Salah satu yang sering terjadi di Akhir puasa Romadhan ialah Adanya perdebatan antara ucapan :
_Minal 'Aidin Wal Faidzin_
Dengan kalimat
__Taqobballahu Minna Wa Minkum Shiyamana Wa Shiyamakum_
Disinilah Saya merasa miris ketIka Kita satu Sama lain jadi Saling Salah menyalahkan😢
Kita Coba bedah ya satu demi satu...
*Yang Memakai Ucapan Minal 'Aidin Wal Faidzin*
Ada sebagian kawan membagikan tulisan tentang ucapan selamat saat hari raya “Minal Aa’idin Wal Faa’iziin” (من العائدين و الفائزين), yang artinya: “Semoga termasuk orang-orang yang kembali dan menang”.
Dalam tulisan tersebut juga dinyatakan: orang-orang Arab tidak menggunakan ucapan selamat seperti itu.
Begitulah, kata sang penulis..
Sebenarnya Arti yang paling tepat untuk ucapan “Minal Aa’idin Wal Faa’iziin” adalah: “Selamat berhari raya, dan semoga termasuk orang yang mendapatkan kemenangan”
Karena (عيد) ‘id yang artinya: hari raya, terbentuk dari fi’il عاد (‘aada) yang fa’il-nya adalah عائد (‘aaidun)
jika dalam bentuk jamak dan majrur menjadi العائدين (‘aaidin).
Maka ‘aaidin bisa juga diartikan: orang-orang yang berhari raya).
Maksud dari ucapan ini adalah: memberikan ucapan selamat berhari raya, dan MENDOAKAN semoga orang tersebut termasuk orang yang menang dengan banyak pahala, ampunan, dan kemuliaan yang dijanjikan Allah di Bulan Ramadhan.
Dan lebih ahsan lagi gunakan ucapan lengkap
_Ja'alnallahu Minal 'Aidin Wal Faidzin_
_Semoga Allah menjadikan Kita jadi orang yang berhari Raya Dan Beruntung_
Dan ucapan Ini sebagai tasyakur atas ibadah Romadhan yang dijalani Selama sebulan
Dan Tidak benar bila ‘ucapan selamat’ itu tidak digunakan orang-orang Arab, karena Saya sendiri selama di Arab pernah mendengar beberapa orang Arab mengucapkannya, terutama mereka yang berasal dari negeri Syam.
Para ulama telah menegaskan, bahwa ucapan selamat untuk datangnya hari raya, tidak ada batasannya. Selama maknanya baik, maka dibolehkan.. karena syariat tidak membatasinya dengan ucapan atau doa-doa tertentu.
Dan juga Selama tidak ada dalil yang melarang Maka Hal tersebut sesuatu yg mubah.
Salah satu kaidah ushul fiqih berbunyi
والأصل في عاداتنا الإباحة حتى يجيء صارف الإباحة
“Dan hukum asal dalam kebiasaan ( adat istiadat ) adalah boleh saja sampai ada dalil yang memalingkan dari hukum asal”.
Artinya , segala kebiasan (adat istiadat) atau segala perkara di luar perkara syariat (diluar dari apa yang telah disyariatkanNya) selama tidak melanggar satupun laranganNya ataupun selama tidak ada laranganNya
Ataupun selama tidak bertentangan dengan Al Qur’an dan Hadits serta ijma dan qiyas maka hukum asalnya adalah mubah (boleh).
*_Yang memakai ucapan Taqobballahu Minna Wa Minkum_*
Bagi yang ingin memasyarakatkan ucapan selamat yang dipakai oleh para sahabat –rodhiyallahu 'anhum-, maka itu merupakan hal yang Baik juga Yakni ucapan:
_“Taqobbalallohu Minna wa Minkum”_
_semoga Allah menerima amal kebaikan Aku Dan kamu semua._
Dan ada juga sebagian sahabat yg menambahkn
_Shiyamana Wa Shiyamakum_
_Puasaku Dan Puasa Kamu_
Dan bagi Kita balaslah dengan mengucapkan
_Taqobballahu Minna wa minka_
_Semoga Allah menerima amalku Dan Kamu_
Jawaban ini seperti perintah Allah dalam Alquran,
وَإِذَا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا
_“Jika kalian diberi salam dalam bentuk apa pun maka balaslah dengan salam yang lebih baik atau jawablah dengan yang semisal”_
(QS An Nisa’ : 86).
Namun Saat Kita memakai ucapan ini bukan berarti kita boleh mengharamkan atau menyalahkan ‘ucapan selamat’ yang lainnya tanpa dasar dalil yang mengharamkannya.
Diantara contoh ucapan selamat lain yang maknanya baik dan biasa diucapkan oleh umat Islam adalah:
عيدكم مبارك
“Iedukum Mubarok” (semoga hari rayanya penuh dg keberkahan).
عيدكم سعيد
“Iedukum Sa’iid” (semoga hari rayanya penuh dg kebahagiaan).
تقبل الله طاعتكم
“Taqobbalahu Thoa’atakum” (semoga Allah terima amal ketaatannya).
Serta bukan sesuatu yang Salah jUga ucapkan Mohon maaf lahir Dan batin
Jika dikatakan ITU tidak diajarkan Rasulullah..
Apakah ada dalil Rasulullah melarang meminta maaf Saat hari Raya?
Maka Wajar bagi muslI'm yg berjuang Selama Romadhon ia juga selain perbaiki diri kepada Allah juga kepada manusia...
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang berbunyi,
مَنْ سَنَّ فِى الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَىْءٌ وَمَنْ سَنَّ فِى الإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَىْءٌ
_“Barang siapa yang mencontohkan jalan yang baik di dalam Islam, maka ia akan mendapat pahala dan pahala orang yang mengamalkannya setelahnya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun._
_Dan barang siapa yang mencontohkan jalan yang jelek, maka ia akan mendapat dosa dan dosa orang yang mengerjakannya sesudahnya tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun.”_
(HR. Muslim)
Jadi bagi Kita Jika peroleh artikel yang didalamnya sudah justifikasi tidak Sunnah Atau sesat
Maka pelajarilah dlu jangan asal share , bisa jadi ada Hal yg kIta tidak tahu Padahal ITU Sunnah Dan tidak sesat
Tidak ada komentar:
Posting Komentar