Minggu, 06 Mei 2018

3 Prinsip Dasar Saat Kita Memiliki Permasalahan Dengan Pasangan Kita....

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

_Sesungguhnya telah ada pada diri Rasûlullâh itu suri teladan yang baik bagimu yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allâh dan kedatangan hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah_

[al-Ahzâb/33:21]

Ada sebuah Garansi akan kesempurnaan akhlak Rasulullah saw,yang dimana setiap perilaku beliau patut menjadi contoh bagi setiap Manusia bahkan juga selain manusia.☺☺

Sebagai sosok Manusia yang secara dzhohiryah Sama seperti Kita,Rasulullah saw Memiliki juga berbagai Masalah yang dihadapinya...

Kita pernah Memiliki Masalah Rumah Tangga, Ekonomi,Pergaulan, Dan berbagai permasalahan lainnya

Yang diantara Kita juga pernah mengalami Masalah2 tersebut...

Inilah Salah satu tujuan mengapa Allah mengambil utusan-Nya dari bangsa Manusia agar Kita mampu mempelajariNya...

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.

Q'S At Taubah Ayat 128

Dalam sebuah riwayat disebutkan ‘Aisyah menuntut keadilan kepada Nabi.

Lalu Rasulullah mengusulkan “Bagaimana pendapatmu, jika Abu Bakar yang melakukan?

Aisyah menjawab,
“Aku setuju."Panggillah beliau untuk datang.”

Setelah Abu Bakar datang, Rasulullah berkata kepada Abu Bakar,
“Kami telah memanggilmu untuk mengadili kami berdua.”

Rasulullah melirik ke arah ‘Aisyah dan berkata,
“Engkau atau aku yang berbicara?”☺☺

‘Aisyah menjawab, “Bicaralah dan jangan engkau berkata kecuali hal yang benar,”

mendengar itu, Abu Bakar menampar ‘Aisyah hingga mulutnya berdarah sambil memperingatkan,

“Apakah beliau pernah berbohong, wahai orang yang menyakiti dirinya sendiri?” 😡😡😡

‘Aisyah langsung mendekati Rasulullah lalu duduk di belakangnya.

Kemudian Nabi berkata kepada Abu Bakar,

“Kami tidak memintamu untuk ini (menampar) dan kami tidak memintamu untuk ini (memarahi).”

(HR. Bukhari)

Ini adalah Salah contoh kasus Rumah Tangga Rasulullah mengenai Pasangan Hidupnya☺☺

Perhatikan kisah di atas, metode Rasulullah saw Saat Memiliki Masalah dengan istrinya...

_Rasulullah saw Sekalipun seorang yang dijamin kesholehan dirinya oleh Allah memberikan ruang kepada istrinya untuk memberikan ruang komunikasi_

_Permasalahan Komunikasi sering menjadi Masalah Awal sebelum terjadi berbagai permasalahan lainnya_

*Prinsip Pertama*
*Berikan Ruang Komunikasi Kepada Pasangan*

Nasehat Pertama INI Saya arahkan untuk diri Saya Dan kaum adam☺☺😎😎

Dikarenakan Allah telah menetapkan kaum Adam Sebagai pemimpin sebuah Rumah Tangga.

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ 

Kaum Lelaki adalah Pemimpin bagi Kaum Wanita

Disinilah butuh bagi setiap Pria untuk Belajar rendah Hati atas ego kepemimpinan agar Mau mendengarkan curahan hatI Istri.

Terlebih dalam sebuah buku yang berjudul

_Why Men Don't Listen And Why Women Don't Read A Map_

Karya Allan Dan Barbara Pease

Dijelaskan kaum Adam Memiliki kelemahan kurang Mau mendengarkan atas Apa yang Wanita katakan.

Padahal Salah satu kebutuhan dasar psikologi
Seorang Istri yaitu Ingin Didengarkan☺☺

Nah Sekarang....
Apakah seorang Wanita tidak Perlu Belajar mendengarkan Atau memberi ruang komunikasi pada Suami?

☺☺☺☺☺☺

Tidak Hanya kaum Adam tetapi Kaum Wanita jUga harus Belajar *REM Lisannya*😷☺

Terlebih Wanita Memiliki kelebihan sejak kecil daripada Pria...

Anak perempuan rata-rata lebih cepat bicara daripada anak laki-laki. Perbedaan ini terutama terlihat pada usia anak di bawah 2,5 tahun.

Penelitian di Inggris menemukan bahwa anak perempuan memiliki kosakata yang secara signifikan lebih besar dari anak laki-laki pada usia 18 sampai 24 bulan.

Hal ini bisa disebabkan karena otak bayi perempuan yang baru lahir lebih berkembang di bagian yang mengatur kemampuan bicara dan bahasa.

Teori Norman Geschwind juga menjelaskan bagaimana kaum hawa lebih suka berbicara.

Perkembangan yang lebih cepat, membuat otak perempuan lebih banyak menyerap kata-kata dibanding laki-laki.

Dalam sebuah penelitian disebutkan bahwa perempuan menggunakan sekitar 20.000 kata per hari, sementara laki-laki hanya 7.000 kata.

Inilah alasan mengapa anak perempuan Atau para istri kita terlihat lebih cerewet.
😁😁😁😁🙏🏻🙏🏻🙏🏻🙏🏻

Kembali ke pembahasan Awal tadi...

Penting bagi Wanita memberikan Ruang Komunikasi kepada para Suami...

Dimulai dengan membiarkan para Suami Memiliki waktu untuk bertafakur Saat mengalami Masalah..

Hal INI juga bisa Kita baca di buku yang tadi Saya jelaskan...

_Wanita cenderung Saat Memiliki Masalah akan berbicara kepada orang terdekatnya_

_sementara Pria akan memilih waktu menyendiri sebelum berbicara kepada orang terdekatnya_

Inilah menjawab mengapa Rasulullah saw Saat sebelum turun Wahyu,beliau uzlah Atau menyendiri di Gua Hira

Beliau memikirkan keadaan penduduk Makkah Saat Itu yang menyembah berhala, Dan langkah Awal yg beliau lakukan bertafakur menyendiri hingga Allah memberikan Wahyu Pertama.

Maka Ruang komunikasi kaum Adam yang Perlu di fahami kaum Wanita ialah

Berikanlah ia waktu menyendiri..berfikir hingga tiba saatnya ia akan berbicara kepada Kita....

Sebagaimana Ibunda Khodijah tidak banyak berbicara Saat Rasulullah saw puLang ke Rumah dalam keadaan mengigil selepas menerima wahyu.

Hingga Rasulullah saw sudah merasakan nyaman untuk berbicara...

Beliau ceritakan semua yang ia lihat dan alami. Melihat Jibril dalam keadaan asli dan diseru menjadi seorang utusan Allah.

Dan perhatikanlah Apa yang Khodijah sampaikan kepada Suami tercintanya...

Dengan yakin ia menanggapi:

أَبْشِرْ يَا ابْنَ عَمِّ وَاثْبُتْ فَوَالَّذِي نَفْسُ خَدِيجَةَ بِيَدِهِ! إنِّي لأَرْجُو أَنْ تَكُونَ نَبِيَّ هَذِهِ الأُمَّةِ

_“Berbahagialah wahai putra pamanku dan teguhlah engkau. Demi Dzat yang jiwa Khadijah berada di tangan-Nya! Sungguh aku berharap engkau menjadi nabinya umat ini.”_

(Ibnu Hisyam dalam as-Sirah an-Nabawiyah, 1/236).

Perkataan indah yang terucap di saat sang suami merasa takut dan sedih.

Perkataan yang mampu mengokohkannya di tengah bimbang dan ragu.

Ucapan ini mengindikasikan Khadijah tahu akan ada seorang rasul yang diutus.

Dan orang yang ia harapkan untuk menjadi rasul itu adalah suaminya sendiri.

Dengan demikian, keimanan Khadijah bukan semata keimanan fanatik keluarga, tapi sesuatu yang dibangun dengan ilmu.

Pengetahuan Khadijah tentang kerasulan ini terbukti dengan tidak muncul pertanyaan darinya
“Siapa itu Jibril?” ,“Apa itu utusan Allah (Rasulullah)?” dll.

Dikarenakan saudaranya waraqah pernah katakan kepada Khodijah akan datang Seorang Nabi Akhir Zaman dari Bangsa INI yang bernama Ahmad.

Maka Perlu Kita sadari...

Ruang Komunikasi Perlu difahami satu Sama lain..

Ruang komunikasi seorang Istri belum tentu Sama dengan seorang Suami

Yang diperlukan Kita harus saling terus belajar Dimulai dari Shiroh nabawiyah Dan jUga berbagai keilmuan psikologi Pria Dan Wanita

☺☺☺☺

Diriwayatkan dalam hadits riwayat muslim, yang bersumber dari Jabir bahwa Sayyidina Abu Bakr meminta izin untuk berbicara kepada Rasulullah saw. akan tetapi beliau tidak mengizinkannya.

Demikian juga ‘Umar, tidak diizinkan oleh beliau. Namun tidak lama kemudian, keduanya diizinkan masuk di saat Rasulullah saw. duduk terdiam dikelilingi istri-istrinya yang menuntut nafkah dan perhiasan.

Umar bermaksud menggoda Rasulullah agar tertawa dengan berkata:

“Ya Rasulullah, sekiranya putrid Zaid (istri ‘Umar) minta belanja, akan kupenggal lehernya.”

Maka tertawa lebarlah Rasulullah saw. dan bersabda:

“Mereka yang ada di sekelilingku ini meminta nafkah kepadaku.”

Maka berdirilah Abu Bakr menghampiri ‘Aisyah untuk memukulnya, demikian pula ‘Umar menghampiri Hafshah sambil (keduanya) berkata:

“Kalian meminta sesuatu yang tidak ada pada Rasulullah?”

Maka Allah menurunkan Surat Al Ahzab Ayat 28-29 sebagai petunjuk kepada Rasulullah saw. agar istri-istrinya menentukan sikap (memilih Rasul atau harta benda).

Beliau memulai bertanya kepada ‘Aisyah tentang pilihannya dan menyuruhnya bermusyawarah lebih dahulu dengan ibu-bapaknya.

‘Aisyah menjawab:

“Apa yang mesti kupilih?”

Dan ‘Aisyah menjawab:

“Apakah soal yang berhubungan dengan tuan mesti kumusyawarahkan dulu dengan ibu bapakku? Padahal aku sudah menetapkan pilihan, yaitu aku memilih Allah dan Rasul-Nya.”

Surat Al Ahzab Ayat 28-29

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ إِنْ كُنْتُنَّ تُرِدْنَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا فَتَعَالَيْنَ أُمَتِّعْكُنَّ وَأُسَرِّحْكُنَّ سَرَاحًا جَمِيلًا

_Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu: "Jika kamu sekalian mengingini kehidupan dunia dan perhiasannya, maka marilah supaya kuberikan kepadamu mut'ah dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik._

وَإِنْ كُنْتُنَّ تُرِدْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَالدَّارَ الْآخِرَةَ فَإِنَّ اللَّهَ أَعَدَّ لِلْمُحْسِنَاتِ مِنْكُنَّ أَجْرًا عَظِيمًا

_Dan jika kamu sekalian menghendaki (keridhaan) Allah dan Rasulnya-Nya serta (kesenangan) di negeri akhirat, maka sesungguhnya Allah menyediakan bagi siapa yang berbuat baik diantaramu pahala yang besar._

Ini adalah Salah satu Kisah Rasulullah saw Saat hadapi tuntutan Ekonomi dari para istrinya...☺

Ketika Rasulullah saw hadapi Hal INI beliau tidak memarahi para istrinya dengan Nasehat kurang bersyukur tetapI beliau memahami fitrah kebutuhan para Istri

Dan beliau juga tidak langsung menceritakan keadaan aib istrinya kepada para orangtua mereka,Saat Umar mengajak bercanda dgn kasus yang Sama barulah Rasulullah saw sampaikan yg dirasakan.

Dan Allah mengajarkan lewat Rasulullah saw Ketika Masalah Tak mampu diredam Maka lakukanlah pada 2 Ayat Surat Al Ahzab

*Prinsip Kedua*
*Memberikan Dua Pilihan Kebaikan Kepada Pasangan*

Memang tidak bisa dihilangkan akan kebutuhan pribadi para Istri Rasulullah

Namun Ini adalah bagian dari perjuangan Rasulullah yg memang segala Apa yg dimilikinya bukan untuk diri sendiri namun untUK dakwah.

Pelajaran bagi Kita semua ialah Saat mengalami Masalah

Maka Coba berfikir dengan bijaksana untuk mencari berbagai alternatif Masalah bukan Hanya satu Pilihan saja

Dan berbagai alternatif yang ada tentunya harus mengacu pada APA yang Allah Dan Rasulullah saw ridhoi

Allah Ta’ala berfirman:

(يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ أَطِيعُواْ اللّهَ وَأَطِيعُواْ الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنكُمْ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلاً)

_“Wahai orang-orang yang beriman! Taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul, serta ulil amri diantara kalian. Jika kalian berselisih dalam suatu hal, maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul-Nya. Jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir.Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”_

(QS. An Nisa: 59).

Karena sering yg menjadi konflik tiada berujung Saat Kita berfikir Hanya ada satu solusi Dan ITU menurut penilaian Kita sendiri

Lalu bagaimana supaya Kita mendapatkan alternatif solusi penuh kebaikan....

Kuatkan kedekatan Kita dengan Allah...

hingga Akhirnya Allah memberikan petunjuk-Nya

*Prinsip Ketiga*
*Ibadah Berjamaah*

Ada sebuah masa dimana Saya merasakan tdk dekat secara Hati dengan Istri maupun anak2...

Saya berfikir ..
_Apa yang dilakukan Rasulullah saw Saat mengalami fase Ini ya_
🤔🤔🤔🤔🤔🤔

Jawaban itupun Alhamdulilah Saya temukan dalam Shiroh Nabawiyah...

_Banyak Momen Ikatan Hati dibangun Melalui Ibadah Jamaah_

Shalat Jamaah yang Pertama Kali Rasulullah saw lakukan sebelum dengan orang lain yaitu berdua berSama istrinya Khodijah

Dan Ibadah Shalat Rasululah lakukan bersama istrinya yang lain...

Tidak Hanya shalat, bahkan mandi bersama juga pernah dilakukan Rasulullah dengan istrinya

Dalam hadits riwayat Muslim dijelaskan sebuah riwayat agung dari Ummul Mukminin Aisyah binti Abu Bakar ash-Shiddiq. “Aku mandi bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam dari satu bejana.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam mendahuluiku sampai aku berkata, ‘Tinggalkan untkku. Tinggalkan untukku.’”

Jadi Kedekatan Hati Kita Dimulai dari aktivitas berjamaah Baik Kita dengan Pasangan maupun anak2...

Paling tidak sepekan 2x usai Maghrib tilawah Jamaah dengan Pasangan Dan anak...

_Saat Kita bersatu dalam Ibadah Insya Allah akan disatukan Hati Kita satu Sama lain_☺

Demikianlah 3 Prinsip Dasar Saat Kita Memiliki permasalahan dengan Pasangan Kita....

Insya Allah Semoga Kita selalu dibimbing Allah Dan Rasulullah saw Dunia akhirat

Rabu, 02 Mei 2018

_Langsung Saja Doa Kepada Allah...kenapa minta doa yang lain?


Ya itulah Salah satu kalimat yang diucapkan beberapa orang ketika ada diskusi tentang keutamaan doa lewat wasilah orang2 tertentu...

Suatu kisah dalam kitab hadits bukhori...

Musim kemarau pernah terjadi Pada Zaman Umar Bin Khottob..

Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu anhu, Mu’awiyah bin Abi Sufyan Radhiyallahu anhu dan para Shahabat yang bersama mereka, juga para Tabi’in yang mengikuti mereka dengan baik ketika ditimpa kekeringan mereka memohon diturunkannya hujan, bertawassul, dan meminta doa kepada orang yg memiliki keutamaan seperti kepada al Abbas bin Abdil Muththalib selaku Paman Rasulullah saw

Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu anhu berkata....

*_Ya Allah dahulu kami bertawassul kepada-Mu dengan Nabi-Mu dan Engkau menurunkan hujan kepada kami dan kini kami bertawassul kepada-Mu dengan Paman Nabi kami, karena itu turunkanlah hujan kepada kami_*

Akhirnya tidak lama kemudIan turunlah hujan disaat Itu juga.

Sahabat Umar Bin Khottob menyadari Paman Nabi memiliki keutamaan yang berbeda dibandingkan dengan sahabat Nabi yg bukan keluarga Nabi Langsung

Ditambah Abbas bin Abdul Mutholib jUga seorang Ulama Dan Wali Allah.

Inilah juga Mengapa Saya sangat senang berdekatan Dan melayani Keturunan Rasulullah saw hingga bisa belajar Langsung dengan mereka.

Cara yang dilakukan Sahabat Umar Bin Khottob bisa dinamakan dengan wasilah Dan tawassul

wasilah dan tawasul adalah istilah yang saling berkaitan satu sama lain.

Wasilah adalah perantara Atau secara etimologi berarti:  segala hal yang dapat mencapai atau mendekatkan kepada sesuatu.

Sedang tawassul adalah usaha mendekatkan diri kepada Allah dengan menggunakan wasilah

Washilah terbagi dua :

Wasilah kauniyah : wasilah yang Allah ciptakan secara  fitrah untuk seluruh manusia

Wasilah syar’iyah :  wasilah yang di syariatkan di dalam Al Qur'an maupun sunnah

Wasilah kauniyah sangat mungkin diwujudkan seorang mu’min ataupun kafir.  

Contoh :  makan untuk kenyang, pakaian untuk menjaga diri dari rasa dingin atau panas dan seterusnya.

Adapun wasilah syar’iyah hanyalah muncul dari seorang mukmin saja.

Tentang wasilah Dan tawassul ini juga dijelaskan dalam Surat Al Maidah Ayat 35 :

يَأيُّهَا الَّذِيْنَ أَمَنُوْا اتَقُوا اللهَ وَ ابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيْلَةَ

_“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan *carilah wasilah yang mendekatkan diri kepada-Nya*_

Dengan wasilah Apa saja Kita bertawassul kepada Allah..

Jawabannya sebagai berikut...

*1. Tawasul melalui Asmaul Husna*

Dengan nama nama Allah yang baik dan sifat-sifat-Nya yang tinggi.  Hal ini Allah tegaskan dalam surat Al A’raf ayat 180 :

وَ ِللهِ الأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوْه بِهَا

_“Dan hanya milik Allah nama-nama yang baik. Maka berdoalah kalian dengan (wasilah) nama-nama tersebut”._

Sebutlah asma2 Allah Saat Kita sebelum berdoa kepada-Nya

*2.Tawassul dengan membaca shalawat*

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, _“Semua doa tertutupi tidak bisa naik ke langit sampai dibacakan shalawat untuk Nabi Muhammad shallahu ‘alaihi wa sallam.”

(HR. At Thabrani)

Dan Allah azza WA jalla pun mengajarkan agar Kita Perbanyak Membaca shalawat kepada Beliau.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

_“Sesungguhnya Allah dan Malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.”_

[Al-Ahzaab: 56]

Sebagaimana Saya sering sarankan perbanyaklah baca shalawat Fatih yg memiliki berbagai keutamaan dibandingkan shalawat lain.

*3.Tawasul dengan amalan sholih yang pernah dilakukan seseorang yang bertawasul tersebut.*

Jenis tawasul ini didasari hadits Muttafaqun ‘Alaihi dari Abdullah bin Umar tentang tiga orang dari kaum terdahulu yang terperangkap di sebuah gua karena tertutup batu besar.

Salah satu diantara mereka bertawasul dengan amalan berbakti kepada kedua orang tuanya.

Yang kedua bertawasul dengan terjaganya kehormatan dia dari perbuatan zina dan yang ketiga bertawasul dengan penunaian amanahnya.

Hal itu mereka lakukan agar Allah menggeser batu tersebut. Akhirnya pun Allah kabulkan do’a mereka.

*4.Tawasul dengan menyebutkan keadaannya yang sangat membutuhkan sesuatu kepada Allah*

Doa Nabi Zakariya yang Allah kisahkan di dalam firman-Nya menunjukkan bolehnya perkara ini.

قَالَ رَبِّ إِنِّي وَهَنَ الْعَظْمُ مِنِّي وَاشْتَعَلَ الرَّأْسُ شَيْبًا وَلَمْ أَكُنْ بِدُعَائِكَ رَبِّ شَقِيًّا

_“Wahai Rabbku sesungguhnya tulangku telah melemah, rambutku telah ditumbuhi uban dan aku belum pernah kecewa dalam berdo’a kepada-Mu, wahai Rabbku”._

Kemudian beliau pun meminta kepada Allah untuk dianugerahi seorang putera yang sholih. Dan Allah pun mengabulkannya.

*5.Tawasul dengan Doa Orang Yang Sholeh Dan berilmu*

Surat Al-Mujadilah Ayat 11

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ ۖ وَإِذَا قِيلَ انْشُزُوا فَانْشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

_Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu._

_Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", maka berdirilah, *niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.* Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan._

Jadi tidak hanya sholeh saja Namun juga memiliki ilmu.

Tentu berbeda aktivitas seorang yang berilmu Dan tidak berilmu

Allah berfirman,

قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُوْلُوا الْأَلْبَابِ

_Katakanlah apakah sama orang-orang yang mengetahui dan orang-orang yang tidak mengetahui._

_Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran._

(QS Az Zumar: 9)

Ketika orang sholeh Pada umumnya hanya melihat dari sisi luar Atau dzhohir saja

Maka mereka yg berilmu jauh melihat lebih dalam Dan jauh lagi.

Merekalah yg disebut Ulama Dan Wali Allah

Namun Terkadang Kita merasa sudah cukup dari Pemikiran Kita saja

Dan perlu diingat ketika seseorang bertawasul bukan berati ia seperti tdk berharap kepada Allah

Atau ada kalimat yg menyatakan terlalu melebihkan dengan perantara tawassul Baik dengan Atas nama Rasulullah saw Atau  wali Allah

Kita tetap bergantung kepada Allah Namun menyadari ada seseorang yg Allah cintai

Ditambah Jika Kita berdoa Langsung dengan banyaknya dosa serta kekurangan yg ada belum Tentu diterima Allah azza WA jalla

Dan tanpa sadar dalam keseharianpun Kita juga suka memakai perantara

Ketika Kita berobat ke dokter juga bukan berharap sembuh dari Dokter

Itu hanyalah wasilah saja..

Demikian ulasan yang bisa Saya berikan.

Semoga Allah Dan Rasulullah ridhoi

_Muhammad Reza Adrianto_

Senin, 30 April 2018

KETIKA ALLAH MEMBUKA PINTU PERKENALAN

Amal, Berserah Diri dan Ma’rifat

“KETIKA ALLAH MEMBUKA PINTU PERKENALAN”

إِذَا فَتَحَ لَـكَ وِجْهَةً مِنَ التَّعَرُّفِ فَلاَ تُبــَالِ مَعَهَا أِنْ قَلَّ عَمَلُكَ فَإِنَّـهُ مَا فَـتَـحَهَا لَكَ إِلاَّ وَهُوَ يُرِ يْدُ أَنْ يَـتَـعَرَّفَ إِلَيكَ. أَلَمْ تَـعْلَمْ أَنَّ الـتَّــعَرُّفَ هُوَ مُوْرِدُهُ عَلَيْكَ، وَاْلأَعْمَالُ أَنْتَ مُــهْدِ يْــهَا إِلَـيْهِ، وَأَيــْنَ مَا تُــهْدِ يْهِ إِلَـيْهِ مِمَّا هُـوَ مُوْرِدُهُ عَلَـيْكَ

"Ketika Dia membukakan bagimu (suatu) Wajah Pengenalan, maka jangan engkau sandingkan (hadirnya) pengenalan itu dengan sedikitnya amal-amalmu; karena sesungguhnya Dia tidak membukakan pengenalan itu bagimu kecuali (bahwa) Dia semata-mata menginginkan untuk memperkenalkan (Diri-Nya) kepadamu.
Tidakkah engkau mengetahui bahwa sesungguhnya (suatu) pengenalan itu (semata-mata) Dia yang menginginkannya atasmu, sedangkan amal-amal itu (semata-mata) suatu hadiah dari engkau kepada-Nya; maka tidaklah sebanding antara apa-apa yang engkau hadiahkan kepada-Nya dengan apa-apa yang Dia inginkan untukmu."

Syarah

Ada rahasia yang sangat halus dibalik kalimat-kalimat Ibnu Athaillah dalam pasal ini. Ibnu Athaillah bukan hendak mengatakan bahwa amaliah tidak berarti, karena itu adalah tanda kepatuhan kepada-Nya. Namun ada persoalan yang lebih besar dari itu yang harus dimiliki setiap pejalan suluk.

Ketika Allah membuka “Wajah Pengenalan”, maka yang Dia anugrahkan kepada seorang hamba adalah Diri-Nya, Eksistensi-Nya, bukan semata perbuatan-Nya, karunia-Nya, atau surga-Nya. Maka tidaklah sebanding ketika Allah menyerahkan seluruh Diri-Nya untuk dikenali, sementara seseorang hanya menyerahkan amal perbuatannya, bukan dirinya.

Adalah Nabi Muhammad SAW memberi nasihat kepada putrinya Fatimah r.a. untuk senantiasa berdoa pada setiap pagi dan petang:

يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْثُ! أَصْلِحْ لِي شَأْنِيَ كُلَّهُ، وَلاَ تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ

Wahai (Dzat) yang Maha Hidup dan Maha Berdiri! Dengan rahmat-Mu aku memohon pertolongan. Perbaikilah urusanku seluruhnya; dan jangan Engkau serahkan aku kepada diriku walau hanya sekejap mata. – H.R. Imam An-Nasai, Imam Al-Hakim.

Dalam hadits yang lain dikatakan:

اللَّهُمَّ رَحْمَتَكَ أَرْجُو، فَلاَ تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ، وَأَصْلِحْ لِي شَأْنِي كُلَّهُ، لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ

Ya Allah, hanya rahmat-Mu yang kuharapkan! Maka janganlah Engkau serahkan aku kepada diriku meski sekejap mata, dan perbaikilah urusanku seluruhnya. (Sungguh) tidak ada tuhan selain Engkau. – H.R. Imam Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Hibban.

Bahwa kebanyakan manusia mengandalkan urusannya kepada dirinya, kepintarannya, amal perbuatannya. Dan sangatlah sedikit manusia yang menginginkan berserah diri sepenuhnya kepada Allah. Sementara dalam Al-Quran dikatakan bahwa sebaik-baik agama seseorang adalah yang: aslama wajhahu (menyerahkan wajahnya), seluruh eksistensinya, seluruh jiwa-raganya, hidup dan matinya, hanya kepada Allah.
وَمَنْ أَحْسَنُ دِينًا مِّمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ وَاتَّبَعَ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا

Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang menyerahkan wajahnya kepada Allah, sedang diapun seorang yang ihsan dan mengikuti millah Ibrahim yang lurus?– Q.S. An-Nisa [4]: 125

Ma’rifat [mengenal] kepada Allah, itu adalah puncak keberuntungan seorang hamba, maka apabila Tuhan telah membukakan bagimu suatu jalan

*IQRO LEARNING CENTER

Minggu, 29 April 2018

Kado Ujian

Salah satu tanda kita menguasai satu pelajaran tertentu, adalah lulus saat ujian. Maka ujian adalah bagian yang tidak terpisah dari pelajaran, bila pelajarannya hidup, ujiannya ujian hidup

Disitulah ditentukan kita lulus atau tidak, layak mendapatkan gelar atau tidak. Bila kita sudah mempelajari, tapi belum diujikan maka masih dipertanyakan kadar penguasaan materi itu

Maka jangan heran, jika kita sedang belajar tentang ikhlas, maka ada hal yang menuntut kita langsung mempraktikkannya, agar kita benar-benar lurus hanya pada Allah

Saat kita sedang membahas kajian tentang ukhuwah, biasanya disitu pula Allah berikan pada kita ujiannya, agar langsung bisa dipraktekkan, agar paham sempurna materinya

Hari ini apa ujian yang kita dapat dari Allah? Bisa jadi itulah yang kita minta pada Allah. Kita ingin ilmu, Allah uji dengan istiqamah, kita ingin jodoh, Allah uji dengan bersabar

Apalagi bila kita ingin surganya Allah, ini ujian tanpa henti. Untuk melihat bahwa apakah kita sudah layak masuk kedalamnya. Ataukah masih ada yang kurang dari kita

Bila gelar Lc saja perlu waktu 4-5 tahun, gelar MA tambahan lagi 2-3 tahun, bila tambah gelar lagi Doktor ditambah lagi 2-3 tahun, gelar 'penghuni surga' tentu perlu pengorbanan

Begini, anggap saja ujian itu adalah bungkus kado. Maka semakin besar ujian, makin besar pula hadiahnya. Jadi bila kita sedang punya ujian besar, bayangkan hadiahnya

Kerennya, Allah tahu kapasitas kita, hingga Allah takkan berikan ujian itu, kecuali kita mampu mengembannya. Yang penting kita yakin pada Allah dan selalu dalam keadaan taat

Dan bila kita dapatkan ujian yang tak semua dapatkan, bisa jadi hanya kita yang Allah pandang mampu untuk melaluinya. Dan hadiahnya tentu unik, berbeda pula dengan yang lainnya

Sabtu, 28 April 2018

“KETIKA ALLAH MEMBUKA PINTU PERKENALAN”

Amal, Berserah Diri dan Ma’rifat

إِذَا فَتَحَ لَـكَ وِجْهَةً مِنَ التَّعَرُّفِ فَلاَ تُبــَالِ مَعَهَا أِنْ قَلَّ عَمَلُكَ فَإِنَّـهُ مَا فَـتَـحَهَا لَكَ إِلاَّ وَهُوَ يُرِ يْدُ أَنْ يَـتَـعَرَّفَ إِلَيكَ. أَلَمْ تَـعْلَمْ أَنَّ الـتَّــعَرُّفَ هُوَ مُوْرِدُهُ عَلَيْكَ، وَاْلأَعْمَالُ أَنْتَ مُــهْدِ يْــهَا إِلَـيْهِ، وَأَيــْنَ مَا تُــهْدِ يْهِ إِلَـيْهِ مِمَّا هُـوَ مُوْرِدُهُ عَلَـيْكَ

"Ketika Dia membukakan bagimu (suatu) Wajah Pengenalan, maka jangan engkau sandingkan (hadirnya) pengenalan itu dengan sedikitnya amal-amalmu; karena sesungguhnya Dia tidak membukakan pengenalan itu bagimu kecuali (bahwa) Dia semata-mata menginginkan untuk memperkenalkan (Diri-Nya) kepadamu.
Tidakkah engkau mengetahui bahwa sesungguhnya (suatu) pengenalan itu (semata-mata) Dia yang menginginkannya atasmu, sedangkan amal-amal itu (semata-mata) suatu hadiah dari engkau kepada-Nya; maka tidaklah sebanding antara apa-apa yang engkau hadiahkan kepada-Nya dengan apa-apa yang Dia inginkan untukmu."

Syarah

Ada rahasia yang sangat halus dibalik kalimat-kalimat Ibnu Athaillah dalam pasal ini. Ibnu Athaillah bukan hendak mengatakan bahwa amaliah tidak berarti, karena itu adalah tanda kepatuhan kepada-Nya. Namun ada persoalan yang lebih besar dari itu yang harus dimiliki setiap pejalan suluk.

Ketika Allah membuka “Wajah Pengenalan”, maka yang Dia anugrahkan kepada seorang hamba adalah Diri-Nya, Eksistensi-Nya, bukan semata perbuatan-Nya, karunia-Nya, atau surga-Nya. Maka tidaklah sebanding ketika Allah menyerahkan seluruh Diri-Nya untuk dikenali, sementara seseorang hanya menyerahkan amal perbuatannya, bukan dirinya.

Adalah Nabi Muhammad SAW memberi nasihat kepada putrinya Fatimah r.a. untuk senantiasa berdoa pada setiap pagi dan petang:

يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْثُ! أَصْلِحْ لِي شَأْنِيَ كُلَّهُ، وَلاَ تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ

Wahai (Dzat) yang Maha Hidup dan Maha Berdiri! Dengan rahmat-Mu aku memohon pertolongan. Perbaikilah urusanku seluruhnya; dan jangan Engkau serahkan aku kepada diriku walau hanya sekejap mata. – H.R. Imam An-Nasai, Imam Al-Hakim.

Dalam hadits yang lain dikatakan:

اللَّهُمَّ رَحْمَتَكَ أَرْجُو، فَلاَ تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ، وَأَصْلِحْ لِي شَأْنِي كُلَّهُ، لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ

Ya Allah, hanya rahmat-Mu yang kuharapkan! Maka janganlah Engkau serahkan aku kepada diriku meski sekejap mata, dan perbaikilah urusanku seluruhnya. (Sungguh) tidak ada tuhan selain Engkau. – H.R. Imam Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Hibban.

Bahwa kebanyakan manusia mengandalkan urusannya kepada dirinya, kepintarannya, amal perbuatannya. Dan sangatlah sedikit manusia yang menginginkan berserah diri sepenuhnya kepada Allah. Sementara dalam Al-Quran dikatakan bahwa sebaik-baik agama seseorang adalah yang: aslama wajhahu (menyerahkan wajahnya), seluruh eksistensinya, seluruh jiwa-raganya, hidup dan matinya, hanya kepada Allah.
وَمَنْ أَحْسَنُ دِينًا مِّمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ وَاتَّبَعَ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا

Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang menyerahkan wajahnya kepada Allah, sedang diapun seorang yang ihsan dan mengikuti millah Ibrahim yang lurus?– Q.S. An-Nisa [4]: 125

Ma’rifat [mengenal] kepada Allah, itu adalah puncak keberuntungan seorang hamba, maka apabila Tuhan telah membukakan bagimu suatu jalan

IQRO LEARNING CENTER

Senin, 16 April 2018

Istri Dunia Akhirat

Wahai para istri..

Disaat dirimu keluhkan Berbagai hal kepada suamimu Dan berharap Ada solusi darinya

Bisa jadi suamimu sedang menanggung Beban besar Bukan hanya untuk diri Dan keluarganya Saja..

Wahai para istri ...

Disaat dirimu emosi,kesal Dan sampaikan segala amarah dirimu ...

Bisa jadi suamimu sedang berjuang pertahankan segala godaan Yang datang pada dirinya....

Wahai para istri..

Disaat engkau luapkan segala tangisan Akan kekecewaan dirimu kepada ya..

Bisa jadi ia hanya mampu luapkan segala tangisan kepada Allah Dan Rasulullah

Wahai para istri...

Saat engkau lemparkan Berbagai kesalahan Dan kekurangan dirinya,

Namun tak sedikitpun ia sampaikan Berbagai kekurangan dirimu..

Rasa Cinta dirinya Masih tertanam kuat sekalipun hujatan diberikan oleh dirimu kepada ya...

Dan bisa jadi kesalahan2 baik yg sengaja atau tanpa sengaja suamimu lakukan disebabkan dirimu namun ia tak mau menyalahkan dirimu

Wahai para istri ...

Dirinya tahu saat anak2 Harus mengutamakan dirimu daripada dirinya...

Karena ia tahu ridho seorang anak Ada pada ridho seorang ibu

Namun tak sadarkah dirimu bahwa surga Dan nerakamu terletak pada ridho suami..

Ia biarkan anak2 lebih bermanja kepada dirimu sebagai ibu anak2 ya...

Padahal ketika terjadi masalah baik Di dunia atau akhirat...

Suamimu orang pertama yg Harus bertanggung Jawab atas keadaan keluarganya.

Wahai para istri...

Saat dirimu kecewa mudah bagimu sampaikan Berbagai rasa sakit yg dirasa hatimu seakan lupa bahwa suamimu pernah berikan Berbagai kebahagiaan

Namun saat ia kecewa Dan terdiam , engkau belum mampu Baca Apa yg membuat ia terdiam kecewa kecuali suamimu Baru sampaikan..

Akhirnya...

Biarlah Allah Yang membuka semua kasih sayang Dan pengorbanan suamimu

Bila memang sudah saatnya ...
Dan bisa jadi saat suamimu berbalut kafan

OPENONO AKHLAKMU MARANG GURUMU*

Kesuksesan murid (peserta didik) dalam memperoleh ilmu yang bermanfaat, tidak hanya ditentukan oleh lembaga pendidikan, metode mengajar guru, atau sarana prasarana fisik dalam belajar, tapi yang paling dominan justru ditentukan oleh akhlak murid (peserta didik) kpd guru (pendidik).

Al Imam an Nawawi ketika hendak belajar kepada gurunya, beliau selalu bersedekah di perjalanan dan berdoa, ” Ya Allah, tutuplah dariku dari kekurangan guruku, hingga mataku tidak melihat kekurangannya dan tidak seorangpun yg menyampaikan kekurangan guruku kepadaku “. (Lawaqih al Anwaar al Qudsiyyah : 155)

Al Imam an Nawawi juga pernah mengatakan dalam kitab At Tahdzibnya :

عقوق الوالدين تمحوه التوبة وعقوق الاستاذين لا يمحوه شيء البتة

“Durhaka kepada orang tua dosanya bisa hapus oleh taubat, tapi durhaka kepada ustadzmu tidak ada satupun yg dapat menghapusnya”

Al Habib Abdullah al Haddad mengatakan: “Paling bahayanya bagi seorang murid, adalah berubahnya hati gurunya kepadanya. Seandainya seluruh wali dari timur dan barat ingin memperbaiki keadaan si murid itu, niscaya tidak akan mampu kecuali gurunya telah ridha kembali.” (Adaab Suluk al Murid : 54)

*OJO KAKEHAN TAKON, LAN OJO GAMPANG NJALUK IJAZAHAN ATAUPUN AMALAN*

Al Habib Abdullah al Haddad juga berkata: “Tidak sepatutnya bagi penuntut ilmu mengatakan pada gurunya….perintahkan aku ini, berikan aku ini ! karena itu sama saja menuntut untuk dirinya. Tapi sebaiknya dia seperti mayat di hadapan orang yg memandikannya.”

(Ghoyah al Qashd wa al Murad : 2/177)

Dikisahkan, bahwa seorang murid sedang menyapu madrasah gurunya, tiba2 Nabi Khidir mendatanginya. Murid itu tidak sedikitpun menoleh dan mengajak bicara nabi Khudhir. Maka nabi Khidhir berkata; “Tidakkah kau mengenalku ?.” Murid itu menjawab: “Ya aku mengenalmu, engkau adalah Abul Abbas al Khidhir .”

Nabi Khidhir: “Kenapa kamu tidak meminta sesuatu dariku?.”

Murid itu menjawab: “Guruku sudah cukup bagiku, tidak tersisa satupun hajat kepadamu.” (Kalam al Habib Idrus al Habsyi : 78)

Para ulama ahli hikmah mengataka; “ Barangsiapa yang mengatakan “ kenapa ?” Kepada gurunya, maka dia tidak akan bahagia selamanya.” (Al Fataawa al Hadiitsiyyah : 56)

Al Imam Ali bin Hasan al Aththas mngatakan :

ان المحصول من العلم والفتح والنور اعني الكشف للحجب، على قدر الادب مع الشيخ وعلى قدر ما يكون كبر مقداره عندك يكون لك ذالك المقدار عند الله من غير شك

“Memperoleh ilmu, futuh dan cahaya (maksudnya terbukanya hijab2 batinnya), adalah sesuai kadar adabmu bersama gurumu. Kadar besarnya gurumu di hatimu, maka demikian pula kadar besarnya dirimu di sisi Allah tanpa ragu.” (al Manhaj as Sawiy : 217)

Para ulama ahli haqiqat mengatakan,”mayoritas ilmu itu diperoleh sebab kuatnya hubungan baik antara murid dengan gurunya”.

*GURU IKU TERMASUK WONG TUWO ING DUNYO LAN AKHIROT, MERGO GURUMU NAFAQOHI RUH-MU DENGAN ILMU AGAMA.*

Didunia kita harus tunduk dan patuh, dan di akhiratpun status mereka tetap sebagai guru kita yang akan menuntun kita pada guru-guru seatasnya hingga Nabiyyullah Muhammad saw. untuk mendapati pengakuan sebagai ummatnya hingga bisa memperoleh syafaatnya.

*DI ALAM KUBURPUN KITA BISA REUNI BERTEMU GURU KITA*

Hal ini sangat jelas diterangkan dalam beberapa kitab ulama’ bahwa :

Dalam kitab Musnad Imam Ahmad ada hadits shohih yang bersumber dari Anas bin Malik rodhiyallahu anhu:

إن أعمالكم تعرض على أقاربكم وعشائركم من الأموات، فإن كان خيراً استبشروا به، وإن كان غير ذلك قالوا: اللهم لا تمتهم حتى تهديهم كما هديتنا

“Sesungguhnya amal perbuatan kalian (yang masih hidup didunia ini) di tampilkan kepada kerabat kerabat dan keluarga kalian yang telah mati. Jika amal perbuatan kalian itu BAGUS, maka mereka turut senang dan bahagia, dan jika BURUK, mereka berkata/berdoa:”Ya Allah ya Tuhanku, jangan Engkau cabut nyawa mereka sehingga Engkau memberikan Hidayah kepada mereka seperti halnya kepada kami.”

Bebrapa kalangan ulama’ ekstrim yang diantaranya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rohimahullah pernah di tanya tentang yang hidup menziarahi yang mati (ziarah kubur) itu apakah yang mati (didalam kubur) mengetahuinya? Dan apakah yang mati mengetahui jika ada kerabatnya atau yang lain ada yang mati?

Beliau menjawab:

الحمد لله، نعم قد جاءت الآثار بتلاقيهم وتساؤلهم وعرض أعمال الأحياء على الأموات، كما روى ابن المبارك عن أبي أيوب الأنصاري قال: إذا قبضت نفس المؤمن تلقاها الرحمة من عباد الله، كما يتلقون البشير في الدنيا، فيقبلون عليه ويسألونه فيقول بعضهم لبعض: أنظروا أخاكم يستريح، فإنه كان في كرب شديد، قال: فيقبلون عليه ويسألونه: ما فعل فلان وما فعلت فلانة، هل تزوجت

Segala Puji bagi Allah, ya benar.

Telah ada sebuah Atsar yang menjelaskan tentang perjumpaan mereka dan percakapan mereka (yang baru mati dgn kerabatnya yang sudah lama mati) dan juga ditampilkan amal perbuatan yang hidup kepada yang telah mati seperti yang telah diriwayatkan oleh Imam Ibnu Mubarok dari Abu Ayub Al Al Anshori. Beliau menuturkan:

Jika seorang mukmin meninggal dunia, maka mereka hamba hamba Allah yang beriman mendapati rahmat Allah, yaitu mereka saling bertemu satu sama lain (di alam ruh). seperti halnya manusia di dunia.

Mereka saling menyambut dan bertanya satu sama lain.

Sebagian dari mereka berkata kepada sebagian yang lain:”Lihatlah saudara kalian itu… dia sekarang bisa beristirahat dari kesedihan yang sangat dari kebisingan dunia.

Mereka (yang lama mati) menyambutnya (yang baru mati) dan mereka bertanya (kepada yang baru mati): mereka bercakap-cakap dengan obrolan “apa yang dikerjakan si A sekarang didunia?

mereka babercakap-cakap dengan kalimat “bagaimana kabar si wanita itu? apakah dia sudah menikah? Wa ghoiru dzalik…

Maka, jagalah aklhakmu pada guru, sebab kau akan tetap bertemu gurumu baik di Dunia, di alam kubur, dan juga di akhirat hingga bisa berkumpul bersama-sama di surga.

Wallahu a’lam bish showab