Ya itulah Salah satu kalimat yang diucapkan beberapa orang ketika ada diskusi tentang keutamaan doa lewat wasilah orang2 tertentu...
Suatu kisah dalam kitab hadits bukhori...
Musim kemarau pernah terjadi Pada Zaman Umar Bin Khottob..
Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu anhu, Mu’awiyah bin Abi Sufyan Radhiyallahu anhu dan para Shahabat yang bersama mereka, juga para Tabi’in yang mengikuti mereka dengan baik ketika ditimpa kekeringan mereka memohon diturunkannya hujan, bertawassul, dan meminta doa kepada orang yg memiliki keutamaan seperti kepada al Abbas bin Abdil Muththalib selaku Paman Rasulullah saw
Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu anhu berkata....
*_Ya Allah dahulu kami bertawassul kepada-Mu dengan Nabi-Mu dan Engkau menurunkan hujan kepada kami dan kini kami bertawassul kepada-Mu dengan Paman Nabi kami, karena itu turunkanlah hujan kepada kami_*
Akhirnya tidak lama kemudIan turunlah hujan disaat Itu juga.
Sahabat Umar Bin Khottob menyadari Paman Nabi memiliki keutamaan yang berbeda dibandingkan dengan sahabat Nabi yg bukan keluarga Nabi Langsung
Ditambah Abbas bin Abdul Mutholib jUga seorang Ulama Dan Wali Allah.
Inilah juga Mengapa Saya sangat senang berdekatan Dan melayani Keturunan Rasulullah saw hingga bisa belajar Langsung dengan mereka.
Cara yang dilakukan Sahabat Umar Bin Khottob bisa dinamakan dengan wasilah Dan tawassul
wasilah dan tawasul adalah istilah yang saling berkaitan satu sama lain.
Wasilah adalah perantara Atau secara etimologi berarti: segala hal yang dapat mencapai atau mendekatkan kepada sesuatu.
Sedang tawassul adalah usaha mendekatkan diri kepada Allah dengan menggunakan wasilah
Washilah terbagi dua :
Wasilah kauniyah : wasilah yang Allah ciptakan secara fitrah untuk seluruh manusia
Wasilah syar’iyah : wasilah yang di syariatkan di dalam Al Qur'an maupun sunnah
Wasilah kauniyah sangat mungkin diwujudkan seorang mu’min ataupun kafir.
Contoh : makan untuk kenyang, pakaian untuk menjaga diri dari rasa dingin atau panas dan seterusnya.
Adapun wasilah syar’iyah hanyalah muncul dari seorang mukmin saja.
Tentang wasilah Dan tawassul ini juga dijelaskan dalam Surat Al Maidah Ayat 35 :
يَأيُّهَا الَّذِيْنَ أَمَنُوْا اتَقُوا اللهَ وَ ابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيْلَةَ
_“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan *carilah wasilah yang mendekatkan diri kepada-Nya*_
Dengan wasilah Apa saja Kita bertawassul kepada Allah..
Jawabannya sebagai berikut...
*1. Tawasul melalui Asmaul Husna*
Dengan nama nama Allah yang baik dan sifat-sifat-Nya yang tinggi. Hal ini Allah tegaskan dalam surat Al A’raf ayat 180 :
وَ ِللهِ الأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوْه بِهَا
_“Dan hanya milik Allah nama-nama yang baik. Maka berdoalah kalian dengan (wasilah) nama-nama tersebut”._
Sebutlah asma2 Allah Saat Kita sebelum berdoa kepada-Nya
*2.Tawassul dengan membaca shalawat*
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, _“Semua doa tertutupi tidak bisa naik ke langit sampai dibacakan shalawat untuk Nabi Muhammad shallahu ‘alaihi wa sallam.”
(HR. At Thabrani)
Dan Allah azza WA jalla pun mengajarkan agar Kita Perbanyak Membaca shalawat kepada Beliau.
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
_“Sesungguhnya Allah dan Malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.”_
[Al-Ahzaab: 56]
Sebagaimana Saya sering sarankan perbanyaklah baca shalawat Fatih yg memiliki berbagai keutamaan dibandingkan shalawat lain.
*3.Tawasul dengan amalan sholih yang pernah dilakukan seseorang yang bertawasul tersebut.*
Jenis tawasul ini didasari hadits Muttafaqun ‘Alaihi dari Abdullah bin Umar tentang tiga orang dari kaum terdahulu yang terperangkap di sebuah gua karena tertutup batu besar.
Salah satu diantara mereka bertawasul dengan amalan berbakti kepada kedua orang tuanya.
Yang kedua bertawasul dengan terjaganya kehormatan dia dari perbuatan zina dan yang ketiga bertawasul dengan penunaian amanahnya.
Hal itu mereka lakukan agar Allah menggeser batu tersebut. Akhirnya pun Allah kabulkan do’a mereka.
*4.Tawasul dengan menyebutkan keadaannya yang sangat membutuhkan sesuatu kepada Allah*
Doa Nabi Zakariya yang Allah kisahkan di dalam firman-Nya menunjukkan bolehnya perkara ini.
قَالَ رَبِّ إِنِّي وَهَنَ الْعَظْمُ مِنِّي وَاشْتَعَلَ الرَّأْسُ شَيْبًا وَلَمْ أَكُنْ بِدُعَائِكَ رَبِّ شَقِيًّا
_“Wahai Rabbku sesungguhnya tulangku telah melemah, rambutku telah ditumbuhi uban dan aku belum pernah kecewa dalam berdo’a kepada-Mu, wahai Rabbku”._
Kemudian beliau pun meminta kepada Allah untuk dianugerahi seorang putera yang sholih. Dan Allah pun mengabulkannya.
*5.Tawasul dengan Doa Orang Yang Sholeh Dan berilmu*
Surat Al-Mujadilah Ayat 11
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ ۖ وَإِذَا قِيلَ انْشُزُوا فَانْشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
_Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu._
_Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", maka berdirilah, *niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.* Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan._
Jadi tidak hanya sholeh saja Namun juga memiliki ilmu.
Tentu berbeda aktivitas seorang yang berilmu Dan tidak berilmu
Allah berfirman,
قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُوْلُوا الْأَلْبَابِ
_Katakanlah apakah sama orang-orang yang mengetahui dan orang-orang yang tidak mengetahui._
_Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran._
(QS Az Zumar: 9)
Ketika orang sholeh Pada umumnya hanya melihat dari sisi luar Atau dzhohir saja
Maka mereka yg berilmu jauh melihat lebih dalam Dan jauh lagi.
Merekalah yg disebut Ulama Dan Wali Allah
Namun Terkadang Kita merasa sudah cukup dari Pemikiran Kita saja
Dan perlu diingat ketika seseorang bertawasul bukan berati ia seperti tdk berharap kepada Allah
Atau ada kalimat yg menyatakan terlalu melebihkan dengan perantara tawassul Baik dengan Atas nama Rasulullah saw Atau wali Allah
Kita tetap bergantung kepada Allah Namun menyadari ada seseorang yg Allah cintai
Ditambah Jika Kita berdoa Langsung dengan banyaknya dosa serta kekurangan yg ada belum Tentu diterima Allah azza WA jalla
Dan tanpa sadar dalam keseharianpun Kita juga suka memakai perantara
Ketika Kita berobat ke dokter juga bukan berharap sembuh dari Dokter
Itu hanyalah wasilah saja..
Demikian ulasan yang bisa Saya berikan.
Semoga Allah Dan Rasulullah ridhoi
_Muhammad Reza Adrianto_
Tidak ada komentar:
Posting Komentar