Selasa, 23 Oktober 2018

*Mengapa Dakwah Nahi Munkar Begitu Berat*


Banyak diantara kita lebih suka dakwah dalam berbuat kebaikan

Dan kita juga perlu bahagia atas kekuatan yg Allah berikan untuk berbuat kebaikan karena tak Semua org mampu

Dakwah dalam mengajak berbuat kebaikan inilah yang dinamakan Dakwah Amar Makruf

Namun ada satu formula dakwah yang tak bisa di pisahkan dari Dakwah Amar Makruf

Yaitu..
*Dakwah Nahi Munkar*

Firman Allah ta’ala :
﴿وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ﴾

_“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar merekalah orang-orang yang beruntung.”_

(QS. Ali Imran : 104)

Firman Allah ta’ala :
﴿كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ﴾

_“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.”_

(QS. Ali Imran : 110)

Dari kedua ayat diatas kita ketahui bahwa Dakwah Amar Makruf Nahi Munkar adalah salah satu kesatuan yg tak bisa dipisahkan.

Sementara bisa jadi kita hanya fokus pada salah satunya saja.

Dan yang menjadi pertanyaan mengapa Dakwah Nahi Munkar ini begitu berat sehingga banyak orang yang tak mampu lakukannya.

*Yang Pertama*
*Dakwah Nahi Munkar Menguatkan Kalimat Tauhid*🕋

Kita ketahui kalimat tauhid yang berbunyi

ۖ لَّا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهَ محمد رسول الله

Yang dimana artinya ialah Tiada Tuhan Selain Allah Dan Nabi Muhammad Utusan Allah

Hal ini menunjukan bahwa kalimat tauhid tsb diawali dari sebuah kalimat penolakan yang berbunyi tiada..

Maka kalimat Tauhid ialah Dakwah Nahi Munkar.

Disinilah tugas para nabi dan rasul di semesta raya ini untuk ajarkan kepada seluruh makhluk bahwa hanyalah Allah swt Tuhan Semesta Alam

Maka saat kita dakwah kan kalimat tauhid sejatinya kita sedang bersihkan segala sesuatu hal yg lebih kita cintai daripada Allah.

Dan tak mudah bagi manusia untuk melakukan hal tsb..

Perhatikan...

Saat kita memiliki dana yg terbatas maka mana yg kita utamakan

Untuk disedekahkah di jalan Allah atau untuk kebutuhan pribadi🤔

Saat kita memiliki waktu rehat bersama keluarga ternyata ada tugas dakwah menanti mana yg kita dahulukan 🤔

Bahkan akan tiba suatu masa dimana kita harus lebih utamakan cinta Allah daripada cinta manusia

Surat At-Taubah Ayat 24

قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّىٰ يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

_Katakanlah: "jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya". Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik._

Begitujuga Bisakah kita utamakan cinta kepada Rasulullah saw daripada siapapun

hadits ke-14 Shahih Bukhari:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ - رضى الله عنه - أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - قَالَ فَوَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ

_Dari Abu Hurairah r.a. ia berkata, “Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda, “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidak sempurna keimanan seseorang dari kalian sampai ia mencintai aku melebihi kedua orang tuanya dan anaknya.”_

Terlihat mudah kita katakan namun fakta ya akan terlihat dalam kehidupan...

Siapa yg sebenarnya kita cintai🤔😢

Jadi Dakwah Nahi Munkar di poin pertama ini mengapa berat dilakukan...

_Karena manusia harus benar2 utamakan Allah dan Rasulullah lebih dari segalanya_

Tidak takut saat harus berbeda pendapat dengan siapapun

Saat harus menegakkan kalimat tauhid ini

Tidak takut kehilangan apapun

Kecuali Takut kehilangan Cinta Allah dan Rasulullah

Ia tinggalkan semua transaksi riba karena takut Allah dan Rasul tinggalkan ia...

Walau ia harus meniti ekonomi dari bawah...

Ia tinggalkan pekerjaan yg membuat ia selama ini lalai dari ibadah dan dakwah

Semua karena kuatnya tauhid yg ada di hatinya

Dan inilah mengapa kalimat tauhid diawali dari kalimat tegas atas penolakan terhadap sesuatu yg lebih besar dari Allah dan Rasulullah

*Yang Kedua*

Dakwah Nahi Munkar ini memiliki resiko yang besar karena berhadapan dengan banyak kekuatan

Ingatlah...

Bagaimana kisah Musa saat tegakkan kalimat tauhid

Ia harus berhadapan dengan Firaun Ramses sang penguasa

Ia harus berhadapan dengan Haman sang perdana menteri ahli strategi

Ia harus berhadapan dengan Qorun, orang terkaya di masa itu

Disinilah Nahi Munkar memiliki musuh yang bukan hanya satu.

Begitujuga saat ini ketika kita tegakkan kalimat tauhid... Melawan berbagai kemungkaran

Bisa jadi kita tidak disukai oleh
- orangtua
- pasangan
- anak
- saudara
- kawan2
- masyarakat

Dan memang inilah sunnatullah orang yg berjalan di jalan dakwah bisa jadi orang terdekat hingga yg jauh menjadi tantangan dakwah ya

Wajarlah akhirnya banyak para juru dakwah ya yang harus Hijrah ke berbagai tempat

Dan saat Rasulullah saw telah hadir sebagai penutup para Nabi dan Rasul

Maka estafet tugas dakwah ini dilanjutkan oleh ummat ya

Yang tentu dalam menjalani dakwah itu akan ada berbagai perjuangan yg tdk mudah.

Jadi pada akhirnya..

Ibarat Nahi Munkar ialah membersihkan mangkok yang kotor

Maka Amar Makruf ialah mengisi dengan air yg bersih

Tetapi jika kita hanya amar makruf saja tidak ada nahi Munkar

Wajar kelezatan iman akan sulit terasa dalam kehidupan kita.

*Sahabatku...*

*Tetaplah Dakwah Amar Makruf untuk mengajak manusia lebih mengenal Allah dalam berbuat kebaikan*

*Tetapi janganlah engkau tinggalkan Dakwah Nahi Munkar*

*Karena menang ya orang2 yang zolim karena diam ya orang2 yang baik*

Rabu, 05 September 2018

“KETIKA ALLAH MEMBUKA PINTU PERKENALAN”

Amal, Berserah Diri dan Ma’rifat

إِذَا فَتَحَ لَـكَ وِجْهَةً مِنَ التَّعَرُّفِ فَلاَ تُبــَالِ مَعَهَا أِنْ قَلَّ عَمَلُكَ فَإِنَّـهُ مَا فَـتَـحَهَا لَكَ إِلاَّ وَهُوَ يُرِ يْدُ أَنْ يَـتَـعَرَّفَ إِلَيكَ. أَلَمْ تَـعْلَمْ أَنَّ الـتَّــعَرُّفَ هُوَ مُوْرِدُهُ عَلَيْكَ، وَاْلأَعْمَالُ أَنْتَ مُــهْدِ يْــهَا إِلَـيْهِ، وَأَيــْنَ مَا تُــهْدِ يْهِ إِلَـيْهِ مِمَّا هُـوَ مُوْرِدُهُ عَلَـيْكَ

"Ketika Dia membukakan bagimu (suatu) Wajah Pengenalan, maka jangan engkau sandingkan (hadirnya) pengenalan itu dengan sedikitnya amal-amalmu; karena sesungguhnya Dia tidak membukakan pengenalan itu bagimu kecuali (bahwa) Dia semata-mata menginginkan untuk memperkenalkan (Diri-Nya) kepadamu.
Tidakkah engkau mengetahui bahwa sesungguhnya (suatu) pengenalan itu (semata-mata) Dia yang menginginkannya atasmu, sedangkan amal-amal itu (semata-mata) suatu hadiah dari engkau kepada-Nya; maka tidaklah sebanding antara apa-apa yang engkau hadiahkan kepada-Nya dengan apa-apa yang Dia inginkan untukmu."

Syarah

Ada rahasia yang sangat halus dibalik kalimat-kalimat Ibnu Athaillah dalam pasal ini. Ibnu Athaillah bukan hendak mengatakan bahwa amaliah tidak berarti, karena itu adalah tanda kepatuhan kepada-Nya. Namun ada persoalan yang lebih besar dari itu yang harus dimiliki setiap pejalan suluk.

Ketika Allah membuka “Wajah Pengenalan”, maka yang Dia anugrahkan kepada seorang hamba adalah Diri-Nya, Eksistensi-Nya, bukan semata perbuatan-Nya, karunia-Nya, atau surga-Nya. Maka tidaklah sebanding ketika Allah menyerahkan seluruh Diri-Nya untuk dikenali, sementara seseorang hanya menyerahkan amal perbuatannya, bukan dirinya.

Adalah Nabi Muhammad SAW memberi nasihat kepada putrinya Fatimah r.a. untuk senantiasa berdoa pada setiap pagi dan petang:

يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْثُ! أَصْلِحْ لِي شَأْنِيَ كُلَّهُ، وَلاَ تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ

Wahai (Dzat) yang Maha Hidup dan Maha Berdiri! Dengan rahmat-Mu aku memohon pertolongan. Perbaikilah urusanku seluruhnya; dan jangan Engkau serahkan aku kepada diriku walau hanya sekejap mata. – H.R. Imam An-Nasai, Imam Al-Hakim.

Dalam hadits yang lain dikatakan:

اللَّهُمَّ رَحْمَتَكَ أَرْجُو، فَلاَ تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ، وَأَصْلِحْ لِي شَأْنِي كُلَّهُ، لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ

Ya Allah, hanya rahmat-Mu yang kuharapkan! Maka janganlah Engkau serahkan aku kepada diriku meski sekejap mata, dan perbaikilah urusanku seluruhnya. (Sungguh) tidak ada tuhan selain Engkau. – H.R. Imam Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Hibban.

Bahwa kebanyakan manusia mengandalkan urusannya kepada dirinya, kepintarannya, amal perbuatannya. Dan sangatlah sedikit manusia yang menginginkan berserah diri sepenuhnya kepada Allah. Sementara dalam Al-Quran dikatakan bahwa sebaik-baik agama seseorang adalah yang: aslama wajhahu (menyerahkan wajahnya), seluruh eksistensinya, seluruh jiwa-raganya, hidup dan matinya, hanya kepada Allah.
وَمَنْ أَحْسَنُ دِينًا مِّمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ وَاتَّبَعَ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا

Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang menyerahkan wajahnya kepada Allah, sedang diapun seorang yang ihsan dan mengikuti millah Ibrahim yang lurus?– Q.S. An-Nisa [4]: 125

Ma’rifat [mengenal] kepada Allah, itu adalah puncak keberuntungan seorang hamba, maka apabila Tuhan telah membukakan bagimu suatu jalan

Senin, 27 Agustus 2018

APAKAH TASHAWWUF SUDAH ADA DARI SEJAK ZAMAN NABI MUHAMMAD SAW?

Istilah Tashawwuf pada zaman Rasulullah saw tidak dikenal secara eksplisit, dalam arti Beliau saw  menyampaikan Al Qur'an apa adanya dan memberikan contoh dalam setiap kehidupan sehari-hari..

Tetapi secara substansi  semua yang dibahas dalam Ilmu Tashawwuf itu bersumber dari Rasulullah saw  baik bersifat Qouliyah, Fi'liyah maupun Taqririyah

Demikian juga di Zaman Rasulullah saw tidak ada istilah ilmu Tauhid, Ilmu Tajwid, Ilmu Tafsir, Ilmu Fiqih, Ilmu Nahwu, Ilmu Shorof dan lain halnya. Termasuk juga pembukuan Al Qur'an seperti yang kita lihat saat ini.

Jadi jika kita beranggapan bahwa segala sesuatu yang tidak ada  di Zaman Rasulullah saw dan para sahabat itu Bid'ah dan semua yang Bid'ah itu pasti masuk neraka

Maka yang sesat dan masuk neraka bukan hanya ahli
ilmu tashawwuf saja tetapi juga ahli tajwid, ahli fiqih, ahli nahwu, ahli tafsir dan berbagai hal lainnya.

Tetapi kalau kita bicara ilmu secara subtansi tentang praktek ilmu tashawwuf, fiqih, tafsir, nahwu , shorof dan berbagai persoalan lainnya semua itu sudah ada sejak awal islam.

Semua itu bersumber dari Rasulullah saw dalam bentuk uswah tanpa nama tentang kekhususan ilmu tertentu, lalu di kemudian hari para ulama berijtihad  dengan cara memilah agama islam  sesuai dengan bidangnya masing2 hingga dikenal dengan berbagai nama2 ilmu tersebut.

Berbicara Ilmu Tashawwuf juga berbicara apa yang disampaikan dalam Qur'an dan Hadits..

ketika kita diperintahkan untuk bersabar dalam berbagai ujian kehidupan maka disanalah Ilmu Tashawwuf berperan,bukan hanya sekedar teori namun juga ada metode dalam aplikasikan ilmu tashawwuf yang disebut metode itu dengan nama Thoriqoh

Karena berbagai perkara tentang masalah batiniah tak hanya bisa dipelajari sekedar Teori sebagaimana kita diminta untuk bersabar, maka banyak orang berusaha untuk sabar namun goyah karena tak adanya metode khusus dalam mengelola masalah batin ini

Disinilah kita membutuhkan bimbingan Lahir Batin yang tersambung Sanad Ilmu dan Amalan Hingga ke Rasulullah saw

Referensi :
Kitab Thariqah At Tijaniyah Dalam Neraca Al Qur'an dan As Sunnah ditulis oleh KH Muhammad Yunus A. Hamid

Minggu, 12 Agustus 2018

Ada Yang Keliru Dalam Doa Kita

*_Ada Yang Keliru Dalam Doa Kita Kepada Allah_*

Siang itu saya sedang duduk berdiskusi dengan KH Muhammad Yunus Hamid,dari beliaulah sy peroleh ijazah amalan dzikir yang bersanad ke Rasulullah saw.

_Mas Reza..kalau kita ingat2 lagi ada yang keliru dalam doa kita saat meminta rezeki kpd Allah swt_

sayapun terdiam sesaat dan bertanya kembali kepada beliau...

_keliru bagaimana abah?_
🤔🤔

dan beliaupun menjawab..

_Dahulu saat Nabi Ibrahim as akan pergi tinggalkan keluarganya dipadang tandus Mekkah beliau berdoa kepada Allah seperti ini_

Surat Ibrahim Ayat 37

رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ

_Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan *beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur*_

_Nabi Ibrahim dalam doa minta rezeki langsung minta buahnya..beliau ndak minta pohonnya_

_Sementara kita nih mas reza dalam doa kebalik_

_Ya Allah Beri saya pekerjaan..beri saya bisnis akhirnya banyak org yg sdh bekerja atau berbisnis hasilnya ndk cukup2_

sayapun terdiam dan benarkan perkataaan abah yai...

_Ya...ya abah...padahal bisa saja kita langsung minta hasilnya aja kepada Allah masalah prosesnya bisa darimana saja Allah kasih_
jawab saya...

Diskusi yg begitu menarik saat saya bersama abah...

membawa fikiran saya masih tetap berfikir akan diskusi tadi...

terfikir saat orang mau berangkat umroh dan haji doanya...

_Ya Allah berikn saya pekerjaan atau bisnis agar bisa umroh atau haji_🕋🕋

pertanyaannya...

kenapa kita ndak doa langsung minta Umroh atau Hajinya...🤔🤔

begitujuga terkait kebutuhan2 lainnya...

Alhamdulilah ada saja ilmu yang bertambah setiap diskusi dengan Abah Yai sekalipun dalam suasana santai dengan secangkir kopi
😎☕

_Muhammad Reza Adrianto_

Selasa, 07 Agustus 2018

Bersatu Untuk Keutuhan NKRI

Sudah Saatnya Kita BERSATU dan BERTINDAK untuk keutuhan NKRI.
===

Pagi itu, 26 Maret 1863, dengan jumawa Belanda menyatakan perang di wilayah Aceh. Penjajah ini sudah sangat yakin akan menang mudah. Meriam, oke. Senapan, lengkap. Prajurit, bugar. Menurut Belanda, dengan sekedar alat perang tradisional, Aceh takkan bisa bernafas panjang.

Sayangnya, dugaan itu meleset. Rakyat Aceh ternyata bukan lawan sembarangan. Mereka bukan seperti musuh-musuh Belanda sebelumnya yang bermental tempe. Orang-orang Aceh ini makin digertak, makin maju. Makin ditodong meriam, makin menjemput kematian.

Urusan perang Aceh sungguh kapiran bagi Belanda. Berpuluh tahun berperang, tak keluar seucap pun kata menyerah dari mulut rakyat serambi Mekkah. Belanda benar-benar menyesal telah menyatakan perang. Kerugian materi dari perang itu hampir membuat VOC bangkrut. Belum lagi jumlah korban jiwa dari pihak penjajah diprediksi menelan 100.000 prajurit!

"Ada apa ini?" Pertanyaan itu berkelebat di kepala para Jenderal Belanda. "Kenapa mereka seperti orang yang tak takut mati?"

Mereka tidak tahu bahwa masyarakat Aceh telah mengenal istilah 'Jihad'. Kamu membela tanah air, mempertahankan hakmu atas perampok, kamu perang lalu mati, kamu dapat surga. Itu janji Allah.

Siapa yang tak ingin masuk surga?

Maka, ancaman kematian dari penjajah bukannya ditakuti oleh rakyat Aceh, malah dirindukan.

Aceh berada di atas angin.

Lalu datanglah orang itu, atas undangan pemerintah Belanda. Lelaki kurus dengan kemampuan berfikir di atas rata-rata. Diam-diam, ia mempelajari karakter orang Aceh. Mereka adalah masyarakat yang agamis. Menyerang fisik secara frontal, bukan malah membuat mereka lemah, malah menjadi termotivasi. Dan dengan pengamatan itu, ia mengusulkan suatu strategi jitu pada Jenderal perang Belanda. Berkat strategi dia-lah, situasi perang berbalik 180 derajat.

Lelaki kurus ini, bernama: Snouck Hurgronje.

***

Untuk menguatkan analisisnya terhadap karakter orang Aceh yang kuat terhadap keislaman, Snouck Hurgronje bahkan rela pergi ke tempat agama Islam pertama kali muncul, Mekkah. Selama dua tahun, Snouck belajar tekun tentang bahasa Arab, sejarah Islam, menghafal Quran, hingga akhirnya ia tahu tentang materi Jihad. Pria kelahiran 8 Februari 1857 ini pun mengambil kesimpulan, sia-sia menyerang fisik rakyat Aceh, menodongnya dengan pistol, mereka takkan gentar.

Kemudian, otaknya berfikir, "Kalau tidak bisa diperangi fisik, Aceh harus diperangi mind set-nya."

Tapi mind set rakyat Aceh bagian mana yang harus dirubah?

Lama sekali ia memutar otak. Lalu, viola!

PISAHKAN AGAMA DENGAN URUSAN DUNIA.

Rumus inilah yang Snouck Hurgronje bawa pulang ke Nusantara, lalu memberitahukannya pada para jenderal perang Belanda.

Sebelumnya, Belanda melarang orang-orang Aceh berhaji, menahan mereka di pelabuhan. Snouck memarahi pembuat kebijakan itu.

"Jangan. Jangan larang mereka berhaji. Biarkan saja mereka berangkat. Semakin kau larang mereka berhaji, makin keras pula mereka melawan kita. Yang penting kita batasi saja durasinya. Jangan sampai mereka terlalu lama di Mekkah."

Dan dengan berpura-pura menampilkan wajah polos, Snouck bilang pada para tokoh-tokoh berpengaruh di Aceh.

"Mohon maaf selama ini kami memerangi kalian. Kami sadar kami salah. Maka, biarlah kita selesaikan perseturuan ini. Jadi silakan orang-orang Aceh fokus beribadah di meunasah (surau/ langgar), kami janji takkan mengganggu kalian. Tapi urusan kebun-kebun biar kami yang pegang."

Nampak benar, nampak sangat toleran. Bahkan percaya atau tidak, Belanda menyumbang dana yang sangat besar untuk membantu pembuatan mushollah, tempat wudhu, kegiatan keagamaan, irigasi air, sampai jalan-jalan menuju mushollah mereka perbaiki agar rakyat Aceh nyaman beribadah. Edan!

Tapi siasat pemisahan antara agama dengan dunia inilah yang menjadi titik balik kekalahan rakyat Aceh.

Setelah mereka merasa nyaman dan tenang beribadah di masjid-masjid, saat itulah Belanda menguasai seluruh tanah produktif. Beberapa orang sudah mengingatkan potensi bahaya tentang hal ini kepada para tetua, tapi hanya dijawab,

"Biarlah, yang penting kita masih bisa beribadah dengan tenang di meunasah. Selama Belanda tidak mengganggu ibadah kita, kita tak perlu berperang. Toh, Belanda sudah banyak menyumbang untuk pembuatan rumah ibadah kita."

Saat itulah, saat seluruh ekonomi dan politik dikuasai penuh, Belanda menghajar K.O. Rakyat Aceh dari belakang. Tanpa ampun. Aceh kelimpungan. Mereka sudah tak punya ketersediaan materi untuk melawan Belanda. Semangat mereka memang masih membara, tapi kini tak lagi imbang. Penjajah menang telak.

Kemenangan itu akhirnya "diresmikan" pada tahun 1903. Sultan Aceh, Muhammad Daud Syah, menyatakan kekalahannya terhadap Belanda secara tertulis.

***

Snouck Hurgronje memang sudah mati di Laiden, Belanda tahun 1936. Tapi siasatnya di Perang Aceh lalu masih digunakan orang-orang yang ingin menguasai ekonomi dan politik untuk mengeruk kekayaan alam Indonesia. Gencar sekali mereka mengatakan,

"Sudah, kalian orang baik, tidak perlu terjun di dunia bisnis. Bisnis itu jahat, loh. Banyak penipu di sana sini. Nanti ibadahmu terganggu kalau ngurus bisnis. Biar kami saja yang ngurus hal ini."

Jika ada ahli agama berbisnis, mereka akan teriak,

"Masa' Ustadz kok masih mikirin dunia. Hubbud dunia, itu. Harusnya fokus mikir akhirat."

Jika ada Ustadz masuk politik, mereka akan mengumpulkan tim bully,

"Ustadz kok ngomongin politik. Itu Ustadz apa provokator?"

Atau,

"Masjid kok dibuat ngomong politik. Dasar penjual ayat!"

Ketika orang-orang baik, orang-orang yang paham agama tidak menguasai ekonomi dan politik, saat itulah kedua unsur ini dipegang oleh orang-orang tak bermoral. Padahal, ekonomi dan politik adalah faktor penting dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

Ippho Santosa, seorang trainer bisnis terkenal di negeri ini mengatakan,

"Orang Islam yang miskin, memang masih bisa berhaji, tapi dia sulit menghajikan orang lain. Orang Islam yang miskin, memang bisa beribadah, tapi dia tidak bisa membangun rumah ibadah. Sebaliknya orang Islam yang kaya, dia bisa haji, juga bisa memberangkatkan haji orang lain. Dia bisa beribadah di masjid, sekaligus bisa membangun masjid. Mulia mana?"

Lebih lanjut, Ippho Santosa bertutur,

"Kenapa umat Islam selalu ditindas? Bahkan kita demo-demo, teriak menentang penjajahan Israel atas Palestina pun tak pernah digubris. Kenapa coba? Karena kita lemah dalam ekonomi. Yahudi itu penduduknya cuma 14 jutaan di seluruh dunia. Sedangkan umat Islam lebih dari 2 miliar. Tapi karena yang nguasai ekonomi dunia orang Yahudi, mereka berani semena-mena. Coba orang Islam yang menguasai ekonomi dunia, jangankan ngebom, Israel maen petasan aja gak bakalan berani."

Begitu pentingnya perekonomian itu.

Di dunia politik, dunia yang dianggap tabu dimasuki para ustadz, Alhamdulillah sudah mulai banyak yang terang-terangan mengutarakan pandangan politiknya. Alasannya satu, "Jika politik tidak dipegang orang-orang memiliki pemahaman agama yang lurus, maka kekuasaan akan dipegang oleh orang-orang buruk."

Kini kita tahu, Ustadz Abdul Somad direkomendasikan oleh para ulama untuk maju di pilpres. Meski setelah itu beragam hinaan muncul mulai dari kata-kata, "Ustadz Syubhat, ustadz sombong, ustadz provokator, anti NKRI." Tapi beliau tetap mempertimbangkan hal itu. Sempat menolak, tapi desakan dari para ulama sudah sangat kuat agar UAS maju di pilpres. Terakhir, Ustadz Arifin Ilham terang-terangan mengatakan dukungannya untuk UAS.

"Sudah saatnya ada seorang ulama menjabat sebagai umaro' sekaligus di negeri tercinta ini," tutur Ustadz Arifin Ilham.

Ya, sudah saatnya kita rebut ekonomi dan politik negeri ini bila tak ingin umat Islam mengulangi kekalahan di Aceh tahun 1903.

Jangan anti dengan ekonomi dan politik. Karena sungguh, selain menjadi pelaku bisnis ulung, Nabi Muhammad juga seorang politikus gemilang.

***

Inspirasi dari QS: Ali Imran 110

Kamis, 02 Agustus 2018

Perbedaan Fiqih

Yang Menyatukan
Atau
Memecah Belah Umat

Saya tidak akan bicara secara luas tentang permasalahan fiqih yang
Sering terjadi

Namun akan mencoba
Menjelaskan dari basic
Kenapa perbedaan itu bisa hadir...👳🏻👳🏻👳🏻

Hadirkan hati...
Fokuskan fikiran y

Merujuk kepada kitab
Al Inshaf Fi Bayani Asbab Al Ikhtilaf
Karya Syekh Waliyullah Ad dahlawi

Ada juga dari Bidayatul Mujtahid karya Syekh Ibnu Rusyd...

Dan Kitab Fiqih Sunnah Karya Sayyid Sabiq dengan prolog Imam Asy Syahid Hasan Al Bana

Berbicara tentang perbedaan Fiqih adalah hal yang sudah menjadi makanan sehari2...☺

Salah satu kisahnya...

Ada seorang ibu baru pulang kajian Fiqih...tadi habis
Belajar bab thoharoh..

Menurut ust yang tadi mengajarkan...

Kalau dia bersentuhan dengan yg bukan muhrim batal...

Selepas pengajian....
Dalam perjalan pulang terdengar Adzan...

Bersegera ia menuju masjid dan wudhu...

Lalu ia melihat ada seorang ibu yg habis wudhu.. Tak sengaja menyentuh yg bukan muhrimnya

Anehnya...
Sang ibu tetap memakai mukena 😳😳😳

Ibu yg td dtg pengajian..
Katakan bahwa wudhunya tidak sah...

Namun ibu yg memakai mukena mengatakan sah
Menurut ust yg ajarin ya

Jadinya cekcok dah 😓😁

Nahh...
Ini salah satu kisah perbedaan fiqih...

Belum ada yg rayain maulid
Dan ada juga yg tdk...

Ada yg lakukan tahlil...
Ada juga yg tidak...

Ada yg katakan musik haram...
Ada juga yang tidak

Dan berbagai perbedaan yg hadir ditengah kehidupan kita 👳🏻👳🏻👳🏻

Keren kan islam...
Berwarna bgt 😎😎😎😎

Saya coba menjabarkan dengan bahasa yg sederhana kepada semua

Semoga Allah membantu saya..aamiin 👳🏻👳🏻👳🏻

Dahulu zaman Rasul masih ada apapun masalah larinya ke Rasulullah. ..

Para sahabat belajar dengan memperhatikan apa yg Rasul kerjakan dan ajarkan

Rasul tidak mengajarkan secara detail bagaimana tentang rukun sholat...sunnah sholat dll...
👳🏻👳🏻👳🏻

Sejalan dengan Wafatnya Rasul 😭😭😭

Para sahabat yg memimpin ummat...
Seperti Sayyidina Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali..

Ketika terjadi permasalahan mereka bertanya kepada para sahabat tentang permasalahan tersebut

Apakah ada yg pernah mendengar bagaimana Rasul memecahkan permasalahan tersebut

Misalnya...
Abu bakar pernah bertanya usai sholat jamaah didepan semua sahabat Rasul...

" Siapakah diantara kalian yang pernah mendengar dari Rasulullah tentang hak waris seorang nenek ?? "

Seorang sahabat bernama Mughirah berkata :
' aku Ya Kholifah ...
Rasul memberinya seperenam'

Abu bakar bertanya lagi...
' adakah orang selain kamu yg mengetahuinya??"

Sahabat yg lain didekatnya berkata...
" betul ya kholifah...
Saya pernah mendengarnya"

Maka abu bakar baru memutuskannya...

Gak pusingkan 😄😄😄😄

Inilah salah satu metode saat Rasul wafat...
Istinbath atau proses pengambilan keputusan seperti tadi..

Sejalan dengan para sahabat Nabi yang dakwah ke seluruh penjuru dunia..
🌍🌍🌍🌍🌍

Maka tantangan setiap  berbeda-beda 👳🏻👳🏻👳🏻

Terlebih Al Qur'an dan Sunnah Rasul juga tak semuanya dibahas secara detail...

Namun semua ulama tetap harus berpegang pada Qur'an dan Sunnah
👳🏻👳🏻

Hal ini sudah dipersiapkan oleh Rasulullah lewat kisah sahabat Mushab bin Umair

" Ya Mushab jika engkau dihadapkan oleh sebuah permasalahan...
Apa yg akan engkau lakukan...???"
Tanya Rasul

" aku akan kembali pada Qur'an dan Sunnah'
Jawab mushab

" jika tidak ditemukan
Apa yg akan engkau lakukan?? "
Tanya Rasul kembali

' aku akan mengambil keputusan sesuai Qur'an dan Sunnah'
Jawab Mushab

" Engkau benar Ya Mushab'
👳🏻jawab Rasul..

Inilah Ijtihad yg memang dibolehkan oleh Rasul...

Sebagaimana dijelaskan dalam sunan tirmidzi...

" Dari Abu Hurairah ra...
Beliau berkata...

Rasulullah saw bersabda
Seorang hakim apabila menghukumi sesuatu dan berijtihad kemudian tepat

Maka ia mendapatkan dua pahala..
Kalau salah mendapatkan satu pahala"

Tak bisa sembarang orang bisa menjadi hakim atau mujtahid

Sekarang ada seseorang yang dahulu jauh dari Allah
😡😡😡👿👿👿

Lalu bertaubat
Belajar agama ke satu majelis agama beberapa kali

Namun sudah berani
Menyalahkan para Ulama yg sudah belajar bertahun2...

Bahkan para imam hadits
Yang hafal ratusan ribu hadits dan puluhan tahun membuat buku...

Mudah mereka salahkan
Dengan modal ilmu agama yg baru mereka pelajari
😨😨😨😨😨😨

Hmmmm....
Inikah akhlak seorang yg belajar ilmu agama 😒😞😞

Kembali bagaimana perbedaan itu bisa semakin berkembang..

Jika kawan2 mau pergi dari Jakarta ke bogor...👳🏻

Tentu ada beberapa alternatif transportasi...

Kereta 🚄
Mobil🚙
Kendaraan umum 🚕

Yang belum ada
Pesawat terbang jurusan
Jakarta Bogor ✈

Hehehe 😁😁😁😁😁

Apapun kendaraan tidak masalah selama tujuannya dan perjalanannya tidak menyimpang 👳🏻👳🏻

Para sahabat nabi yg berdakwah ke seluruh penjuru dunia...🌍🌍

Mengalami tantangan yg berbeda...
Karakter masyarakat 👪
Kondisi cuaca 🌜☀⛅

Dan berbagai permasalahan yg belum pernah terjadi di zaman Rasulullah...

Inilah yg menyebabkan para ulama menggunakan metode ijtihad dalam menyelesaikan masalah yg ada 👳🏻👳🏻👳🏻

Berbagai madzhab yang kita dengar selama ini terutama
4 Madzhab :

1. Madzhab Hanafi👳🏻
2. Madzhab Maliki 👳🏻
3. Madzhab Syafii 👳🏻
4. Madzhab Hambali 👳🏻

( kook bisa berbeda gitu ya...
Apakah mereka nggak merujuk pada Qur'an dan Sunnah tadz?? 😳)

Semua ulama tersebut bukanlah ulama biasa...
Namun kemampuan yg luar biasa dalam memahami Qur'an dan sunnah...

Yang seperti tadi dijelaskan
Berbagai tantangan yg hadir membuat ijtihadpun berbeda. 

Namun perlu diketahui...
Perbedaan tersebut masih di wilayah furu'iyyah bukan ushuliyyah...👳🏻

Madzhab yg terlahir bukan untuk memecah belah umat
Namun
Untuk memudahkan umat dalam memahami islam

Sebagaimana pesan Allah
Di Surat Al Hajj ayat 78

" DIA sekali-kali tidak menjadikan suatu kesulitan untuk kalian dalam urusan agama"
👳🏻👳🏻👳🏻

( kalau kita mah gak perlu bermadzhab itu ulama tsb tadz..
Langsung Qur'an dan Sunnah..gmn 😤)

Begini mas bro..mba bro 😁

Saat kita tdk bermadzhab sebenarnya jg bermadzhab...

Kawan2 tentu belajar agama pada seorang guru...
Dan guru tsb tentu akan mengikuti pada salah satu madzhab yg ada 👳🏻👳🏻

Kalau modal belajar dari internet..ikut talim beberapa waktu...
Apa sudah bs dikatakan ilmu yg mumpuni sehingga berani berkata tdk bermadzhab? ☺👳🏻

Kembali tadi
Semua perbedaan itu masih di wilayah Furu'iyyah atau cabang agama...

Bukan ushuliyyah atau pokok agama...

(mumet aku pak ustadz😳)

Begini yg dikatakan pokok agama ialah Rukun Iman dan Rukun Islam...

Selama semua perbedaan tdk merubah rukun iman dan rukun islam...

Maka tidak ada masalah
👳🏻👳🏻👳🏻👳🏻☺☺☺

Namun jika...
Sholatnya 3x sehari...
Ada nabi selain Nabi Muhammad saw

Hingga syahadatpun diubah....
😳😳😳😳😳😳😳

Ini uda masalah pokok...

Masalah perbedaan dimasalah furu'iyyah atau cabang masih bisa ditolerir

Seperti td diawal ada bab masalah batal wudhu jk bertemu dengan yg bukan muhrim...

Madzhab Syafii..batal
Madzhab Maliki..tdk batal
Madzhab hanafi dan hambali...
Tidak batal selama tidak menimbulkan syahwat...

Bukan merubah rukun iman dan rukun islam kan ☺☺

Mau merayakan maulid dan tahlil
Tdk merayakan...
Merubah rukun iman dan islam tdk...☺☺☺

Jadi itu patokan buat sahabat semua...

Apakah perbedaan yang ada merubah rukun iman dan rukun islam tdk....☺👳🏻

Dan diskusi dengan guru tentang segala perbedaan yang ada...👳🏻👳🏻

Rasul mengajarkan...

*Ikhtilafu ummati rahmatun*

*Perbedaan pendapat dikalangan umatku adalah rahmat*

Bijaksanalah menghadapi semua....

Jangan mudah menyalahkan...

Jika memang berbeda pandangan dengan seorang guru...
Silakan belajar dengan guru yg lain👳🏻👳🏻👳🏻

Saran saya...
Belajar fiqih pada satu guru untuk yang baru belajar fiqih dasar

Dan memang di IQRO saya tdk fokus bicara fiqih...
Untuk meredam segala perdebatan..

Ajak siapapun gabung di IQRO yaaa...

Mohon maaf lahir batin..

Wassalamu'alaikum wr. wbr.

_Muhammad Reza Adrianto_

Jumat, 27 Juli 2018

Kata Kata Bijak Al Habbib Luthfi bin Yahya Pekalongan

"KATA-KATA BIJAK SANG SUFI, AL–‘ARIF BILLAH MAULANA AL-HABIB LUTFI BIN YAHYA PEKALONGAN"

“Rahasia Allah terletak pada makhlukNya.”

“Sesama wali quthub meski memiliki pangkat kewalian yang sama tetapi memiliki sirr atau rahasia yang berbeda. Salah satu hikmahnya adalah agar tidak ada kecemburuan di antara makhluk Allah.”

“Jangan sekali-kali melupakan guru yang telah mengenalkanmu dzahir-dzahir syariat, terlebih guru mursyidmu yang telah membimbingmu menuju Allah. Salah satu sebab kenapa aku memperoleh derajat terhormat saat ini adalah karena aku sangat menghormati guru-guruku.”

“Rizki itu ada dua, Tajrid dan Kasbi. Rizki Tajrid diperoleh tanpa melalui ikhtiar, inilah karunia yang Allah berikan kepada para auliya' (kekasih Allah). Sedang rizki Kasbi didapat melalui proses ikhtiar.”

“Rizki itu ibarat tangki mobil, sudah ada takarannya gak bisa dilebihkan atau dikurangi. Kalau dilebihkan bisa-bisa luber dan kalau dikurangi bisa-bisa pengemudi tidak sampai ke tujuan.”

“Jangan kau akui keilmuan seorang alim yang suka mencerca para auliya’ dan ulama.”

“Qana’ah dan zuhud adalah pakaian tani yang kita gunakan untuk menggarap lahan di sawah, pelindung dari kotoran-kotoran dan lumpur yang bisa menodai tubuh kita dikala menggarap lahan. Begitulah kaum sufi memandang dunia, mereka tetap bekerja, ikhtiar mencari rizki dengan bersikap qana’ah dan zuhud agar kotoran dunia tidak mengotori hati mereka yang bersih.”

“Anda keliru jika menyangka para ulama sufi tidak kaya. Al-Imam Abul Hasan asy-Syadzili memiliki empat ekor kuda paling mahal di masanya, kereta kudanya memiliki dua roda yang dihiasi mutiara dan batu mulia, tapi tidak sedikitpun kemegahan kereta kuda itu mengisi relung hatinya. Bahkan ketika ada orang yang takjub akan kemegahan kereta kudanya dan sangat menginginkan apa yang dimiliki sang sufi, asy-Syadzili lantas memberikan kereta kudanya untuk orang tersebut.”

“Tidak usah memikirkan kekeramatan, yang penting kalian mendalami sekaligus mengamali secara benar dzahir-dzahir syariat.”

“Aku tidak pernah belajar komunikasi dengan arwah di alam barzakh. Aku bisa karena memiliki mahabbah(kecintaan) kepada meraka. Ilmu seperti itu tidak usah dipelajari, berbahaya, karena kalian belum bisa membedakan mana arwah para wali dan mana arwah yang merupakan jelmaan iblis.”

“Hikmah di balik tanaman yang diletakkan di atas kuburan adalah untuk meringankan adzab si ahli kubur. Karena selama tanaman itu masih hijau, dia (tanaman) bertasbih memujiNya. Hal inilah yang menjadi sebab turunnya rahmat diringankan siksaan si ahli kubur.”

“Kasih sayang seorang wali itu sama seperti kasih sayang seorang ibu kepada anaknya, bahkan mereka rela menanggung adzab yang turun di umat mereka. Begitulah sifat para auliya’.”

“Rahmat turun karena sebab ikhtiar. Contoh: sakinah, mawaddah dan rahmahakan muncul jika seseorang sudah ikhtiar untuk menikah.”

“Qudrat dan iradat Allah Swt. ditunjukan pada tiap makhluk yang telah Dia ciptakan.”

“Make up orang mukmin ialah bekas sujud yang memancar dari wajahnya.”

“Maksiatnya Nabi Adam As. merupakan tarbiyah Allah Swt. kepada Nabi Adam As. agar kelak jangan mengulangi perbuatan tersebut.”

“Hikmah diperoleh setelah penalaran yang mendalam. Hikmah juga mengajarkan seseorang untuk bersikap sabar.”

“Demi menghormati Abdullah bin Umi Maktum, Rasulullah Saw. selalu berdiri tiap kali ada orang buta yang lewat di hadapan beliau.”

“Berpalingnya Rasulullah Saw. dari Abdullah bin Umi Maktum membuat beliau ditegur oleh Allah Swt. dengan cara yang halus yaitu dengan dhamir ghaib: “Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling”, bukan dengan dhamir mukhathab: “Kamu (Muhammad) bermuka masam dan berpaling”, (QS. ‘Abasa ayat 1). Hal ini adalah bentuk pendidikan sekaligus perintah Allah kepada Rasulullah Saw. untuk menyampaikan dakwah, terlepas dari diterima atau tidaknya dakwah Rasulullah Saw., sebagai kewajiban beliau selaku utusan Allah sekaligus menekankan bahwa hak Allah Swt. adalah memberikan hidayah pada siapa saja yang Dia kehendaki.”

“Salah satu penyakit hati yang berbahaya adalah hasud. Hasud jika dikombinasikan dengan sifat ghaflah atau lalai akan memunculkan sikap sombong.”

“Hasad dan marah adalah dua hal yang saling berhubungan satu sama lain.”

“Segala sesuatu memiliki batasan, termasuk kesabaran. Jika sabar tidak memiliki batas, mungkin Kanjeng Nabi Saw. akan diam saja dan tidak akan memerangi kaum kafir di Perang Badar.”

“Bersabar tidak boleh menuruti hawa nafsu tapi harus dengan ilmu.”

“Aku (Oki Yosi) pernah bertanya kepada Abah: “Bagaimanakah cara kita mengetahui keinginan yang semata-mata karena Allah dan keinginan yang bersumber dari nafsu?” Beliau Habib Luthfi bin Yahya menjawab: “Bagi saja keinginan itu menjadi dua, satu untuk akal dan kedua untuk ilmu. Akal sebagai hakim dan ilmu alat untuk menganalisa dengan hati sebagai rajanya yang akan mendorong keinginan kita bertindak semata-mata karena Allah.”

(Disarikan dari pengajian rutin al-‘Arif Billah Maulana al-Habib M. Luthfi bin Yahya Pekalongan selama Ramadhan 1434 H)

Tawasul

Langsung Saja Minta Sama Allah, Kenapa Minta Sama Yang Lain....

Ya itulah Salah satu kalimat yang diucapkan beberapa orang ketika ada diskusi tentang keutamaan doa lewat wasilah orang2 tertentu...

Suatu kisah dalam kitab hadits bukhori...

Musim kemarau pernah terjadi Pada Zaman Umar Bin Khottob..

Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu anhu, Mu’awiyah bin Abi Sufyan Radhiyallahu anhu dan para Shahabat yang bersama mereka, juga para Tabi’in yang mengikuti mereka dengan baik ketika ditimpa kekeringan mereka memohon diturunkannya hujan, bertawassul, dan meminta doa kepada orang yg memiliki keutamaan seperti kepada al Abbas bin Abdil Muththalib selaku Paman Rasulullah saw

Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu anhu berkata....

*_Ya Allah dahulu kami bertawassul kepada-Mu dengan Nabi-Mu dan Engkau menurunkan hujan kepada kami dan kini kami bertawassul kepada-Mu dengan Paman Nabi kami, karena itu turunkanlah hujan kepada kami_*

Akhirnya tidak lama kemudIan turunlah hujan disaat Itu juga.

Sahabat Umar Bin Khottob menyadari Paman Nabi memiliki keutamaan yang berbeda dibandingkan dengan sahabat Nabi yg bukan keluarga Nabi Langsung

Ditambah Abbas bin Abdul Mutholib jUga seorang Ulama Dan Wali Allah.

Inilah juga Mengapa Saya sangat senang berdekatan Dan melayani Keturunan Rasulullah saw hingga bisa belajar Langsung dengan mereka.

Cara yang dilakukan Sahabat Umar Bin Khottob bisa dinamakan dengan wasilah Dan tawassul

wasilah dan tawasul adalah istilah yang saling berkaitan satu sama lain.

Wasilah adalah perantara Atau secara etimologi berarti:  segala hal yang dapat mencapai atau mendekatkan kepada sesuatu.

Sedang tawassul adalah usaha mendekatkan diri kepada Allah dengan menggunakan wasilah

Washilah terbagi dua :

Wasilah kauniyah : wasilah yang Allah ciptakan secara  fitrah untuk seluruh manusia

Wasilah syar’iyah :  wasilah yang di syariatkan di dalam Al Qur'an maupun sunnah

Wasilah kauniyah sangat mungkin diwujudkan seorang mu’min ataupun kafir.  

Contoh :  makan untuk kenyang, pakaian untuk menjaga diri dari rasa dingin atau panas dan seterusnya.

Adapun wasilah syar’iyah hanyalah muncul dari seorang mukmin saja.

Tentang wasilah Dan tawassul ini juga dijelaskan dalam Surat Al Maidah Ayat 35 :

يَأيُّهَا الَّذِيْنَ أَمَنُوْا اتَقُوا اللهَ وَ ابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيْلَةَ

_“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan *carilah wasilah yang mendekatkan diri kepada-Nya*_

Dengan wasilah Apa saja Kita bertawassul kepada Allah..

Jawabannya sebagai berikut...

*1. Tawasul melalui Asmaul Husna*

Dengan nama nama Allah yang baik dan sifat-sifat-Nya yang tinggi.  Hal ini Allah tegaskan dalam surat Al A’raf ayat 180 :

وَ ِللهِ الأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوْه بِهَا

_“Dan hanya milik Allah nama-nama yang baik. Maka berdoalah kalian dengan (wasilah) nama-nama tersebut”._

Sebutlah asma2 Allah Saat Kita sebelum berdoa kepada-Nya

*2.Tawassul dengan membaca shalawat*

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, _“Semua doa tertutupi tidak bisa naik ke langit sampai dibacakan shalawat untuk Nabi Muhammad shallahu ‘alaihi wa sallam.”

(HR. At Thabrani)

Dan Allah azza WA jalla pun mengajarkan agar Kita Perbanyak Membaca shalawat kepada Beliau.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

_“Sesungguhnya Allah dan Malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.”_

[Al-Ahzaab: 56]

Sebagaimana Saya sering sarankan perbanyaklah baca shalawat Fatih yg memiliki berbagai keutamaan dibandingkan shalawat lain.

*3.Tawasul dengan amalan sholih yang pernah dilakukan seseorang yang bertawasul tersebut.*

Jenis tawasul ini didasari hadits Muttafaqun ‘Alaihi dari Abdullah bin Umar tentang tiga orang dari kaum terdahulu yang terperangkap di sebuah gua karena tertutup batu besar.

Salah satu diantara mereka bertawasul dengan amalan berbakti kepada kedua orang tuanya.

Yang kedua bertawasul dengan terjaganya kehormatan dia dari perbuatan zina dan yang ketiga bertawasul dengan penunaian amanahnya.

Hal itu mereka lakukan agar Allah menggeser batu tersebut. Akhirnya pun Allah kabulkan do’a mereka.

*4.Tawasul dengan menyebutkan keadaannya yang sangat membutuhkan sesuatu kepada Allah*

Doa Nabi Zakariya yang Allah kisahkan di dalam firman-Nya menunjukkan bolehnya perkara ini.

قَالَ رَبِّ إِنِّي وَهَنَ الْعَظْمُ مِنِّي وَاشْتَعَلَ الرَّأْسُ شَيْبًا وَلَمْ أَكُنْ بِدُعَائِكَ رَبِّ شَقِيًّا

_“Wahai Rabbku sesungguhnya tulangku telah melemah, rambutku telah ditumbuhi uban dan aku belum pernah kecewa dalam berdo’a kepada-Mu, wahai Rabbku”._

Kemudian beliau pun meminta kepada Allah untuk dianugerahi seorang putera yang sholih. Dan Allah pun mengabulkannya.

*5.Tawasul dengan Doa Orang Yang Sholeh Dan berilmu*

Surat Al-Mujadilah Ayat 11

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ ۖ وَإِذَا قِيلَ انْشُزُوا فَانْشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

_Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu._

_Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", maka berdirilah, *niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.* Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan._

Jadi tidak hanya sholeh saja Namun juga memiliki ilmu.

Tentu berbeda aktivitas seorang yang berilmu Dan tidak berilmu

Allah berfirman,

قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُوْلُوا الْأَلْبَابِ

_Katakanlah apakah sama orang-orang yang mengetahui dan orang-orang yang tidak mengetahui._

_Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran._

(QS Az Zumar: 9)

Ketika orang sholeh Pada umumnya hanya melihat dari sisi luar Atau dzhohir saja

Maka mereka yg berilmu jauh melihat lebih dalam Dan jauh lagi.

Merekalah yg disebut Ulama Dan Wali Allah

Namun Terkadang Kita merasa sudah cukup dari Pemikiran Kita saja

Dan perlu diingat ketika seseorang bertawasul bukan berati ia seperti tdk berharap kepada Allah

Atau ada kalimat yg menyatakan terlalu melebihkan dengan perantara tawassul Baik dengan Atas nama Rasulullah saw Atau  wali Allah

Kita tetap bergantung kepada Allah Namun menyadari ada seseorang yg Allah cintai

Ditambah Jika Kita berdoa Langsung dengan banyaknya dosa serta kekurangan yg ada belum Tentu diterima Allah azza WA jalla

Dan tanpa sadar dalam keseharianpun Kita juga suka memakai perantara

Ketika Kita berobat ke dokter juga bukan berharap sembuh dari Dokter

Itu hanyalah wasilah saja..

Demikian ulasan yang bisa Saya berikan.

Semoga Allah Dan Rasulullah ridhoi

Senin, 23 Juli 2018

Tawasul

Langsung Saja Minta Sama Allah, Kenapa Minta Sama Yang Lain....

Ya itulah Salah satu kalimat yang diucapkan beberapa orang ketika ada diskusi tentang keutamaan doa lewat wasilah orang2 tertentu...

Suatu kisah dalam kitab hadits bukhori...

Musim kemarau pernah terjadi Pada Zaman Umar Bin Khottob..

Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu anhu, Mu’awiyah bin Abi Sufyan Radhiyallahu anhu dan para Shahabat yang bersama mereka, juga para Tabi’in yang mengikuti mereka dengan baik ketika ditimpa kekeringan mereka memohon diturunkannya hujan, bertawassul, dan meminta doa kepada orang yg memiliki keutamaan seperti kepada al Abbas bin Abdil Muththalib selaku Paman Rasulullah saw

Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu anhu berkata....

*_Ya Allah dahulu kami bertawassul kepada-Mu dengan Nabi-Mu dan Engkau menurunkan hujan kepada kami dan kini kami bertawassul kepada-Mu dengan Paman Nabi kami, karena itu turunkanlah hujan kepada kami_*

Akhirnya tidak lama kemudIan turunlah hujan disaat Itu juga.

Sahabat Umar Bin Khottob menyadari Paman Nabi memiliki keutamaan yang berbeda dibandingkan dengan sahabat Nabi yg bukan keluarga Nabi Langsung

Ditambah Abbas bin Abdul Mutholib jUga seorang Ulama Dan Wali Allah.

Inilah juga Mengapa Saya sangat senang berdekatan Dan melayani Keturunan Rasulullah saw hingga bisa belajar Langsung dengan mereka.

Cara yang dilakukan Sahabat Umar Bin Khottob bisa dinamakan dengan wasilah Dan tawassul

wasilah dan tawasul adalah istilah yang saling berkaitan satu sama lain.

Wasilah adalah perantara Atau secara etimologi berarti:  segala hal yang dapat mencapai atau mendekatkan kepada sesuatu.

Sedang tawassul adalah usaha mendekatkan diri kepada Allah dengan menggunakan wasilah

Washilah terbagi dua :

Wasilah kauniyah : wasilah yang Allah ciptakan secara  fitrah untuk seluruh manusia

Wasilah syar’iyah :  wasilah yang di syariatkan di dalam Al Qur'an maupun sunnah

Wasilah kauniyah sangat mungkin diwujudkan seorang mu’min ataupun kafir.  

Contoh :  makan untuk kenyang, pakaian untuk menjaga diri dari rasa dingin atau panas dan seterusnya.

Adapun wasilah syar’iyah hanyalah muncul dari seorang mukmin saja.

Tentang wasilah Dan tawassul ini juga dijelaskan dalam Surat Al Maidah Ayat 35 :

يَأيُّهَا الَّذِيْنَ أَمَنُوْا اتَقُوا اللهَ وَ ابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيْلَةَ

_“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan *carilah wasilah yang mendekatkan diri kepada-Nya*_

Dengan wasilah Apa saja Kita bertawassul kepada Allah..

Jawabannya sebagai berikut...

*1. Tawasul melalui Asmaul Husna*

Dengan nama nama Allah yang baik dan sifat-sifat-Nya yang tinggi.  Hal ini Allah tegaskan dalam surat Al A’raf ayat 180 :

وَ ِللهِ الأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوْه بِهَا

_“Dan hanya milik Allah nama-nama yang baik. Maka berdoalah kalian dengan (wasilah) nama-nama tersebut”._

Sebutlah asma2 Allah Saat Kita sebelum berdoa kepada-Nya

*2.Tawassul dengan membaca shalawat*

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, _“Semua doa tertutupi tidak bisa naik ke langit sampai dibacakan shalawat untuk Nabi Muhammad shallahu ‘alaihi wa sallam.”

(HR. At Thabrani)

Dan Allah azza WA jalla pun mengajarkan agar Kita Perbanyak Membaca shalawat kepada Beliau.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

_“Sesungguhnya Allah dan Malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.”_

[Al-Ahzaab: 56]

Sebagaimana Saya sering sarankan perbanyaklah baca shalawat Fatih yg memiliki berbagai keutamaan dibandingkan shalawat lain.

*3.Tawasul dengan amalan sholih yang pernah dilakukan seseorang yang bertawasul tersebut.*

Jenis tawasul ini didasari hadits Muttafaqun ‘Alaihi dari Abdullah bin Umar tentang tiga orang dari kaum terdahulu yang terperangkap di sebuah gua karena tertutup batu besar.

Salah satu diantara mereka bertawasul dengan amalan berbakti kepada kedua orang tuanya.

Yang kedua bertawasul dengan terjaganya kehormatan dia dari perbuatan zina dan yang ketiga bertawasul dengan penunaian amanahnya.

Hal itu mereka lakukan agar Allah menggeser batu tersebut. Akhirnya pun Allah kabulkan do’a mereka.

*4.Tawasul dengan menyebutkan keadaannya yang sangat membutuhkan sesuatu kepada Allah*

Doa Nabi Zakariya yang Allah kisahkan di dalam firman-Nya menunjukkan bolehnya perkara ini.

قَالَ رَبِّ إِنِّي وَهَنَ الْعَظْمُ مِنِّي وَاشْتَعَلَ الرَّأْسُ شَيْبًا وَلَمْ أَكُنْ بِدُعَائِكَ رَبِّ شَقِيًّا

_“Wahai Rabbku sesungguhnya tulangku telah melemah, rambutku telah ditumbuhi uban dan aku belum pernah kecewa dalam berdo’a kepada-Mu, wahai Rabbku”._

Kemudian beliau pun meminta kepada Allah untuk dianugerahi seorang putera yang sholih. Dan Allah pun mengabulkannya.

*5.Tawasul dengan Doa Orang Yang Sholeh Dan berilmu*

Surat Al-Mujadilah Ayat 11

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ ۖ وَإِذَا قِيلَ انْشُزُوا فَانْشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

_Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu._

_Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", maka berdirilah, *niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.* Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan._

Jadi tidak hanya sholeh saja Namun juga memiliki ilmu.

Tentu berbeda aktivitas seorang yang berilmu Dan tidak berilmu

Allah berfirman,

قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُوْلُوا الْأَلْبَابِ

_Katakanlah apakah sama orang-orang yang mengetahui dan orang-orang yang tidak mengetahui._

_Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran._

(QS Az Zumar: 9)

Ketika orang sholeh Pada umumnya hanya melihat dari sisi luar Atau dzhohir saja

Maka mereka yg berilmu jauh melihat lebih dalam Dan jauh lagi.

Merekalah yg disebut Ulama Dan Wali Allah

Namun Terkadang Kita merasa sudah cukup dari Pemikiran Kita saja

Dan perlu diingat ketika seseorang bertawasul bukan berati ia seperti tdk berharap kepada Allah

Atau ada kalimat yg menyatakan terlalu melebihkan dengan perantara tawassul Baik dengan Atas nama Rasulullah saw Atau  wali Allah

Kita tetap bergantung kepada Allah Namun menyadari ada seseorang yg Allah cintai

Ditambah Jika Kita berdoa Langsung dengan banyaknya dosa serta kekurangan yg ada belum Tentu diterima Allah azza WA jalla

Dan tanpa sadar dalam keseharianpun Kita juga suka memakai perantara

Ketika Kita berobat ke dokter juga bukan berharap sembuh dari Dokter

Itu hanyalah wasilah saja..

Demikian ulasan yang bisa Saya berikan.

Semoga Allah Dan Rasulullah ridhoi

*KETIKA ALLAH MEMBUKA PINTU PERKENALAN*

إِذَا فَتَحَ لَـكَ وِجْهَةً مِنَ التَّعَرُّفِ فَلاَ تُبــَالِ مَعَهَا أِنْ قَلَّ عَمَلُكَ فَإِنَّـهُ مَا فَـتَـحَهَا لَكَ إِلاَّ وَهُوَ يُرِ يْدُ أَنْ يَـتَـعَرَّفَ إِلَيكَ. أَلَمْ تَـعْلَمْ أَنَّ الـتَّــعَرُّفَ هُوَ مُوْرِدُهُ عَلَيْكَ، وَاْلأَعْمَالُ أَنْتَ مُــهْدِ يْــهَا إِلَـيْهِ، وَأَيــْنَ مَا تُــهْدِ يْهِ إِلَـيْهِ مِمَّا هُـوَ مُوْرِدُهُ عَلَـيْكَ

"Ketika Dia membukakan bagimu (suatu) Wajah Pengenalan, maka jangan engkau sandingkan (hadirnya) pengenalan itu dengan sedikitnya amal-amalmu; karena sesungguhnya Dia tidak membukakan pengenalan itu bagimu kecuali (bahwa) Dia semata-mata menginginkan untuk memperkenalkan (Diri-Nya) kepadamu.
Tidakkah engkau mengetahui bahwa sesungguhnya (suatu) pengenalan itu (semata-mata) Dia yang menginginkannya atasmu, sedangkan amal-amal itu (semata-mata) suatu hadiah dari engkau kepada-Nya; maka tidaklah sebanding antara apa-apa yang engkau hadiahkan kepada-Nya dengan apa-apa yang Dia inginkan untukmu."

Syarah

Ada rahasia yang sangat halus dibalik kalimat-kalimat Ibnu Athaillah dalam pasal ini. Ibnu Athaillah bukan hendak mengatakan bahwa amaliah tidak berarti, karena itu adalah tanda kepatuhan kepada-Nya. Namun ada persoalan yang lebih besar dari itu yang harus dimiliki setiap pejalan suluk.

Ketika Allah membuka “Wajah Pengenalan”, maka yang Dia anugrahkan kepada seorang hamba adalah Diri-Nya, Eksistensi-Nya, bukan semata perbuatan-Nya, karunia-Nya, atau surga-Nya. Maka tidaklah sebanding ketika Allah menyerahkan seluruh Diri-Nya untuk dikenali, sementara seseorang hanya menyerahkan amal perbuatannya, bukan dirinya.

Adalah Nabi Muhammad SAW memberi nasihat kepada putrinya Fatimah r.a. untuk senantiasa berdoa pada setiap pagi dan petang:

يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْثُ! أَصْلِحْ لِي شَأْنِيَ كُلَّهُ، وَلاَ تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ

Wahai (Dzat) yang Maha Hidup dan Maha Berdiri! Dengan rahmat-Mu aku memohon pertolongan. Perbaikilah urusanku seluruhnya; dan jangan Engkau serahkan aku kepada diriku walau hanya sekejap mata. – H.R. Imam An-Nasai, Imam Al-Hakim.

Dalam hadits yang lain dikatakan:

اللَّهُمَّ رَحْمَتَكَ أَرْجُو، فَلاَ تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ، وَأَصْلِحْ لِي شَأْنِي كُلَّهُ، لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ

Ya Allah, hanya rahmat-Mu yang kuharapkan! Maka janganlah Engkau serahkan aku kepada diriku meski sekejap mata, dan perbaikilah urusanku seluruhnya. (Sungguh) tidak ada tuhan selain Engkau. – H.R. Imam Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Hibban.

Bahwa kebanyakan manusia mengandalkan urusannya kepada dirinya, kepintarannya, amal perbuatannya. Dan sangatlah sedikit manusia yang menginginkan berserah diri sepenuhnya kepada Allah. Sementara dalam Al-Quran dikatakan bahwa sebaik-baik agama seseorang adalah yang: aslama wajhahu (menyerahkan wajahnya), seluruh eksistensinya, seluruh jiwa-raganya, hidup dan matinya, hanya kepada Allah.
وَمَنْ أَحْسَنُ دِينًا مِّمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ وَاتَّبَعَ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا

Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang menyerahkan wajahnya kepada Allah, sedang diapun seorang yang ihsan dan mengikuti millah Ibrahim yang lurus?– Q.S. An-Nisa [4]: 125

Ma’rifat [mengenal] kepada Allah, itu adalah puncak keberuntungan seorang hamba, maka apabila Tuhan telah membukakan bagimu suatu jalan

*IQRO LEARNING CENTER*

Petunjuk Kebajikan Kepada Mahluk Di Dalam Perihal Memaknakan Rukun Rukun Islam

Bismillahirrahmannirrahim

Pasal 1

Bermula Wajib Atas Tiap Tiap Mukhalaf, yakni Aqil Baligh Bahwa Ia Menuntut Ilmu Segala Pekerjaan Agama Yang Wajib Atasnya. Demikian Pula Wajib Atas Seumpama Bapak Atau Suami Bahwa Ia Mengajar kan Yang Demikian Itu, Akan Anak Anaknya Atau Istrinya.

Adapun Jikalau Keduanya Itu, Tiada Boleh Mengajarkan Mereka Itu Maka Wajib Menyerahkan Kepada Yang Mengajar. Adapun Jikalau Yang Belajar Itu Perempuan, Maka Yang Mengajarkan nya pun Perempuan, Melainkan Jikalau Tiada Dapat Guru Perempuan Maka Laki Laki, Tetapi Syarat nya Aman Dari Pada Fitnah Lagi Wajib Pakai Dayang Dayang (Hijab/Penghalang) Antaranya.

Pasal 2

Artinya Baligh yaitu Cukup Umurnya Lima Belas Tahun Qomariyah Yaitu Dengan Itungan Bulan Bulan Islam. Sama Saja Anak Laki - Laki Atau Perempuan Demikian Pula Anak Perempuan Jika Dapat Haid Dari Umur Sembilan Tahun Atau Lebih Adanya. 


Pasal 3

Bermula Nikmat Tuhan Yang Amat besar Kepada Hambanya Yaitu lah Nikmat Islam dan Nikmat Iman Sebab Amalan Amalan Keduanya Itu Menjadi Lantaran Pada Masuk Surga Dan Selamat Dari Pada Api neraka. 




Minggu, 22 Juli 2018

Tetap Berdakwah

Perjuangan Ini Belum Selesai, selama Ruh ini Masih ada di dalam Jasad, maka teruslah Melangkah kedepan....

Memang Ujian, cobaan, dan Godaan Pasti Akan Menghampiri Bagi Mereka Yang Berjuang di Jalan Allah....

Shalawat Al Fatih

BERADAB DAN BERAKHLAQ KEPADA AHLUL BAIT PARA HABAIB

Aku ​SANTRI DURHAKA KEPADA GURU​

Dikisahkan belasan tahun lalu seorang santri yang sedang nyantri di Rubat Tarim yang saat itu diasuh Habib Abdulloh Assyatiri, dia dikenal sangat Alim hingga mampu menghafal kitab tuhfatul muhtaj 4 jilid. siapa tak kenal dia??
Semua tau bahwa ia sangat Alim bahkan diprediksi sebagai calon ulama besar.

Nah, Suatu hari disaat habib Abdulloh mengisi pengajian rutin santri, tiba tiba habib bertanya tentang santri yang sangat terkenal Alim itu. "Kemana si fulan???"
Semua santri bingung menjawab pertanyaan sang guru.

Ternyata santri yang dimaksud tidak ada di pondok melainkan keluar berniat mengisi pengajian di kota Mukalla tanpa izin.

Akhirnya habib Abdulloh Assyatiri yg sangat terkenal Allamah dan Waliyulloh berkata :

*"Baiklah orangnya boleh keluar tanpa izin, tapi ilmunya tetap di sini!!!".*

Di kota Mukalla, santri yang sudah terkenal Alim tersebut sudah di nanti nantikan para pecinta ilmu untuk mengisi pengajian di masjid omar Mukalla.
Singkat cerita si santri ini pun maju kedepan dan mulai membuka ceramahnya dengan salam dan muqaddimah pendek.

Allohu akbar !!! Ternyata, setelah membaca amma ba'du si Alim ini tak mampu berkata sama sekali, bahkan kitab paling kecil sekelas Safinah pun tak mampu ia ingat sedikitpun....
Sontak dia tertunduk dan menangis.. para hadirin pun heran,

"Ada apa ini???",, akhirnya Salah satu Ulama kota mukalla pun menghapirinya dan bertanya;
"Saudara mengapa begini??? Apa yang saudara lakukan sebelumnya?".

Dia menjawab :
"Aku keluar tanpa izin habib dari pesantren."
Dia terus menangis , dan beberapa orang menyarankan agar ia meminta maaf kepada Habib..

Parahnya dia dengan sombong tidak mau meminta maaf!!.
Kesombongannya ini membuat semua orang menjauhinya, dan tidak ada satupun yang perduli padanya, bahkan hidupnya setelah itu sangat miskin dan terlunta lunta dengan menjual daging ikan kering.
Dan di saat ia meninggal, ia mati dalam keadaan miskin bahkan kain kafannya pun tak mampu dibeli dan akhirnya Su'ul Khotimah.

Na'udzubillahi Min Dzalik.

Wallahu'alam

Semoga kita diwafatkan dalam keada'an husnul khatimah dan mampu mengucapkan" لااله الا الله "

*_Saat Rabithah guru dan murid terbangun inilah yg terjadi_*

ada sahabat kami langsung yg ia beberapa waktu lalai dengan dzikir thoriqoh ya...

dan yang terjadi Syekh Thoriqoh y datang dalam.mimpi dan memarahinya

begitujuga istri dari guru kami Abah Kyai Yunus

saat ia seorang hafidzoh lalai murojaah krn lelah banyak aktivitas...

ia didatangi oleh ayahnya dalam mimpi dan menegurnya...

*Inilah Rabithah yg terbangun*

*maka sedihlah jika dirimu sudah jarang bertemu guru di alam dzohir ditambah di alam bathin gurumu tak pernah berjumpa denganmu*

sebagaimana ada kisah seorang wanita yg menangis krn sdh 3 hari tdk bertemu Rasulullah saw dalam mimpi

Pintu Syariat terletak pada para Ulama dimana berbagai limpahan ilmu syariat akan mengalir

saat didepan mereka kita terlalu banyak bicara maka akan sedikit ilmu yg akan diperoleh dari para Ulama..

proses penjagaan Ulama kepada santrinya lewat majelis2 ilmu yg diajarkan terutama dengan metode talaqqi hingga pemberian ijazah ilmu...

Proses pelajaran bisa dirasakan langsung oleh kita

maka saat kita sdh lamatdk hadir ke majels ilmu dan dibiarkan oleh para guru saat kita lama tdk datang ke majelis

maka berhati2lah hubunganmu dengan mereka sdh emakin menjauh

Sementara

Auliya ialah Gerbang Ilmu Makrifatullah Wa Makrifaturrasul

Dimana Hati ialah adalah kunci dari ilmu tsb...

betapa banyak org yg peroleh ilmu laduni tanpa melalui proses belajar formal dikarenakan hati mereka yg kuat Rabithah dengan sang aulia

namun saat aulia itu di kecewakan jangan heran ilmu laduni atau berkah yg kita rasa akan bermasalah

proses penjagaan Auliya terutama lewat alam bathin seperti mimpi

bahkan bisa lebih halus di alam bathinul bathin

pelajaran yg diberikan auliya ada yg dirasakan lgs dan ada jg yg tdk kita rasakan langsung

saat kita sdh lama tdk bermimpi guru2 auliya kita maka bisa jadi hubungan hatimu sdh mulai menjauh

sebagaimana kisah yg di group diskusi...

apalagi jika Ulama Wal Auliya maka lisan dan hati perlu dijaga...

bila hubungan dengan ulama dan auliya sdh semakin menjauh

maka siapa lg yg akan mengantarkanmu kepada Allah dan Rasulullah saw.

Jumat, 20 Juli 2018

Risalah 3

Ada sebagian sahabat bertanya...

_Kenapa ya saya sudah ikut kajian kemana2 tapi hati masih gelisah?_🤔

Dan ternyata yang alami ini bukan hanya satu atau dua orang saja.

Bisa jadi diantara kita sudah sering ikut kajian dimanapun tetapi kita melupakan apa yg di butuhkan oleh diri kita.

Sebagaimana di Risalah ke 2 saya sampaikan manusia  memiliki 3 Komponen yaitu :

- Jasadiyah
- Fikriyah
- Ruhiyah

Setiap komponen di atas membutuhkan asupan untuk meningkatkan kemampuannya...

Komponen jasadiyah di latih dengan Shaum,Olahraga Dan Makan yang halalan Thoyyiban

Komponen Fikriyah dibina dengan ikut belajar kajian berbagai Ilmu Pengetahuan Umum Maupun Agama.

Kebanyakan sahabat menyadari saat mereka datang ke kajian2 agama maka itu sudah lebih dari cukup.

Padahal Komponen Ruhiyah ditingkatkannya tdk bisa dengan pola pembelajaran Fikriyah..

Sebagaimana ada seorang guru sampaikan kepada muridnya agar bersabar dalam hadapi ujian..

Muridnyapun bingung karena sudah merasa bersabar namun hatinya masih belum bisa tenang atau ikhlas atas apa yg dialaminya.

Karena perkara sabar bukan hanya sekedar kata2 saja..

Sebagaimana saya pernah sampaikan ke team dakwah SWAT IQRO

*_Ilmu itu tidak hanya dipelajari namun harus dirasakan_*

sebagaimana Nabi Ibrahim as pernah alami sebuah kisah untuk meningkatkan kekuatan iman kepada Allah

Surat Al-Baqarah Ayat 260

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ أَرِنِي كَيْفَ تُحْيِي الْمَوْتَىٰ ۖ قَالَ أَوَلَمْ تُؤْمِنْ ۖ قَالَ بَلَىٰ وَلَٰكِنْ لِيَطْمَئِنَّ قَلْبِي ۖ قَالَ فَخُذْ أَرْبَعَةً مِنَ الطَّيْرِ فَصُرْهُنَّ إِلَيْكَ ثُمَّ اجْعَلْ عَلَىٰ كُلِّ جَبَلٍ مِنْهُنَّ جُزْءًا ثُمَّ ادْعُهُنَّ يَأْتِينَكَ سَعْيًا ۚ وَاعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

_Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata: "Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang mati"._

_Allah berfirman: "Belum yakinkah kamu?"_

_Ibrahim menjawab: "Aku telah meyakinkannya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap_

_Allah berfirman: "(Kalau demikian) ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah semuanya olehmu._

_(Allah berfirman): "Lalu letakkan diatas tiap-tiap satu bukit satu bagian dari bagian-bagian itu, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera". Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana._

Ayat di atas menjelaskan bahwa peningkatan Ruhiyah diperlukan sebuah proses belajar yg berbeda saat belajar dengan proses fikriyah.

Proses belajar fikriyah Nabi Ibrahim as telah di lalui lebih dahulu dengan kisah yg dijelaskan dalam ayat ini..

Surat Al-An'am Ayat 76

فَلَمَّا جَنَّ عَلَيْهِ اللَّيْلُ رَأَىٰ كَوْكَبًا ۖ قَالَ هَٰذَا رَبِّي ۖ فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لَا أُحِبُّ الْآفِلِينَ

_Ketika malam telah gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: "Inilah Tuhanku", tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: "Saya tidak suka kepada yang tenggelam"._

Surat Al-An'am Ayat 77

فَلَمَّا رَأَى الْقَمَرَ بَازِغًا قَالَ هَٰذَا رَبِّي ۖ فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لَئِنْ لَمْ يَهْدِنِي رَبِّي لَأَكُونَنَّ مِنَ الْقَوْمِ الضَّالِّينَ

_Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: "Inilah Tuhanku". Tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata: "Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang yang sesat"._

Surat Al-An'am Ayat 78

فَلَمَّا رَأَى الشَّمْسَ بَازِغَةً قَالَ هَٰذَا رَبِّي هَٰذَا أَكْبَرُ ۖ فَلَمَّا أَفَلَتْ قَالَ يَا قَوْمِ إِنِّي بَرِيءٌ مِمَّا تُشْرِكُونَ

_Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, dia berkata: "Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar". Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata: "Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan._

Surat Al-An'am Ayat 79

إِنِّي وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا ۖ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ

_Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan._

*_Dimana seseorang saat dalam tarbiyah fikriyah lebih banyak menggunakan dengan kemampuan Analisa Logika_*

*_Dan saat memasuki tarbiyah ruhiyah maka ia harus belajar lebih daripada logikanya saja_*

*_Dan untuk memasuki Tarbiyah Ruhiyah membutuhkan guru yg memiliki sanad ilmu dan amalan yang sampai kepada Rasulullah saw_*

jangan sampai kita sibuk belajar kajian ke berbagai tempat namun tidak memahami apa yg sedang kita cari.

ada sebuah kisah yg menarik...

Suatu ketika ada seorang Nelayan dan Anak Muda  yang pintar dengan gelar S3 yg dimilikinya.

Mereka pergi ke suatu tempat dengan memakai perahu🛶🛶

Sambil menuju tempat perahu dilabuhkan mereka berdialog

Sang pemuda bertanya kepada bapak nelayan

_Bapak terakhir sekolah apa?_🤔🤔

_Bapak ndk sekolah nak. dari kecil langsung jadi nelayan bersama ortu_
☺☺

_Wah bapak rugi banget ndk pernah sekolah. padahal zaman sekarang dibutuhkan ilmu berbagai hal termasuk jd nelayan_
😎📕📕📕

bapak nelayan hanya terdiam senyum☺

Hingga akhirnya mereka naik perahu menuju tengah lautan untuk melakukan penelitian.

Tiba2 anak muda tadi terjatuh ke tengah laut dan meminta tolong kpd bapak nelayan😱😱

Namun nelayan tersebut hanya berkata :

_Sekarang dengan ilmu yg banyak kau pelajari selamatkan dirimu_

_saya memang tidak pandai dalam banyak hal namun saya tahu ilmu apa yg terpenting dan tetap akhirnya bapak nelayan menolong sang pemuda yang telah dapat pelajaran_

*Jangan sampai kita sudah merasa banyak ilmu padahal belum mencapai ilmu yg lebih mendalam lagi*

_Buya Muhammad Reza_