Jumat, 27 Juli 2018

Kata Kata Bijak Al Habbib Luthfi bin Yahya Pekalongan

"KATA-KATA BIJAK SANG SUFI, AL–‘ARIF BILLAH MAULANA AL-HABIB LUTFI BIN YAHYA PEKALONGAN"

“Rahasia Allah terletak pada makhlukNya.”

“Sesama wali quthub meski memiliki pangkat kewalian yang sama tetapi memiliki sirr atau rahasia yang berbeda. Salah satu hikmahnya adalah agar tidak ada kecemburuan di antara makhluk Allah.”

“Jangan sekali-kali melupakan guru yang telah mengenalkanmu dzahir-dzahir syariat, terlebih guru mursyidmu yang telah membimbingmu menuju Allah. Salah satu sebab kenapa aku memperoleh derajat terhormat saat ini adalah karena aku sangat menghormati guru-guruku.”

“Rizki itu ada dua, Tajrid dan Kasbi. Rizki Tajrid diperoleh tanpa melalui ikhtiar, inilah karunia yang Allah berikan kepada para auliya' (kekasih Allah). Sedang rizki Kasbi didapat melalui proses ikhtiar.”

“Rizki itu ibarat tangki mobil, sudah ada takarannya gak bisa dilebihkan atau dikurangi. Kalau dilebihkan bisa-bisa luber dan kalau dikurangi bisa-bisa pengemudi tidak sampai ke tujuan.”

“Jangan kau akui keilmuan seorang alim yang suka mencerca para auliya’ dan ulama.”

“Qana’ah dan zuhud adalah pakaian tani yang kita gunakan untuk menggarap lahan di sawah, pelindung dari kotoran-kotoran dan lumpur yang bisa menodai tubuh kita dikala menggarap lahan. Begitulah kaum sufi memandang dunia, mereka tetap bekerja, ikhtiar mencari rizki dengan bersikap qana’ah dan zuhud agar kotoran dunia tidak mengotori hati mereka yang bersih.”

“Anda keliru jika menyangka para ulama sufi tidak kaya. Al-Imam Abul Hasan asy-Syadzili memiliki empat ekor kuda paling mahal di masanya, kereta kudanya memiliki dua roda yang dihiasi mutiara dan batu mulia, tapi tidak sedikitpun kemegahan kereta kuda itu mengisi relung hatinya. Bahkan ketika ada orang yang takjub akan kemegahan kereta kudanya dan sangat menginginkan apa yang dimiliki sang sufi, asy-Syadzili lantas memberikan kereta kudanya untuk orang tersebut.”

“Tidak usah memikirkan kekeramatan, yang penting kalian mendalami sekaligus mengamali secara benar dzahir-dzahir syariat.”

“Aku tidak pernah belajar komunikasi dengan arwah di alam barzakh. Aku bisa karena memiliki mahabbah(kecintaan) kepada meraka. Ilmu seperti itu tidak usah dipelajari, berbahaya, karena kalian belum bisa membedakan mana arwah para wali dan mana arwah yang merupakan jelmaan iblis.”

“Hikmah di balik tanaman yang diletakkan di atas kuburan adalah untuk meringankan adzab si ahli kubur. Karena selama tanaman itu masih hijau, dia (tanaman) bertasbih memujiNya. Hal inilah yang menjadi sebab turunnya rahmat diringankan siksaan si ahli kubur.”

“Kasih sayang seorang wali itu sama seperti kasih sayang seorang ibu kepada anaknya, bahkan mereka rela menanggung adzab yang turun di umat mereka. Begitulah sifat para auliya’.”

“Rahmat turun karena sebab ikhtiar. Contoh: sakinah, mawaddah dan rahmahakan muncul jika seseorang sudah ikhtiar untuk menikah.”

“Qudrat dan iradat Allah Swt. ditunjukan pada tiap makhluk yang telah Dia ciptakan.”

“Make up orang mukmin ialah bekas sujud yang memancar dari wajahnya.”

“Maksiatnya Nabi Adam As. merupakan tarbiyah Allah Swt. kepada Nabi Adam As. agar kelak jangan mengulangi perbuatan tersebut.”

“Hikmah diperoleh setelah penalaran yang mendalam. Hikmah juga mengajarkan seseorang untuk bersikap sabar.”

“Demi menghormati Abdullah bin Umi Maktum, Rasulullah Saw. selalu berdiri tiap kali ada orang buta yang lewat di hadapan beliau.”

“Berpalingnya Rasulullah Saw. dari Abdullah bin Umi Maktum membuat beliau ditegur oleh Allah Swt. dengan cara yang halus yaitu dengan dhamir ghaib: “Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling”, bukan dengan dhamir mukhathab: “Kamu (Muhammad) bermuka masam dan berpaling”, (QS. ‘Abasa ayat 1). Hal ini adalah bentuk pendidikan sekaligus perintah Allah kepada Rasulullah Saw. untuk menyampaikan dakwah, terlepas dari diterima atau tidaknya dakwah Rasulullah Saw., sebagai kewajiban beliau selaku utusan Allah sekaligus menekankan bahwa hak Allah Swt. adalah memberikan hidayah pada siapa saja yang Dia kehendaki.”

“Salah satu penyakit hati yang berbahaya adalah hasud. Hasud jika dikombinasikan dengan sifat ghaflah atau lalai akan memunculkan sikap sombong.”

“Hasad dan marah adalah dua hal yang saling berhubungan satu sama lain.”

“Segala sesuatu memiliki batasan, termasuk kesabaran. Jika sabar tidak memiliki batas, mungkin Kanjeng Nabi Saw. akan diam saja dan tidak akan memerangi kaum kafir di Perang Badar.”

“Bersabar tidak boleh menuruti hawa nafsu tapi harus dengan ilmu.”

“Aku (Oki Yosi) pernah bertanya kepada Abah: “Bagaimanakah cara kita mengetahui keinginan yang semata-mata karena Allah dan keinginan yang bersumber dari nafsu?” Beliau Habib Luthfi bin Yahya menjawab: “Bagi saja keinginan itu menjadi dua, satu untuk akal dan kedua untuk ilmu. Akal sebagai hakim dan ilmu alat untuk menganalisa dengan hati sebagai rajanya yang akan mendorong keinginan kita bertindak semata-mata karena Allah.”

(Disarikan dari pengajian rutin al-‘Arif Billah Maulana al-Habib M. Luthfi bin Yahya Pekalongan selama Ramadhan 1434 H)

Tawasul

Langsung Saja Minta Sama Allah, Kenapa Minta Sama Yang Lain....

Ya itulah Salah satu kalimat yang diucapkan beberapa orang ketika ada diskusi tentang keutamaan doa lewat wasilah orang2 tertentu...

Suatu kisah dalam kitab hadits bukhori...

Musim kemarau pernah terjadi Pada Zaman Umar Bin Khottob..

Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu anhu, Mu’awiyah bin Abi Sufyan Radhiyallahu anhu dan para Shahabat yang bersama mereka, juga para Tabi’in yang mengikuti mereka dengan baik ketika ditimpa kekeringan mereka memohon diturunkannya hujan, bertawassul, dan meminta doa kepada orang yg memiliki keutamaan seperti kepada al Abbas bin Abdil Muththalib selaku Paman Rasulullah saw

Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu anhu berkata....

*_Ya Allah dahulu kami bertawassul kepada-Mu dengan Nabi-Mu dan Engkau menurunkan hujan kepada kami dan kini kami bertawassul kepada-Mu dengan Paman Nabi kami, karena itu turunkanlah hujan kepada kami_*

Akhirnya tidak lama kemudIan turunlah hujan disaat Itu juga.

Sahabat Umar Bin Khottob menyadari Paman Nabi memiliki keutamaan yang berbeda dibandingkan dengan sahabat Nabi yg bukan keluarga Nabi Langsung

Ditambah Abbas bin Abdul Mutholib jUga seorang Ulama Dan Wali Allah.

Inilah juga Mengapa Saya sangat senang berdekatan Dan melayani Keturunan Rasulullah saw hingga bisa belajar Langsung dengan mereka.

Cara yang dilakukan Sahabat Umar Bin Khottob bisa dinamakan dengan wasilah Dan tawassul

wasilah dan tawasul adalah istilah yang saling berkaitan satu sama lain.

Wasilah adalah perantara Atau secara etimologi berarti:  segala hal yang dapat mencapai atau mendekatkan kepada sesuatu.

Sedang tawassul adalah usaha mendekatkan diri kepada Allah dengan menggunakan wasilah

Washilah terbagi dua :

Wasilah kauniyah : wasilah yang Allah ciptakan secara  fitrah untuk seluruh manusia

Wasilah syar’iyah :  wasilah yang di syariatkan di dalam Al Qur'an maupun sunnah

Wasilah kauniyah sangat mungkin diwujudkan seorang mu’min ataupun kafir.  

Contoh :  makan untuk kenyang, pakaian untuk menjaga diri dari rasa dingin atau panas dan seterusnya.

Adapun wasilah syar’iyah hanyalah muncul dari seorang mukmin saja.

Tentang wasilah Dan tawassul ini juga dijelaskan dalam Surat Al Maidah Ayat 35 :

يَأيُّهَا الَّذِيْنَ أَمَنُوْا اتَقُوا اللهَ وَ ابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيْلَةَ

_“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan *carilah wasilah yang mendekatkan diri kepada-Nya*_

Dengan wasilah Apa saja Kita bertawassul kepada Allah..

Jawabannya sebagai berikut...

*1. Tawasul melalui Asmaul Husna*

Dengan nama nama Allah yang baik dan sifat-sifat-Nya yang tinggi.  Hal ini Allah tegaskan dalam surat Al A’raf ayat 180 :

وَ ِللهِ الأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوْه بِهَا

_“Dan hanya milik Allah nama-nama yang baik. Maka berdoalah kalian dengan (wasilah) nama-nama tersebut”._

Sebutlah asma2 Allah Saat Kita sebelum berdoa kepada-Nya

*2.Tawassul dengan membaca shalawat*

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, _“Semua doa tertutupi tidak bisa naik ke langit sampai dibacakan shalawat untuk Nabi Muhammad shallahu ‘alaihi wa sallam.”

(HR. At Thabrani)

Dan Allah azza WA jalla pun mengajarkan agar Kita Perbanyak Membaca shalawat kepada Beliau.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

_“Sesungguhnya Allah dan Malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.”_

[Al-Ahzaab: 56]

Sebagaimana Saya sering sarankan perbanyaklah baca shalawat Fatih yg memiliki berbagai keutamaan dibandingkan shalawat lain.

*3.Tawasul dengan amalan sholih yang pernah dilakukan seseorang yang bertawasul tersebut.*

Jenis tawasul ini didasari hadits Muttafaqun ‘Alaihi dari Abdullah bin Umar tentang tiga orang dari kaum terdahulu yang terperangkap di sebuah gua karena tertutup batu besar.

Salah satu diantara mereka bertawasul dengan amalan berbakti kepada kedua orang tuanya.

Yang kedua bertawasul dengan terjaganya kehormatan dia dari perbuatan zina dan yang ketiga bertawasul dengan penunaian amanahnya.

Hal itu mereka lakukan agar Allah menggeser batu tersebut. Akhirnya pun Allah kabulkan do’a mereka.

*4.Tawasul dengan menyebutkan keadaannya yang sangat membutuhkan sesuatu kepada Allah*

Doa Nabi Zakariya yang Allah kisahkan di dalam firman-Nya menunjukkan bolehnya perkara ini.

قَالَ رَبِّ إِنِّي وَهَنَ الْعَظْمُ مِنِّي وَاشْتَعَلَ الرَّأْسُ شَيْبًا وَلَمْ أَكُنْ بِدُعَائِكَ رَبِّ شَقِيًّا

_“Wahai Rabbku sesungguhnya tulangku telah melemah, rambutku telah ditumbuhi uban dan aku belum pernah kecewa dalam berdo’a kepada-Mu, wahai Rabbku”._

Kemudian beliau pun meminta kepada Allah untuk dianugerahi seorang putera yang sholih. Dan Allah pun mengabulkannya.

*5.Tawasul dengan Doa Orang Yang Sholeh Dan berilmu*

Surat Al-Mujadilah Ayat 11

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ ۖ وَإِذَا قِيلَ انْشُزُوا فَانْشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

_Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu._

_Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", maka berdirilah, *niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.* Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan._

Jadi tidak hanya sholeh saja Namun juga memiliki ilmu.

Tentu berbeda aktivitas seorang yang berilmu Dan tidak berilmu

Allah berfirman,

قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُوْلُوا الْأَلْبَابِ

_Katakanlah apakah sama orang-orang yang mengetahui dan orang-orang yang tidak mengetahui._

_Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran._

(QS Az Zumar: 9)

Ketika orang sholeh Pada umumnya hanya melihat dari sisi luar Atau dzhohir saja

Maka mereka yg berilmu jauh melihat lebih dalam Dan jauh lagi.

Merekalah yg disebut Ulama Dan Wali Allah

Namun Terkadang Kita merasa sudah cukup dari Pemikiran Kita saja

Dan perlu diingat ketika seseorang bertawasul bukan berati ia seperti tdk berharap kepada Allah

Atau ada kalimat yg menyatakan terlalu melebihkan dengan perantara tawassul Baik dengan Atas nama Rasulullah saw Atau  wali Allah

Kita tetap bergantung kepada Allah Namun menyadari ada seseorang yg Allah cintai

Ditambah Jika Kita berdoa Langsung dengan banyaknya dosa serta kekurangan yg ada belum Tentu diterima Allah azza WA jalla

Dan tanpa sadar dalam keseharianpun Kita juga suka memakai perantara

Ketika Kita berobat ke dokter juga bukan berharap sembuh dari Dokter

Itu hanyalah wasilah saja..

Demikian ulasan yang bisa Saya berikan.

Semoga Allah Dan Rasulullah ridhoi

Senin, 23 Juli 2018

Tawasul

Langsung Saja Minta Sama Allah, Kenapa Minta Sama Yang Lain....

Ya itulah Salah satu kalimat yang diucapkan beberapa orang ketika ada diskusi tentang keutamaan doa lewat wasilah orang2 tertentu...

Suatu kisah dalam kitab hadits bukhori...

Musim kemarau pernah terjadi Pada Zaman Umar Bin Khottob..

Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu anhu, Mu’awiyah bin Abi Sufyan Radhiyallahu anhu dan para Shahabat yang bersama mereka, juga para Tabi’in yang mengikuti mereka dengan baik ketika ditimpa kekeringan mereka memohon diturunkannya hujan, bertawassul, dan meminta doa kepada orang yg memiliki keutamaan seperti kepada al Abbas bin Abdil Muththalib selaku Paman Rasulullah saw

Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu anhu berkata....

*_Ya Allah dahulu kami bertawassul kepada-Mu dengan Nabi-Mu dan Engkau menurunkan hujan kepada kami dan kini kami bertawassul kepada-Mu dengan Paman Nabi kami, karena itu turunkanlah hujan kepada kami_*

Akhirnya tidak lama kemudIan turunlah hujan disaat Itu juga.

Sahabat Umar Bin Khottob menyadari Paman Nabi memiliki keutamaan yang berbeda dibandingkan dengan sahabat Nabi yg bukan keluarga Nabi Langsung

Ditambah Abbas bin Abdul Mutholib jUga seorang Ulama Dan Wali Allah.

Inilah juga Mengapa Saya sangat senang berdekatan Dan melayani Keturunan Rasulullah saw hingga bisa belajar Langsung dengan mereka.

Cara yang dilakukan Sahabat Umar Bin Khottob bisa dinamakan dengan wasilah Dan tawassul

wasilah dan tawasul adalah istilah yang saling berkaitan satu sama lain.

Wasilah adalah perantara Atau secara etimologi berarti:  segala hal yang dapat mencapai atau mendekatkan kepada sesuatu.

Sedang tawassul adalah usaha mendekatkan diri kepada Allah dengan menggunakan wasilah

Washilah terbagi dua :

Wasilah kauniyah : wasilah yang Allah ciptakan secara  fitrah untuk seluruh manusia

Wasilah syar’iyah :  wasilah yang di syariatkan di dalam Al Qur'an maupun sunnah

Wasilah kauniyah sangat mungkin diwujudkan seorang mu’min ataupun kafir.  

Contoh :  makan untuk kenyang, pakaian untuk menjaga diri dari rasa dingin atau panas dan seterusnya.

Adapun wasilah syar’iyah hanyalah muncul dari seorang mukmin saja.

Tentang wasilah Dan tawassul ini juga dijelaskan dalam Surat Al Maidah Ayat 35 :

يَأيُّهَا الَّذِيْنَ أَمَنُوْا اتَقُوا اللهَ وَ ابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيْلَةَ

_“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan *carilah wasilah yang mendekatkan diri kepada-Nya*_

Dengan wasilah Apa saja Kita bertawassul kepada Allah..

Jawabannya sebagai berikut...

*1. Tawasul melalui Asmaul Husna*

Dengan nama nama Allah yang baik dan sifat-sifat-Nya yang tinggi.  Hal ini Allah tegaskan dalam surat Al A’raf ayat 180 :

وَ ِللهِ الأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوْه بِهَا

_“Dan hanya milik Allah nama-nama yang baik. Maka berdoalah kalian dengan (wasilah) nama-nama tersebut”._

Sebutlah asma2 Allah Saat Kita sebelum berdoa kepada-Nya

*2.Tawassul dengan membaca shalawat*

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, _“Semua doa tertutupi tidak bisa naik ke langit sampai dibacakan shalawat untuk Nabi Muhammad shallahu ‘alaihi wa sallam.”

(HR. At Thabrani)

Dan Allah azza WA jalla pun mengajarkan agar Kita Perbanyak Membaca shalawat kepada Beliau.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

_“Sesungguhnya Allah dan Malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.”_

[Al-Ahzaab: 56]

Sebagaimana Saya sering sarankan perbanyaklah baca shalawat Fatih yg memiliki berbagai keutamaan dibandingkan shalawat lain.

*3.Tawasul dengan amalan sholih yang pernah dilakukan seseorang yang bertawasul tersebut.*

Jenis tawasul ini didasari hadits Muttafaqun ‘Alaihi dari Abdullah bin Umar tentang tiga orang dari kaum terdahulu yang terperangkap di sebuah gua karena tertutup batu besar.

Salah satu diantara mereka bertawasul dengan amalan berbakti kepada kedua orang tuanya.

Yang kedua bertawasul dengan terjaganya kehormatan dia dari perbuatan zina dan yang ketiga bertawasul dengan penunaian amanahnya.

Hal itu mereka lakukan agar Allah menggeser batu tersebut. Akhirnya pun Allah kabulkan do’a mereka.

*4.Tawasul dengan menyebutkan keadaannya yang sangat membutuhkan sesuatu kepada Allah*

Doa Nabi Zakariya yang Allah kisahkan di dalam firman-Nya menunjukkan bolehnya perkara ini.

قَالَ رَبِّ إِنِّي وَهَنَ الْعَظْمُ مِنِّي وَاشْتَعَلَ الرَّأْسُ شَيْبًا وَلَمْ أَكُنْ بِدُعَائِكَ رَبِّ شَقِيًّا

_“Wahai Rabbku sesungguhnya tulangku telah melemah, rambutku telah ditumbuhi uban dan aku belum pernah kecewa dalam berdo’a kepada-Mu, wahai Rabbku”._

Kemudian beliau pun meminta kepada Allah untuk dianugerahi seorang putera yang sholih. Dan Allah pun mengabulkannya.

*5.Tawasul dengan Doa Orang Yang Sholeh Dan berilmu*

Surat Al-Mujadilah Ayat 11

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ ۖ وَإِذَا قِيلَ انْشُزُوا فَانْشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

_Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu._

_Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", maka berdirilah, *niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.* Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan._

Jadi tidak hanya sholeh saja Namun juga memiliki ilmu.

Tentu berbeda aktivitas seorang yang berilmu Dan tidak berilmu

Allah berfirman,

قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُوْلُوا الْأَلْبَابِ

_Katakanlah apakah sama orang-orang yang mengetahui dan orang-orang yang tidak mengetahui._

_Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran._

(QS Az Zumar: 9)

Ketika orang sholeh Pada umumnya hanya melihat dari sisi luar Atau dzhohir saja

Maka mereka yg berilmu jauh melihat lebih dalam Dan jauh lagi.

Merekalah yg disebut Ulama Dan Wali Allah

Namun Terkadang Kita merasa sudah cukup dari Pemikiran Kita saja

Dan perlu diingat ketika seseorang bertawasul bukan berati ia seperti tdk berharap kepada Allah

Atau ada kalimat yg menyatakan terlalu melebihkan dengan perantara tawassul Baik dengan Atas nama Rasulullah saw Atau  wali Allah

Kita tetap bergantung kepada Allah Namun menyadari ada seseorang yg Allah cintai

Ditambah Jika Kita berdoa Langsung dengan banyaknya dosa serta kekurangan yg ada belum Tentu diterima Allah azza WA jalla

Dan tanpa sadar dalam keseharianpun Kita juga suka memakai perantara

Ketika Kita berobat ke dokter juga bukan berharap sembuh dari Dokter

Itu hanyalah wasilah saja..

Demikian ulasan yang bisa Saya berikan.

Semoga Allah Dan Rasulullah ridhoi

*KETIKA ALLAH MEMBUKA PINTU PERKENALAN*

إِذَا فَتَحَ لَـكَ وِجْهَةً مِنَ التَّعَرُّفِ فَلاَ تُبــَالِ مَعَهَا أِنْ قَلَّ عَمَلُكَ فَإِنَّـهُ مَا فَـتَـحَهَا لَكَ إِلاَّ وَهُوَ يُرِ يْدُ أَنْ يَـتَـعَرَّفَ إِلَيكَ. أَلَمْ تَـعْلَمْ أَنَّ الـتَّــعَرُّفَ هُوَ مُوْرِدُهُ عَلَيْكَ، وَاْلأَعْمَالُ أَنْتَ مُــهْدِ يْــهَا إِلَـيْهِ، وَأَيــْنَ مَا تُــهْدِ يْهِ إِلَـيْهِ مِمَّا هُـوَ مُوْرِدُهُ عَلَـيْكَ

"Ketika Dia membukakan bagimu (suatu) Wajah Pengenalan, maka jangan engkau sandingkan (hadirnya) pengenalan itu dengan sedikitnya amal-amalmu; karena sesungguhnya Dia tidak membukakan pengenalan itu bagimu kecuali (bahwa) Dia semata-mata menginginkan untuk memperkenalkan (Diri-Nya) kepadamu.
Tidakkah engkau mengetahui bahwa sesungguhnya (suatu) pengenalan itu (semata-mata) Dia yang menginginkannya atasmu, sedangkan amal-amal itu (semata-mata) suatu hadiah dari engkau kepada-Nya; maka tidaklah sebanding antara apa-apa yang engkau hadiahkan kepada-Nya dengan apa-apa yang Dia inginkan untukmu."

Syarah

Ada rahasia yang sangat halus dibalik kalimat-kalimat Ibnu Athaillah dalam pasal ini. Ibnu Athaillah bukan hendak mengatakan bahwa amaliah tidak berarti, karena itu adalah tanda kepatuhan kepada-Nya. Namun ada persoalan yang lebih besar dari itu yang harus dimiliki setiap pejalan suluk.

Ketika Allah membuka “Wajah Pengenalan”, maka yang Dia anugrahkan kepada seorang hamba adalah Diri-Nya, Eksistensi-Nya, bukan semata perbuatan-Nya, karunia-Nya, atau surga-Nya. Maka tidaklah sebanding ketika Allah menyerahkan seluruh Diri-Nya untuk dikenali, sementara seseorang hanya menyerahkan amal perbuatannya, bukan dirinya.

Adalah Nabi Muhammad SAW memberi nasihat kepada putrinya Fatimah r.a. untuk senantiasa berdoa pada setiap pagi dan petang:

يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْثُ! أَصْلِحْ لِي شَأْنِيَ كُلَّهُ، وَلاَ تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ

Wahai (Dzat) yang Maha Hidup dan Maha Berdiri! Dengan rahmat-Mu aku memohon pertolongan. Perbaikilah urusanku seluruhnya; dan jangan Engkau serahkan aku kepada diriku walau hanya sekejap mata. – H.R. Imam An-Nasai, Imam Al-Hakim.

Dalam hadits yang lain dikatakan:

اللَّهُمَّ رَحْمَتَكَ أَرْجُو، فَلاَ تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ، وَأَصْلِحْ لِي شَأْنِي كُلَّهُ، لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ

Ya Allah, hanya rahmat-Mu yang kuharapkan! Maka janganlah Engkau serahkan aku kepada diriku meski sekejap mata, dan perbaikilah urusanku seluruhnya. (Sungguh) tidak ada tuhan selain Engkau. – H.R. Imam Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Hibban.

Bahwa kebanyakan manusia mengandalkan urusannya kepada dirinya, kepintarannya, amal perbuatannya. Dan sangatlah sedikit manusia yang menginginkan berserah diri sepenuhnya kepada Allah. Sementara dalam Al-Quran dikatakan bahwa sebaik-baik agama seseorang adalah yang: aslama wajhahu (menyerahkan wajahnya), seluruh eksistensinya, seluruh jiwa-raganya, hidup dan matinya, hanya kepada Allah.
وَمَنْ أَحْسَنُ دِينًا مِّمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ وَاتَّبَعَ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا

Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang menyerahkan wajahnya kepada Allah, sedang diapun seorang yang ihsan dan mengikuti millah Ibrahim yang lurus?– Q.S. An-Nisa [4]: 125

Ma’rifat [mengenal] kepada Allah, itu adalah puncak keberuntungan seorang hamba, maka apabila Tuhan telah membukakan bagimu suatu jalan

*IQRO LEARNING CENTER*

Petunjuk Kebajikan Kepada Mahluk Di Dalam Perihal Memaknakan Rukun Rukun Islam

Bismillahirrahmannirrahim

Pasal 1

Bermula Wajib Atas Tiap Tiap Mukhalaf, yakni Aqil Baligh Bahwa Ia Menuntut Ilmu Segala Pekerjaan Agama Yang Wajib Atasnya. Demikian Pula Wajib Atas Seumpama Bapak Atau Suami Bahwa Ia Mengajar kan Yang Demikian Itu, Akan Anak Anaknya Atau Istrinya.

Adapun Jikalau Keduanya Itu, Tiada Boleh Mengajarkan Mereka Itu Maka Wajib Menyerahkan Kepada Yang Mengajar. Adapun Jikalau Yang Belajar Itu Perempuan, Maka Yang Mengajarkan nya pun Perempuan, Melainkan Jikalau Tiada Dapat Guru Perempuan Maka Laki Laki, Tetapi Syarat nya Aman Dari Pada Fitnah Lagi Wajib Pakai Dayang Dayang (Hijab/Penghalang) Antaranya.

Pasal 2

Artinya Baligh yaitu Cukup Umurnya Lima Belas Tahun Qomariyah Yaitu Dengan Itungan Bulan Bulan Islam. Sama Saja Anak Laki - Laki Atau Perempuan Demikian Pula Anak Perempuan Jika Dapat Haid Dari Umur Sembilan Tahun Atau Lebih Adanya. 


Pasal 3

Bermula Nikmat Tuhan Yang Amat besar Kepada Hambanya Yaitu lah Nikmat Islam dan Nikmat Iman Sebab Amalan Amalan Keduanya Itu Menjadi Lantaran Pada Masuk Surga Dan Selamat Dari Pada Api neraka. 




Minggu, 22 Juli 2018

Tetap Berdakwah

Perjuangan Ini Belum Selesai, selama Ruh ini Masih ada di dalam Jasad, maka teruslah Melangkah kedepan....

Memang Ujian, cobaan, dan Godaan Pasti Akan Menghampiri Bagi Mereka Yang Berjuang di Jalan Allah....

Shalawat Al Fatih