wali dengan wali yg lain..
ditutupnya kewalian mereka dalam rangka proses tarbiyah Allah kepada manusia agar mereka tdk semena2 pd siapapun
karena bisa jadi disekitar merka ada wali yang Allah dan Rasulullah cintai...
dan perlu diketahui juga sebagaimana ada 124000 sahabat nabi
masing2 memiliki kekhususan yang berbeda
sebagaimana Huzaifah penyimpan nama2 orang munafik dari Rasulullah
setela kita ketahui ada wali masyhur dan wali mastur...
maka yang mernjadi pertanyaan akan dua hal..
*kewalian mana yg kita ikuti*
dan pertanyaan
*mungkinkah kita jadi wali-Nya*
To Be Continue
Tidak ada komentar:
Posting Komentar