Rabu, 11 September 2019

JANGAN KAU SIA SIAKAN IBU MU



*"MUTIARA YANG DIBUANG..."* 

SUAMI isteri yang kaya raya........saat masuk rumah dan mereka melihat ruang makan yang kotor.....dan tercium bau aroma tidak sedap.... "pesing".

Sementara di sudut meja makan terlihat....nampak seorang ibu tua sedang berusaha keras untuk bisa menyapu.

Istri :
DIA bersuara keras membentak ibu tua itu !!!
Ini pasti ulah ibu, kan......?
Ibu ngompol di lantai kan........?
Lihat tuh, meja kotor..... makanan tercecer dimana-mana..... lantai juga Waduuuuuh (marah dan geram)..... ibu...ibu !! 
Ini rumah bukan gudang.......ibu !!!!!

Suami :
Sudahlah mama.... jangan bentak ibu seperti itu, kasian.....ibu kan sudah tua

Istri:
Tidak bisa begini terus- menerus....Kalau tiba² ada tamu yg datang.... apa jadinya ???? Sebaiknya besok kita bawa ibu ke panti jompo.....Saya akan bawa !

Suami :
Jangan ma....! Itu kan ibumu....masa' dibawa ke panti jompo ??
...................

Setelah ibu tua itu dibawa ke panti jompo si istri benahi merapikan kamar ibunya........
Dibawah kasur ditemukan sebuah buku lusuh dengan kertas yang agak kuning kusam.

Dia tertarik karena....koq ada foto dirinya sejak kecil dan remaja, di halaman depan bertuliskan judul buku :

*"PUTRIKU buah HATIKU"*

istri :
Terduduk lesu setelah membaca tulisan ibunya itu.

Diawali hari dan tanggal lahir dia. "Aku melahirkan putriku....biar terasa sakit dan mandi darah....aku bangga bisa punya anak"
Ya.....aku bangga bisa berjuang tanpa suami yang telah mendahuluiku.

Aku rawat dengan cinta....aku besarkan dengan kasih....aku sekolahkan dengan airmata....aku hidupi dia dengan cucuran keringat.

Kuingat.....ketika kubawa ke klinik untuk imunisasi.....diatas angkot....dia nangis lalu kubuka kancing blus dan susui dia....aku tak merasa malu....bahkan tiba-tiba dia kencingi aku.....tapi biarlah.

Tiba² dia batuk kecil.... muntah....dan basahi rokku.

Hari itu terasa indah bagiku....biarpun aku basah oleh kencing dan muntahannya....aku tetap tersenyum..... bangga sekali.

Kejadian itu berulang-ulang beberapa kali. 

Aku tak peduli apa kata orang diatas angkot.... asalkan putriku bisa tumbuh sehat....Itu yang utama bagiku.

Istri :
Sambil baca..... airmatanya mulai meleleh turun....hati terasa perih....dada sesak.
Tiba² dia berteriak keras....meraung-raung sejadi-jadinya "Ibuuuuuuu.......ibuuuuu.."!! Sambil berdiri setengah berlari ke garasi.

Suami :
Suaminya kaget lihat ulah istrinya dan bertanya : "Keeeenapa ma, ada apa ?????"
Terisak dia jawab : "Aku harus bawa kembali ibuku".

Tiba-tiba telpon berdering....diterima suaminya lalu........
"Mohon bapak dan ibu segera datang ke panti sekarang......cepat !!!"

Mereka buru-buru ke panti....saat masuk, nampak tubuh ibu tua sudah lemah, sedang diperiksa dokter.

Istri :
si istri berteriak histeris sambil menangis menahan air mata "Ibuuuuu........"!! Ibunya lemah tanpa bersuara dan berusaha memeluk kepala anaknya seraya berbisik pelan dan bercucur air mata..... "Anakku...ibu bangga punya kamu....seluruh cinta kasih hanya buat kamu nak... Maafkan ibu. iiiii...ibu saaayyyaaaang padamu (sambil memejamkan mata)"
Sang ibupun menghembuskan nafas... meninggal dengan damai 

Anaknya meraung-raung keras sekali....menangis dan menyesal !!!!! "Ibuu....ibuu.... aku minta ampun buu...... aku durhaka sama ibuu.. ampun...ampuni aku bu. iiibuu...jangan tinggalkan aku bu. 

*"Anak macam apa aku ini....anak macam apa.......ampun buu....ampuni aku ibuu*"

SUADARAKU.....SAHABATKU....masih KAH ada ibu dan ayah disisimu ? 

KALAU orang tua masih ada rawatlah dengan sepenuh hati.....kalau telah mendahului kita do'a kan.

Nilai apa yg terbersit dari kisah ini ? 

Ingatlah Saudaraku :

* kegeraman mengantar kita "memeluk dosa"

* sikap ego, mendorong kita "mendekap nista"

* sesal yang terlambat, menarik kita "bergelimang keperihan dan dosa"

Berpikirlah arif, bertindak dengan bijak, berucaplah yang patut....berikan kasih sayang dgn jiwa.....dan hiduplah penuh dengan KASIH.

_Semoga hati kita menjadi lembut dalam memberikan bakti pd org tua....❤._ 


_Pelajaran yg harus kita ubah,tingkah laku kita,tehadap org tua, terimalah dia apa adanya, krn dia satu2nya yg bisa memberikan kehidupan kita di dunia ini._👍👍

Jumat, 02 Agustus 2019

KISAH ALI BIN ABI THALIB MELAMAR FATIMAH PUTRI RASULULLAH SAW

Dalam Diam Ada Cinta

Kisah cinta yang sudah terpendam sejak lama, kisah cintanya sangat terjaga kerahasiaannya dalam kata, sikap dan ekspresi mereka bahkan konon syaithanpun tak bisa mengendusnya, mereka bisa menjaga izzah mereka, hingga Allah telah menghalalkannya.

Ali bin Abi Thalib adalah keponakan dan salah satu sahabat yang istimewa dimata Rasulullah SAW. Selain beliau tinggal langsung bersama Rasulullah, dia juga seorang pemberani yang pernah menggantikan posisi tidur Rasulullah disaat hijrah dan juga seorang mujahid perang yang gagah.

Sementara Fatimah, putri Rasulullah SAW yang taat, penyayang dan sangat peduli pada Rasulullah SAW, selalu ada disamping ayahnya dalam setiap kisah perjuangan sang ayah membumikan nilai-nilai islam di tengah kafir Quraisy.

Ali sudah menyukai Fatimah sejak lama, kecantikan putri Rasulullah ini tak hanya jasmaninya saja, kecantikan Ruhaninya melintasi batas hingga langit ketujuh. Kendalanya adalah perasaan rendah dirinya, apakah mampu ia membahagiakan putri Rasulullah dengan keadaannya yang serba terbatas. Demikian kira-kira perasaan yang ada pada Ali saat itu.

Pada suatu ketika, Fatimah dilamar oleh seorang laki-laki yang selalu dekat dengan nabi, yang telah mempertaruhkan kehidupannya, harta dan jiwanya untuk Islam, menemani perjuangan Rasulullah SAW sejak awal-awal risalah ini.

Dialah Abu Bakar Ash Shiddiq, entah kenapa mendengar berita ini Ali terkejut dan tersentak jiwanya, muncul rasa-rasa yang diapun tak mengerti, Ali merasa diuji karena terasa apalah dirinya jika dibanding dengan Abu Bakar kedudukannya disisi nabi.

Ali merasa belum ada apa-apanya bila dibanding dengan perjuangannya dalam menyebarkan risalah Islam, entah sudah berapa banyak tokoh-tokoh bangsawan dan saudagar Makkah yang masuk Islam karena sentuhan dakwahnya. Sebutlah ‘Utsman, ‘Abdurrahman bin auf, Thalhah, Zubair, Sa’d bin abi Waqqash, Mush’ab. Ini yang tak mungkin dilakukan oleh anak-anak seperti Ali. Tak sedikit juga para budak yang dibebaskan oleh Abu Bakar sebutlah Bilal bin rabbah, khabbab, keluarga yassir, ‘Abdullah ibn mas’ud.

Dari sisi finansial Abu Bakar seorang saudagar, tentu akan lebih bisa membahagiakan Fatimah, sementara Ali?, hanya pemuda miskin dari keluarga miskin.

Melihat dan memperhitungkan hal ini, Ali ikhlas dan bahagia jika Fatimah bersama Abu Bakar, meskipun ia tak mampu membohongi rasa-rasa dalam hatinya yang ia sendiri tak mengerti, apakah mungkin itu yang namanya cinta?

Namun ternyata lamaran Abu Bakar ditolak oleh Fatimah sehingga hal ini menumbuhkan kembali harapannya. Ali kembali mempersiapkan diri, berharap dia masih memiliki kesempatan itu.

Namun ujian bagi Ali belum berakhir, setelah Abu Bakar mundur muncullah laki-laki nan gagah perkasa dan pemberani. Seseorang yang dengan masuk Islamnya mengangkat derajat kaum muslimin, seorang laki-laki yang membuat syaithan berlari takut dan musuh-musuh Allah bertekuk lutut. Seorang yang diberi gelar Al-Faruq.
Ya, dialah Umar ibn Al Khaththab. Pemisah antara kebenaran dan kebatilan juga datang melamar Fatimah.

Ali pun ridha jika Fatimah menikah dengan Umar, ia bahagia jika Fatimah bisa bersama dengan sahabat kedua terbaik Rasulullah setelah Abu Bakar yang mana Rasulullah sampai mengatakan “Aku datang bersama Umar dan Abu Bakar”.

Namun kemudian Ali pun semakin bingung karena ternyata lamaran Umar pun ditolak.

Setelah itu menyusul Abdurahman bin Auf melamar sang putri dengan membawa 100 unta bermata biru dari mesir dan 10.000 Dinnar, kalo diuangkan dalam rupiah kira kira 55 milyar. Dan lamaran bermilyar-milyar itupun ditolak oleh Rasulullah.

Akan tetapi kekhawatiran Ali bin Abi Thalib belum berakhir sampai di sini karena ternyata sahabat yang lainpun melamar sang Az Zahra. Usman bin Affanpun memberanikan dirinya melamar sang putri, dengan mahar seperti yang dibawa oleh Abdurrahman bin Auf, hanya ia menegaskan kembali bahwa kedudukannya lebih mulia di banding Abdurrahman bin Auf karena ia telah lebih dahulu masuk islam.

Tidak disangkaa tidak diduga, ternyata Rasulullahpun menolak lamaran Usman bin Affan.

Empat sahabat sudah memberanikan diri dan mereka semua telah ditolak oleh Rasulullah SAW. 

“Mengapa bukan engkau saja yang mencobanya kawan?”, seru sahabat Ali,
"Mengapa engkau tak mencoba melamar Fatimah?, aku punya firasat, engkaulah yang ditunggu-tunggu Baginda Nabi..”
“Aku?”, tanyanya tak yakin.
“Ya. Engkau wahai saudaraku!”
“Aku hanya pemuda miskin. Apa yang bisa aku andalkan?”
Sahabatnyapun menguatkan “Kami dibelakangmu, kawan!

Akhirnya Ali bin Abi Thalibpun memberanikan diri menjumpai Rasulullah untuk menyampaikan maksud hatinya, meminang putri nabi untuk jadi istrinya. Awalnya beliau hanya duduk di samping Rasulullah dan lama tertunduk diam. Hingga Rasulullahpun bertanya ” wahai putra Abu Thalib, apa yang engkau inginkan?”

Sejenak Ali terdiam, dan dengan suara bergetar iapun menjawab, ” Ya Rasulullah, aku hendak meminang Fatimah” Mendengar jawaban Ali ini beliau SAW tidak terkejut. "Bagus, wahai Ibnu Abu Thalib, beberapa waktu terakhir ini banyak yang melamar putriku, tetapi ia selalu menolaknya, oleh karena itu, tunggulah jawaban putriku”

Kemudian Rasulullah meninggalkan Ali dan bertanya kepada putrinya, ketika ditanya Fatimah hanya terdiam dan Rasulullah SAW menyimpulkan bahwa diamnya Fatimah pertanda kesetujuannya.

Rasulullah kemudian mendekati Ali dan bersabda "Apakah engkau memiliki sesuatu yang akan engkau jadikan mahar wahai Ali?

Alipun menjawab ” Orang tuaku yang menjadi penebusnya untukmu ya Rasulullah, tak ada yang aku sembunyikan darimu, aku hanya memiliki seekor unta untuk membantuku menyiram tanaman, sebuah pedang dan sebuah baju zirah dari besi”

Dengan tersenyum Rasulullah SAW bersabda "Wahai Ali, tidak mungkin engkau terpisah dengan pedangmu, karena dengannya engkau membela diri dari musuh-musuh Allah SWT dan tidak mungkin juga engkau berpisah dengan untamu karena ia engkau butuhkan untuk membantumu mengairi tanamanmu, aku terima mahar baju besimu, jual lah dan jadikan sebagai mahar untuk putriku” Wahai Ali engkau wajib bergembira sebab Allah sebenarnya sudah lebih dahulu menikahkan engkau di Langit sebelum aku menikahkan engakau di Bumi" Diriwayatkan oleh Ummu Salamah ra.

Ali bin Abi Thalib menjual baju besi tsb dengan harga 400 dirham dan menyerahkan uang tersebut kepada Rasulullah SAW, dan nabipun membagi uang tersebut ke dalam 3 bagian. Satu bagian untuk kebutuhan rumah tangga, satu bagian untuk wewangian dan satu bagian lagi di kembalikan kepada Ali bin Abi Thalib sebagai biaya untuk jamuan makan untuk para tamu yang menghadiri pesta.

Setelah segala-galannya siap,dengan perasaan puas dan hati gembira dan di saksikan oleh para sahabat Rasulullah mengucapkan kata ijab kabul pernikahan putrinya

Kemudian Nabi SAW bersabda:"Sesunguhnya Allah Azza wa Jalla memerintahkan aku untuk menikahkan Fatimah Putri Khadijah dengan Ali bin Abi Thalib,Maka saksikanlah sesunguhnya aku telah menikahkanya dengan mas kawin empat ratus dihram(nilai sebuah baju besi) dan Ali Ridho(menerima)mahar tersebut.

Maka menikahlah Ali dengan Fatimah Pernikahan mereka penuh hikmah walau di arungi di tengah kemiskinan Bahkan di sebutkan oleh Rasulullah sangat terharu melihat tangan Fatimah yang kasar karena harus menepung gandum untuk membantu suaminya

Dan malam harinya setelah dihalalkan oleh Allah SWT, terjadilah dialog yang sangat menggetarkan. Dalam suatu riwayat dikisahkan bahwa suatu hari setelah keduanya menikah, Fatimah berkata kepada Ali,

“Maafkan aku, karena sebelum menikah denganmu, aku pernah satu kali merasakan jatuh cinta kepada seorang pemuda dan aku ingin menikah dengannya”,
Ali pun bertanya mengapa ia tak mau menikah dengannya, dan apakah Fatimah menyesal menikah dengannya.
Sambil tersenyum Fatimah menjawab, “Pemuda itu adalah dirimu.”

Subhanallah, itu adalah pujian terbaik dari seorang istri yang bisa membahagiakan hati suaminya.

Ali dan Fatimah saling mencintai karna Allah mereka mencintai dalam diam,menjaga cintanya dan Allah satukan dalam ikatan suci pernikahan Maa Syaa Allah.

Semoga Allah SWT mempertemukan kita semua dengan orang yang sunguh-sunguh mencintai kita seperti Fatimah dan Ali.

Aamiin Yaa Robbal Alamiin.

Sabtu, 27 Juli 2019

*BIOGRAFI SYEKH AHMAD BIN MUHAMMAD AT TIJANI  AL HASANI RA*

Biografi Syaikh; Sang ahli hakikat dan penutup
para wali; Sayyidi Abul Abbas Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra.

      Beliau adalah Sayyidi Abu Al Abbas Ahmad bin Muhammad bin Al Mukhtar bin Ahmad bin Muhammad bin Salim bin Al lid bin Salim bin Ahmad bin Ahmad bin Ali bin Abdullah bin Al Abbas bin Abd Al Jabbar bin Idris bin Ishaq
bin All Zainal Abidin bin Ahmad bin Muhammad bin Hasan Al Mutsanna bin Al Hasan As-Sabt bin Ali bin Abi Thâlib, suami dan Fathimah Az-Zahra ; penghulunya wanita penghuni surga; yang juga merupakan putri Rasulullah Saw.

      Beliau termasuk keturunan Nabi yang mulia, pemilik
Futuh Al Mubiin: sossoknya memiliki kedudukan yang tinggi, sang wali quthb yang tersembunyi dan sosok Imam yang mulia.

      Suatu ketika pernah ada yang bertanya kepada beliau, " Apa kelak akan ada seseorang yang berbohong atas namamu?," Beliau menjawab , " iya, maka jika kalian mendengar sesuatu dariku, timbanglah itu dengan secara syariat, jika itu sesuai dengan syariat, maka amalkanlah, namun jika itu bertentangan dengan syariat, maka tinggalkanlah."

       Gambaran amaliyah seseorang yang tidak mengikuti syariat, maka sejatinya dia tidak akan pernah bisa wushul kepada Allah, Ada sebuah kaidah yang menyatakan, bahwa orang yang meninggalkan ushul ( Al- Qur'an dan Hadits ), maka dirinya tidak akan pernah bisa wushul kepada Allah. Sungguh orang yang tidak mengikuti syariat, maka dia pun tidak akan pernah dapat mencium semerbak wanginya bau pangkat kewalian sama sekali.

      Sekalipun dalam perjalanan ruhani, Syaikh Ahmad bin Muhammad At- Tijany pernah merasakan lapar, haus, tidur dan begadang malam serta turut merasakan rasa takut,namun perlu diketahui, bahwa thariqah beliau ini merupakan thariqah yang murni dalam rangka melepaskan jiwa dari daya dan upaya yang dimiliki manusia, memurnikan tauhid kepada Allah, dan berusaha selalu menghadirkan jiwa dalam setiap beribadah. Bentuk thariqah semacam ini tak lain karena selalu berporos pada sisi Rububiyyah Allah semata.

      Thariqah beliau ini merupakan thariqah tauhid, baik dalam sifat, hukum, maupun beragam kondisi jiwa di dalamnya. Thariqah ini juga merupakan perwujudan syariat dari segi dzahir dan bathin. Selain itu, thariqah ini pun merupakan bentuk penyaksian sisi ketuhanan secara khusus.

      Syaikh Ahmad bin Muhammad At- Tijany merupakan sosok yang menguasai ilmu syariat dan hakikat, menguasai beragam dalil, sosok yang selalu berpedoman kepada Al - Qur'an dan As- Sunnah serta sosok yang memiliki dua metode dalam mentarbiyah para muridnya. Beliau selalu mengikuti tuntunan baginda Nabi Muhammad SAW, bahkan beliau mampu menggapai semua kedudukan yang ada, terkecuali kedudukan seorang nabi yang mustahil digapai oleh sang wali sekalipun.

      Manusia sejatinya memiliki Syaikh (seorang guru), begitu juga dengan jin dan malaikat, dimana Syaikh Ahmad bin Muhammad At- Tijany adalah dari semua itu.

      Allah SWT memang telah menganugerahkan beliau segalanya; baik berupa kemampuan bertindak di belahan bumi manapun dan pada tingkatan manusia serta pada golongan apa saja, namun beliau tidak menghiraukan semua keutamaan itu dan memilih jalur peribadatan nan murni. Dengan perantara jalur peribadatan inilah, beliau meyakini bahwa karena Allah lah beliau bisa berbicara, lantaran pemberian Allah lah beliau bisa berbagi, dan atas perintah Allah lah beliau dapat melakukan berbagai hal tersebut. Manusia dalam pandangan beliau layaknya sebuah botol kaca, dimana apa yang ada di dalam botol kaca tersebut tercermin jelas di bagian luarnya.

      Allah SWT  juga memberikan anugerah pandangan batin bagi beliau pada empat sisi: Satu sisi dimana beliau melihat  kepada iai dunia, satu lainnya dimana beliau melihat kepada sisi akhiray. Satu sisi lainnya dimana beliau melihat kepada makhluk, dan sati sisi yang terakhir adalah,dimana beliau memandang kepada sisi Al- Haq ( Allah ).

      Allah menjadikan beliau sebagai khalifah-Nya di atas bumi, langit dan semua alam lainnya, dimana ada yang mengatakan kepada beliau, seperti yang tertera di dalam Al-Qur'an, " Sungguh Engkau memiliki kedudukan yang tertinggi lagi terpercaya di sisi kami."

      Terkadang ada perkara luar biasa yang tidak dapat dicerna akal yang terjadi lantaran keberadaan beliau, terkadang perkara itu juga berasal dari diri beliau, begitu pula seperti perkara yang biasanya tidak dapat dilihat oleh seseoramg di dalam mimpi, namun beliau dapat melakukan itu, bahkan Allah SWT pun telah berfirman,
" Dan Allah telah menciptakan apa yang tidak kamu ketahui." ( Qs. An-Nahl [12]: 8 ).

      Namun kita sebagai manusia biasa, tidak dapat mengetahui seluruh informasi dan karunia yang Allah berikan kepada beliau.

      Di antara ulama yang menuliskan biografi beliau, selain dari ulama thariqahnya adalah, Syaikh Muhammad Al Basyir Zhafir dalam Al Yawaqit Ats- Tsamaniyah Fi A ' yan Madzhab 'Alim Al Madaniyyah: Sayyidi Ahmad At- Tijany bin Al Mukhtar bin Ahmad bin Muhammad bin Salim yang terkenal dengan Asy- Syarif At- Tijany; sosok qudwah yang sempurna : seorang 'Arif yang memiliki ilmu yang mumpuni ; menguasai sunnah dan agama; seorang 'Allamah, sosok yang mengumpulkan antara syariat dan hakikat ; sosok yang sangat langka di zamannya dan dia merupakan lentera zaman."

      Al ' Allamah Magrib; Syaikh Al Kattani berkata mengenai beliau: "Beliau merupakan ulama yang mengamalkan ilmunya ; seorang imam mujtahid; orang yang mengumpulkan antara kemuliaan dunia dan agama; ilmu, amal dan keyakinan; memiliki ahwal rabbani nan agung dan maqamat yang tinggi; zhahir dan batinnya kuat; kebaikan dalam dirinya sempurna; sosoknya enak dipandang; perawakannya bagus; jenggotnya bercahaya; wibawanya besar; memiliki kedudukan yang tinggi; namanya banyak disebut orang; namanya terkenal dimana - mana; ahwal dirinya sangat mberikan manfaat; ucapannya mengena, khususnya yang berkenaan dengan bentuk anjuran mengerjakan suatu kebaikan dan mencegah dari perkara yang mungkar. Sejak awal, beliau banyak menyibukan diri dengan menuntut ilmu- ilmu dasar beserta cabangnya dan juga sastra, hingga beliau menguasai semua itu, bahkan beliau dapat menyibak sisi rahasia maknanya.

      Nabi SAW memberikan izin kepada beliau untuk mentalqin orang secara umum, tepatnya pada tahun 1196H sosok beliau memiliki segudang kebaikan dan bentuk perubahan ahwal yang sangat banyak, beliau meninggal dunia pada pagi hari kamis, 17 syawwal 1230H, dimana kala itu tidak terhitung bagi ulama, orang shaleh, para petinggi, pejabat dan pemimpin penduduk Fess yang datang melayat jenazah beliau. Beliau dikebumikan di zawiyah yang berada di Humah Al Balidah.

      Sedangkan orang yang menulis biografi beliau dari pengikut thariqahnya, sungguh sudah tidak terhitung lagi jumlahnya.

      Sayyidi Ahmad Tijani dilahirkan pada tahun 1150H/1737M, di 'Ain Madhi Al Jazair; tempat para pendahulu beliau. Kakek beliau yang ke empat: Sayyidi Muhammad bin Salim pernah berpisah bersama keluarga dari desa 'Abdah yang berada di penghujung kota Magrib ke Bani Tijanah dan menikah dengan gadis setempat, sehingga anak cucu keturunannya dikenal dengan "Tijaniyyin."

      Sayyidi Ahmad At - Tijany termasuk keturunan Nabi Muhammad dari jalur Sayyidina Al Hasan. Kala itu beliau tidak menganggap penting silsilah nasab beliau ini sampai suatu ketika terjadinya sebuah kejadian, dimana Rasulullah SAW bersabda kepada beliau secara terjaga dan tidak tertidur, " Anta walidi haqqan, wa nasabuka Ilaa Al- Hasan bin 'Ali shahih," ( Kamu benar - benar anakku, nasabmu kepada Al Hasan bin Ali adalah benar adanya ).

      Daerah Ain Madhi merupakan daerah yang menaruh perhatikan besar terhadap sisi keilmuan, tak ayal banyak keturunan Nabi di Maghrib yang membuka zawiyah atau majelis ilmu, begitu pula dengan orang tua dan para kakek Syaikh Ahmad At- Tijany. Zawiyah yang didirikan para leluhur beliau berkiprah cukup lama dalam menyebarkan ajaran Islam beserta ajarannya yang menyentuh ruhani dan mencakup beragam ilmu pengetahuan di Negara itu, bahkan nama zawiyah tersebut terkenal hingga bagian utara afrika, kawasan padang pasir dan Afrika bagian tengah.

      Hal yang menunjukan besarnya peranan keluarga beliau dalam penyebaran ilmu pengetahuan, sebagaimana yang disebutkan dalam sejarah, bahwa As-Sayyidi Ahmad At- Tijany, merupakan seorang Syaikh di zawiyah besar yang letaknya di 'Ain Madhi. Sayyidi Ali Harazim Barradah menggambarkan, bahwa Sayyid Muhammad Al Mukhtar adalah seorang guru besar Islam yang menjadi rujukan bamyak orang.

       Ibu Sayyidi Ahmad bin Muhammad At- Tijany adalah, Sayyidah Aisyah binti Sayyidi Muhammad As- Sanusi At- Tijany Al Madhawi, sosok ulama yang dikenal dengan keshalehan, kewalian dan kedudukannya yang tinggi di sisi Allah.

      Kakek beliau; As- Sayyid Muhammad yang juga biasa dipanggil Ibnu Umar, beliau adalah seorang Alim besar yang hafal Al - Qur'an, dan banyak meberikan lontribusi bagi ilmu syariat dan juga pakardalam ilmu faraidh. Sedangkan kakek beliau  yang ketiga : yaiti Ahmad bin Muhammad, merupakan ulama yang 'Alim, pemukanya para pemimpin, memiliki ahwal yang menunjukan sisi kekuatan, dan cahaya yang selalu terpancar dari dirinya. Begitu pula kakeknya yang ke empat: Muhammad bin Salim, dia merupakan seorang guru besar, wali yang bekedudukan tinggi, sosok yang pancaran caha dan sisi jadzab nampak, bahkan kakek beliau ini kerap menutupi wajahnya saat berjalan menuju masjid, saat kembali ke rumah, hingga sampai di tempat khalwatnya.

      sayyidi Ahmad bin Muhammad At- Tijany pernah ditanya tentang kondisi kakeknya yang ke empat itu, beliau berkata: bahwa kakeknya yang ke empat itu telah sampai pada derajat kewalian, orang yang melihat wajahnya, dia kelak tidak mau berpisah dengan sang wali Allah tersebut. Jika orang itu sampai berpisah atau bahkan penglihatannya terhalang untuk dapat melihat wajah sang wali itu, maka yang bersangkutan akan meninggal dunia seketika.

      Sayyidi Ahmad bin Muhammad At- Tijany dibesarkan dalam keluarga yang shaleh dan juga merupakan keturunan Nabi Muhamnad yang juga selalu menjaga kehormatan diri. Beliau sangat terkenal dengan kecerdasannya dam memili kemauan diri yang kuat, tidaklah beliau menginginkan sesuatu kecuali beliau pasti mengejakannya, bahkan jika beliau mengerjakannya, maka beliau pun tidak akan berhenti kecuali sampai batas sempurna.

      Beliau memiliki akhlak yang terpuji, jiwa yang tenang tapi pasti, beliau pemalu dan penuh dengan adab yang terpuji, penampilannya yang baik dan sosoknya banyak diam, beribawa saat bertutur kata. Beliau telah hafal Al - Qur'an dengan riwayat imam Warsy saat berumur 7 tahun, ditangan seorang pakar qiraat Al- Qur' an; Sayyidi Muhammad bin Himawi At- Tijany Al Madhawi, yang juga murid dari seorang Syaikh; Al 'Arif billah Sayyidi ' Isa Bu ' Akaz Al Madhawi At- Tijany.

      Dengan usia beliau yang masih belia, beliau memiliki kekuatan yang besar, baik zhahir maupun batin, memiliki kesempurnaan karunia dan ragam kebaikan.

       Ayah dan Ibu beliau meminggal dunia pada hari yang sama dan keduanya di kuburkan di 'Ain Madhi, hal ini terjadi saat usia beliau masih sebelas tahun.

        Terkait dengan postur tubuh Syaikh Ahmad At- Tijany; beliau berjanggut putih dengan sedikit wana kemerahan, postur tubuhnya tegap, berhidung mancung, beralis lebat, keningnya lapang janggutnya terlihat bersinar cerah, memiliki suara yang lantang, lisannya fasih dan tutur katanya enak didengar.

        Beliau banyak mempelajari ilmu- ilmu dasar dan cabangnya serta turut belajar ilmu sastra, beliau mempelajari semua ilmu itu di mengertinya, bahkan sampai beliau layak disebut sebagai guru dan dapat memberikan fatwa. Ini semua terjadi sebelum beliau melakukan perjalanan yang pertama ke kota Fess, kemudian beliau melanjutkan perjalanan tersebut ke 'Ain Madhi, namun di sana beliau tidak tinggal lama, hingga beliau memiliki keinginan untuk berzuhud, menyendiri dan bertafakur. Saat itulah beliau juga semakin cinta akan ibadah dan shalat malam. Hal ini terjadi hingga beliau menginjak dewasa, dimana beliau menjadi sosok orang yang selalu menunjukan jalan menuju Allah SWT, memberikan nasehat kepada para hamba Allah dan juga menggeluti Sunnah Rasulullah SAW, hingga beliau mendapatkan julukan "Muhyyidin," ( Sang penghidup agama).

      Lantas kemudian beliau menggantikan sang ayah sebagai Khalifah di sebuah zawiyah milik sang ayah, sekalipun saat ini umur beliau masih belia, yaitu 16 tahun. Di sana beliau mengajarkan Al-Qur'an dan ilmu- ilmu hadits selama 5 tahun lamanya.

      Di saat umur beliau 21 tahun, yauitu tepatnya tahun 1171H/1758M, beliau melakukan perjalanan ke kota Al Idrisiyyah untuk pertama kalinya, disana beliau menyempatkan diri untuk menghadiri beragam majelis ilmu; baik itu yang mengajarkan tafsir, hadits dan fikih, bahkan hingga beliau berhasil mendapatkan beragam banyak ijazah dalam ragam ilmu tersebut. Beliau juga banyak melakukan diskusi dan debat dengan para petinggi ulama Fess. Tak kalah pentingnya , beliau juga mempelajari qiraat sab'ah kepada para pakarnya.

      Di tengah perjalanan beliau ini , tepatnya di kota Wazzan, beloau bertemu dengan  Al 'Arif billah Maulaya Ath- Thayyib bin Sayyidi Muhammad bin Maulaya Abdullah bin ibrahim Al 'Ilmi Al Wazzani, yang merupakan Syaikh thariqah Wazzaniyah, kala itu sang Syaikh memberikan izin untuk mentalqinkan thariqahnya, namun enggan menerima hal tersebut.

      Dalam perjalan beliau di area bukit Az-Zabiib, beliau bertemu dengan Al 'Arif billah, Sayyidi  Muhammad bin Al Hasan Al Wanjali, sang Syaikh mengabarkan kepada beliau bahwa beliau akan mendapati derajat Al Quthb Al Kabir Abu Al Hasan As-Syadzili, Syaikh tersebut juga menyarankan agar beliau segera kembali ke negerinya.

       Di kota Fess, beliau juga bertemu dengan seorang wali yang shaleh; Sayyidi Abdullah bin Sayyidi Al 'Arabi Al Andalusi dan sempat berbincang - bincang dengannya dalam beragam permasalahan dan banyak memberikan do'a untuk beliau.

       Di kota Tazzah, beliau mengambil thariqah dari seorang wali saleh Al Mulamati; Sayyidi Ahmad Ath-Thawwasy, dimana sang wali ini mentalqinkan beliau suatu asma', dan meminta kepada Syaikh Ahmad At-Tijany agar selalu menyepi dan menyendiri serta bersabar hingga Allah memberikan futuh kepadanya , beliau pun sempat melazimkan wiridan ini , namun kemudian beliau tinggalkan. Lalu beliau mengambil wiridan thariqah Al Qadiriyyah di Fess, dan kemudian beliau meninggalkannya lagi.

      Beliau juga mendapat penggemblengan tarbiyah dalam thariqah An-Nashiriyyah setelah beliau bertemu dengan seirang wali shaleh; Sayyidi Ahmad bin Abdullah At-Tazzani, yang kemudian kembali beliau tinggalkan.

      Lalu beliau mengambil wiridan thariqah Ash-Shiddiqiyyah, yang dinisbatkan kepada seorang wali Quthb yang terkenal; Sayyidi Ahmad Al Habib bin Muhammad Al Ghimari As- Siljimasi Ash-Shiddiqi.

       Kemudian beliau pulang ke negerinya 'Ain Madhi, yang perjalanannya melewati kota Al Abyadh; satu kota kecil dari negeri 'Ain Madhi, di sana bertemu dengan seorang wali Quthb yang terkenal; Sayyidi Abdul Qodir bin Muhammad Al  Abyadh, sang Syaikh menawarkan untuknya sebuah rumah dan mengharpan dirinya bisa menetap di tempat tersebut. Di tempat itulah beliau banyak menyendiri  untuk beribadah, mengajar dan memberikan manfaat lainnya dalam kurun waktu 5 tahun. Letak tempat ini berada di antara zawiyahnya Sayyidi Abdul Qodir dan negerinya 'Ain Madhi.

      Beliau kembali melakukan perjalanan ke Tilmisan pada tahun 1186H/1772M, dan pada tahun yang sama beliau juga kembali pergi dari Tilmisan untuk menunaikan ibadah Haji ke Baitullah, dan juga menziarahi Nabi SAW. Saat itu usia beliau sudah 40 tahun.

       Saat beliau  tiba di negeri Zawawah negeri yang berada dalam jalur perjalanan dari Al Jazair menuju Tunis beliau menziarahi seorang Syaikh; Sayyidi Muhammad bin Abdurrahman Al Azhari, sosok ulama yang sangat terkenal, beliau memiliki zawiyah yang besar dan pengikut yang banyak, darinyalah kemudian Sayyidi Ahmad bin Muhammad At-Tijany mengambil wiridan thariqah Khalwatiyyah.

      Setiba di tunis pada tahun yang sama , beliau banyak bertemu dengan para wali Allah disana, antara lain; Sayyidi Abdusshamad Ar-Rahawi seorang murid wali Quthb negeri tersebut, sang wali ini tidak pernah mengizinkan seorang bertwmu dengannya. Melalui seorang utusan khusus, sang wali tersebut menyampaikan, bahwa Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany adalah orang yang banyak dicintai manusia.

      Beliau pun tinggal di tunis selama satu tahun, pada sebagian waktu beliau tinggal di kota Susah, dan pada sebagian waktu lainnya beliau tinggal di ibukota Tunis. Beliau tinggal di sana dan mengajar beragam buku dan juga berfatwa, di antara buku yang beliau ajarkan adalah, kitab Al Hikam karya Ibnu 'Athaillah As-Sakandari. Mulai fari sini, nama beliau pun semakin terkenal, hingga kabar mengenai beliau samapi kepada kepala Negara. Sang kepala Negara mintanya untuk dapat tinggal lebih lama ditunis, yaitu untuk mengakar dan memberikan fatwa, akan tetapi beliau memohon maaf tidak dapat menerima tawaran itu, dan kemudian beliau meninggalkan negeri tersebut dan sampai Mesir melalui jalur laut.

      Setiba di Mesir, beliau langsung mencari Syaikh yang terkenal saat itu, yauitu Sayyidi Mahmud Al Kurdi Al Mashri, yang bertempat tinggal di Mesir namun asalnya dari Negeri Irak, untuk menanyakan mimpi beliau saat beliau berada di tunis. Saat bertemu dengannya, Syaikh Mahmud Al Kurdi berkata, "Engkau adalah orang yang dicintai di dunia dan juga di akhirat." Beliau berkata, " Darimana engkau tahu akan hal ini?." Sang Syaikh berkata," Dari Allah." Lalu kemudian beliau pun menceritakan apa yang beliau impikan saat berada di tunis. Perkataan yang beliau ucapkan kepada Sayyidi Mahmud Al Kurdi dalam mimpi adalah, " Semua Dzatku adalah tembaga." Dan Sayyidi Mahmud Al Kurdi pun dalam dalampi itu berkata,"  Maka aku ubah tembagaku itu menjadi emas."

      Setelah beliau menceritakan hal ini, maka Sayyidi Mahmud Al Kurdi berkata," Itu memang seperti yang engkau lihat, lantas sekarang apa permintaanmu? " Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany berkata ," Al Quthbaniyyah Al Uzhma," ( Derajat wali quthb terbesar). Syaikh Mahmud Al Kurdi berkata," Bahkan engkau akan mendapatkan lebih dari itu." Syaikh Ahmad At-Tijany berkata," Berarti di atas dirimu?" Dia menjawab,"iya."

      Kemudian beliau pergi menuju Makkah melalui jalur laut. Beliau sampao di Makkah pada bulan Syawwal tahun 1197H/1773M. Kala itu beliau mendengar ada seorang Syaikh yang tidak mengizinkan siapapun untuk bertemu dengannya; yaitu Syaikh Abu Abbas Sayyidi Ahmad Abdullah Al Hindi. Sekalipun kondisinya demikian, namun Syaikh Ahmad At-Tijany tetap bisa mendapatkam ilmu, asrar dan luapan cahaya keimanan, sekalipun tanpa adanya proses pertemuan.

      Hal ini dilakukan dengan cara saling berkirim surat melalui seorang pelayan yang menghubungkan antara keduanya, yaitu dimana sang Syaikh ini mengirimkan surat kepada Syaikh Ahmad At-Tijany. Beliau menuliskan dalam sebuah surat yang dibawa pelayannya kepada Syaikh Ahmad At-Tijany," Engkau adalah pewaris ilmu rahasia, pemberian Allah dan luapan cahaya keimananku." Sang pelayan berkata kepada Syaikh tersebut," Aku baru denger kata -kata ini terucap setelah aku berkhidmah kepadamu selama 18 tahun."

      Kemudian ada seorang yang datang dari arah Maghrib, seraya berkata," Dia adalah pewarisku," maka Syaikh itu berkata dengan mengutip ayat, "Allah menentukan rahmat-Nya (kenabian)kepada siapa yang dikehendaki-Nya." ( QS.Alu 'Imran [3]: 73).

      Andai aku memiliki pilihan, maka aku akan berikan hali itu kepada anakku terlebih dahulu sebelum dirimu.

      Kemudian Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany melakukan perjalanan menuju Madinah untuk menziarahi kakeknya Nabi Muhammad. Setelah berziarah, beliau bertwmu dengan seorang wali quthb yang terkenal, Abu Abdillah, Sayyidi Muhammad Abdul Karim, yang terkenal dengan," As-Samman." Sekatika itu, Syaikh Samman inimemberikan izin untuk mengamalkan semua asma (Nama-nama Allah yang memiliki keutamaan dan rahasia di dalamnya). Syaikh Samman ini juga memberitahu beliau terkait perubahan kondisi jiwa yang akan terjadi pada dirinya, bahwa beliau adalah Al Quthb Al Jami.

      Setelah beliau selesai menjalankan manasik haji dan berziarah, kemudian beliau kembali pulang ke mesir dan tinggal di rumah seorang wali besar, Sayyidi Mahmud Al Kurdi. Dimana Syaikh Mahmud Al Kurdi ini ingin mentalqinkan beliau thariqah Khalwatiyah, sehingga beliau menyuru banyak orang ke dalam thariqah tersebut serta mentarbiyah mereka dengan ragam wiridan yang ada dalam thariqah Al Khalwatiyyah, namun Syaikh Ahmad A-Tijany menolah hal itu. Syaikh Mahmud Al Kurdi lalu berkata , "Talqinlah orang banyak, dan akulah yang akan menjamin hal itu" Maka beliau menjawab," Baiklah jika begitu." Lantas kemudian Syaikh Mahmud Al Kurdi mendoakannya, dan lalu Syaikh Ahmad At-Tijany kembali ke tunis.

      Beliau berpindaj dari Tunis ke Tilmisan pada tahun 1188 H/ 1774 M, selama menetap tiga tahun lamanya itu beliau gunakan untuk beribadah dan bemuhajadah . Pada tahun ini, beliau bertemu dengan sang juru tulis dan pemegang asrarnya, Sayyidi Muhammad bin Al Musyri Al Hasani As-Siba'i At-Tikrati, dimana Syaikh Ahmad At-Tijany mentalqinkannya thariqah Khalwatiyyah. Sejak pertemuan ini dan juga sejak Syaikh Al Musyri Menjadi imam dalam shalat beliau, maka sejak ini pula Syaikh Al Musyri menggantikan posisi Syaikh Ahmad At-Tijany  dalam menuliskan jawaban dari beragam pertanyaan yang datang. Kondisi seperti ini  berlangsung hingga tahun 1208H/1794M. Pada tahun inilah Syaikh Ahmad At-Tijany mulai menjadi imam, seperti yang diperintahkan oleh Nabi.

      Pada tahun 1191H/1777M, Syaikh Ahmad At-Tijany sering melakukan perjalanan yang kedua kalinya kesana dimana perjalanan beliau kali ini adalah  ingin menziarahi Maulana Idris Al Azhari. Di tengah perjalanan, beliau bdrtemu dengan Sayyidi Ali Harazim Barradah Al Fasi untuk pertama kalinya, dimana Syaikh Ahmad At-Tijany mentalqinkannya thariqah Khalwatiyyah, yanh kemudian pergi bersama-sama ke Fess.

      Setelah beliau menziarahi kuburan Sayyidi Idris Al Azhari, beliau tinggalkan Sang Khalifahnya. Sayyidi Ali Harazim di Fess dan beliau kembali ke Tilmisan. Pada tahun 1196H/1781M, Syaikh Ahmad At-Tijany kembali meninggalkan kota tersebut untuk pergi ke Asy-Salalah dan tinggal disana selama tiga tahun, kemudian Syaikh Ahmad At-Tijany pergi lagi untuk tinggal di kawasan Abi Samghun dan berdiam disana. Disana terdapat kuburan seorang wali besar, hal itu yang membuat tempat itu dinamai dengan namanya, Abi Samghun.

      Syaikh Ahmad At-Tijany tinggal disana selama 14 tahun, disana beliau mendapatkan futuh yang besar dan derajat kewalian yang palong agung, inilah karunia yang beliau tunggu-tunggu dengan penuh kesabaran. Disela waktu beliau tinggal di Abi Samghun, Syaikh Ahmad At-Tijany selesai pergi ke Tawat bagian barat untuk menziarahi Sayyidi Muhammad bin Al Fudhail dan saling bsrtukaran asrar di antara mereka.

      Kemudian Syaikh Ahmad At-Tijany pergi untuk kedua kalinya ke kota Tazah, disana beliau bertemu murid dan sahabatnya; Al Arif billah Sayyidi Muhammad Al 'Arabi Ad-Damrawi At-Tazi.

      Pada tahun 1196H yang merupakan tahun pertama kepergian Syaikh Ahmad At-Tijany ke Abi Samghun, beliau mendapatlan futuh. Nabi memberikan beliau izin secara terjaga dan tidak dalam mimpi untuk mentalqin orang-orang secara umun dam mutlak, dimana Nabi juga lah menentikan wiridan yang ditalqinkan itu.

 Wiridan itu berupa membaca istighfar sebanyak 100 kali dan juga membaca shalawat sebanyak 100 kali. Lali tepatnya pada tahun 1200H, Nabi SAW menambahkan bacaan hailalah sebanyak 100 kali dalam wiridan tersebut.

       Nabi Muhammad mengabarkan kepada beliau secara terjaga dan tidak kondisi tidur bahwa Rasulullah lah sang guru dan penanggung beliau, seorang tidak akan bisa wushul kepada Allah kecuali melalui Nabi SAW dam juga wasilahnya. Nabi bersabda kepada beliau," Tidak ada kebaikan sesorang Syaikh pun bagimu, akulah yang memberimu madad. Tinggalkanlah semua yang  engkau ambil dari mereka dan lazimkanlah thariqah ini, tanpa perlu berkhalwat dan menyendiri dari khalayak ramai, hingga engkau menggapai derajat yg dijanjikan, dan engkau dalam keadaan itu, tanpa banyak menemui keaulitan dan banyak bermujahadah."

      Setelah Syaikh Ahmad At-Tijany mendapatkam derajat kewalian, beliau lalu pergi ke 'Ain Madhi dan mbuat zawiyah disana. Namun kala itu beliau masih sering berpergian antara 'Ain Madhi, Abi Samghun dan Tawat, dimana Sayyidi Ali Harazim sempat menziarahi Syaikh Ahmad At-Tijany di Abi Samghun, tepatnya pada tahun 1203H/1789M.

      Sejak tahun 1198H/1783M, semakin banyak orang yang masuk ke dalam thariqah Tijaniyah ini dan semakin tersebar luas. Ketika thariqah Tijaniyah  ini menjadi semakin kuat, pemerintahan Turki semakin khawatir terhadap perkembangan ini, maka pada tahun 1199 H / 1784M dan tahun 1201-1202 H/ 1787 M, pemerintahan Turki pun mengirimkan agresi militer ke 'Ain Madhi dan mewajibkan upeti bagi Syaikh Ahmad At-Tijany dan para pengikutnya. Hal ini pun membuat Syaikh Ahmad At-Tijany terdesak dan mengharuskan beliau pergi dari Fess.

      Tepatnya pada 17 Rabi'ul Awwal 1213H/1798M, sultan Sulaiman beserta seluruh petinggi pemerintahan menyambut dengan baik Syaikh Ahmad At-Tijany, bahkan penyambutannya ini pun dilakukan oleh sultan Sulaiman, lantaran dia melihat bahwa sistem pengajaran thariqah At-Tijanyyah ini sesuai dengan Al-Qur'an dan As-Sunnah serta menolak segala ragam bid'ah.

       Engkau bisa melihat bagaimana adab sultan Sulaiman terhadap Syaikh Ahmad At-Tijany. Hal tersebut tercermin dalam surat yang sultan kirimkan sebelumnya, pada isi surat itu tertulis,"....Setelah ucapan bismillah dan shalawat terhadap Nabi: Gantikanlah orang tua kami, wahai Sayyidina wa syaikhana wa qudwatina Al Muhammadi; Abul Abbas Sayyidi Ahmad, aku memuji Allah dan bershalawat kepada Nabi-Nya yang terpuji. Telah sampai kepada kami surat anda yang penuh dengan keberkahan, dan kami memuji Allah atas apa yang Allah khususkan kepada kami dengan orang yang diridhai...."

       Pada hari senin, tepatnya tanggal 6 Rabi'ut Tsani tahun 1213H/1798M, Syaikh Ahmad At-Tijany sampai di kota Fess, sebuah kota, tempat dimana beliau dirikan sebuah zawiyah. Zawiyah inilah yang kemudian menjadi tempat tinggal beliau terakhir. Beliau tiba di sana bersama seorang sahabat; Sayyidi Ali Harazim. Dengan kedatangan beliau ini segala penjuru negeri Maghrib merasakan keberkahan itu. Saat beliau berada di zawiyah inilah tingkatan kondisi jiwa beliau semakin melesat dan derajat beliaupun semakin meningkat sehinggabeliau mencapai tingkatan Khatmiyyah dan juga mampu  menggapai maqam katmiyyah. Tak ada satu ulama pun yang menafikan, bahwa beliau adalah mujaddid abad ke 13H. Hal ini sebagaimana yang pernah diriwayatkan oleh Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW bersabda, " Sungguh Allah kelak mengutus setiap seratus tahun, seseorang yang akan memperbaharui tata cara beragama."

       Disebutkan pula dalam riwayat Abu Daud, " sosok pembaru kita adalah dari golongan Ahl Bait."

       Disanalah orang berduyun-duyun masuk ke dalam thariqah beliau, baik dari kalangan ulama, ahli fikih, para menteri dan rakyat jelata lainnya. Dari kota Fess inilah Thariqah Tijaniyyah mulai tersebar luas hingga sampai pelosok negeri Maghrib, negeri Tunisia dan padang pasirnya, serta Sudah bagian barat.

       Di kota Fess ini, pertama kali Syaikh Ahmad At-Tijany bertempat tinggal dirumah leluhurnya Sayyidi Ali Harazim yang beralamatkan di desa Darb Ath-Thawil, nomer 20. Di Masjid Ad-Diwan, yang berada dekat rumah inilah, Syaikh Ahmad At-Tijany banyak menyampaikan pelajarannya,  sehingga dari masjid inilah nama beliau semakin terkenal , bahkan kabar ini sampai pula di telinga sultan Sulaiman. Syaikh Abdul Qodir bin Syaqrun seorang petinggi ulama dan petinggi hakim pada masanya dan Syaikh Al 'Allamah Al 'Abbas bin Kairan seorang ulama bagi keluarga sang sultan, yang juga merupakan hakim di Kota Mankasy memuji Syaikh Ahmad At-Tijany di hadapan sang Sultan, maka sultan Sulaiman pun mengundang beliau untuk hadir dan menjadi pembicara di dalam majelis sultan. Syaikh Ahmad At-Tijany mulai menampakan sisi keilmuannya yang beliau miliki, baik itu sisi rasional, naql dan ilmu laduni yang membuat semua hadirin tercengang, sehingga orang yang semula mengingkari beliau malah berbalik mencintai.

      Kejadian yang menunjukkan keluasan ilmu dan kedalaman pemahaman beliau yang sampai pada taraf mujthid, yauitu bahwa para ulama yang berkumpul di sekeliling sultan adalah ulama yang pakar dalam suatu bidang ilmu pengetahuan, pakar mengajar dan membaca suatu tafsir. Ulama besar yang datang bersama beliau saat itu, di antaranya Syaikh Ath-Thayyib bin Kiran (w. 1227 H), Syaikh Sayyidi Abdul Qodir bin Ahmad bin Al 'Arabu bin Syaqrun (w. 11 sya'ban 1219H) dimana dari kedua Syaikh inilah sang sultan banyak menimba ilmu, Syaikh As-Sayyid Al 'Abbasi Asy- Syarayini seorang ulama maqra tersohor. Sang sultan pun sepakat untuk menghadirkan Syaikh Ahmad At-Tijany bersama para ulama yang lainnya setibanya beliau tiba di kota Fess.

       Syaikh Ibnu Kairan mengawali majelis sultan itu dengan kalimat pembuka yang biasa dia ucapkan pada awal pertemuan di hadapan sang sultan, hal itu dia lakukan lantaran kemahirannya dalam ilmu zhahir dan nalar. Dia mengemukakan dan kembali menegaskan ucapan itu, dia mengira bahwa tidak ada orang yang memiliki ilmu seperti dirinya, yang mana orang yang hadir pun seolah-olah sepakat dengan dirinya, kemudian sultan Sulaiman menoleh kepada Syaikh Ahmad At-Tijany seraya berkata, " Lantas bagaimana pendapat Syaikh tentang ayat ini? ." Lalu Syaikh Ahmad At-Tijany pun menerangkan tentang ayat tersebut dengan keterangan yang mencengangkan, bail itu keterangan yang berkaitan dengan ilmu syariat, maupun ilmu nalar, hingga Syaikh dapat menyampaikan penjelasan yang lebih baik dari apa yang diutarakan oleh Syaikh Ibnu Kairan.

      Hal ini membuat Syaikh Ibnu Kairan tersentak, Syaikh Ahmad At-Tijany pun menilai bahwa apa yang dilontarkan Syaikh Ibnu Kairan sebelumnya tidak sesuai dengan apa yang seharusnya disimpulkan, dimana Syaikh Ahmad At-Tijany berkata "Apa yang telah disebutkan oleh mufassir ini tidaklah benar, hal itu tidak akan bisa diterima oleh para pemikir." Syaikh Ibnu Kairan lantas berkata," Apakah anda ingin menantang kami, yang mengatakan hal itu adalah mufassir fulan dan si fulan," dimana sang Syaikh At-Thayyib bin Kairan menyalahkan  pernyataan Syaikh Ahmad At-Tijany. Syaikh Ahmad At-Tijany lalu mengatakan dalam majelis tersebut, " Pernyataanku ini tidak tertuju pada anda, juga bukan bagi orang yang membawa beban berat yang engkau giring pada makna yang bukan tempatnya, akan tetapi pernyataanku ini adalah untuk mufassir itu."

       Kemudian Syaikh Ahmad At-Tijany menjelaskan sisi yang benar dengan dalil naqli dan juga 'aqli, hingga apa yang menjadi keraguannya itu sirna dan tersibaklah kebenaran. Para pembesar ulama yang hadir di dalam majelis ini pun mengakui penjelasan ini, seraya menyatakan, " Demi Allah, inilah hal yang benar." Semua menyatakan yang di ucapkan Syaikh Ahmad At-Tijany ini juga didengar oleh sultan Sulaiman, dan setelah penjelasan ini, majelis pun selesai. Para ulama yang mengakui kebenaran penjelasan ini pun mengucapkan terimakasih kepada Syaikh Ahmad At-Tijany.

      Kemudian sang sultan bersama sisa orang yang hadir di majelis itu mengadakan percakapan, sultan Sulaiman mengatakan," Kalian kini telah mengetahui kedudukan dan keunggulannya dalam ilmu zhahir. Sementara mengenai ilmu bathin, maka ilmu bathin itu sejatinya memiliki induk sbernya dan beliau adalah anak dari induk ini, bagaimana menurut kalian ?," Mereka menjawab, " Demi Allah pernyataan itu benar dan kebenaran itu pun tersibak dengan jelas

      Seorang ulama terkemuka Tunis, Sayyidi Syaikh Muhammad bin Sulaiman Al Manna'i pernah beekata setelah berkumpul di majelis tersebut," Yang aku liat, bahwa banyak orang mencari alasan untuk dapat mengungkapkan hal yang cocok dengan orang yang hadir dan majelis yang sempurna ini, namun tidak seperti sang Imam yang satu ini, keilmuan nya dalam syairiat laksana lautan yang tak bertepi. Tidak ada seorang yang menandingi beliau dalam beberapa hal yang telah aku lihat sendiri, di antarannya:

      * Beliau hafal di luar kepala beberapa buku fikih, di antaranya; Mukhtar Ibnu Hajib, Mukhtashar Asy- Syaikh Khalil, dan Tahdzib Al Barza'i. Ada orang yang menceritakan kepadaku, bahwa beliau dapat menghafal itu semua dalam satu kali dengar, lantas dengan keadaan beliau yang seperti ini, apakah orang yang tidak memiliki wawasan luas itu masih akan menentang pernyataan beliau dalam hal fardhunya wudhu?.

        * Diantara buku hadits yang beliau hafal diluar kepala adalah, Shahih Al Bukhari, Shahih Muslim dan juga Al Muwaththa karya Imam Malik.

         * Terkait dengan ragam buku Tauhid, Syaikh Ahmad At-Tijany ini hampir mirip dengan Al Ghazali. Dimana semua hati ada pada genggaman Allah, terserah apa saja yang Allah inginkan dari hati tersebut.

      Syaikh Ahmad At-Tijany tidak tinggal lama di kediaman keluarga Syaikh Ali Harazim, dimana sultan Sulaiman menghadiakan beliau sebuah rumah, yang dapat dimanfaatkan oleh keluarga beliau. Sang sultan pun telah menetapkan pemberian sejumlah uang untuk keperluan beliau sehari-hari.

       Pada awalnya, Syaikh Ahmad At-Tijany enggan menerima ini semua, hingga sang sultan menjelaskan panjang lebar, bahwa itu semua bukan milik Negara, akan tetapi diambil dari harta pribadi sang sultan. Beliau tidak nyaman tinggal di sana  sampai Rasulullah SAW menyetujui untuk tinggal disana, dengan dengan syarat mensedekahkan jumlah nominal dari rumah itu, yang disedekahkan kepada orang- orang fakir dan miskin, lalu beliaupun melakukan hal itu.

      Syaikh Ahmad At-Tijany berkumpul bersama para sahabatnya untuk berdzikir dan membaca wazhifah di bagian pintu rumah beliau dan terkadang di sebagian masjid yang berada di kita itu, sampai Nabi SAW memerintahkan beliau untuk membangun zawiyah. Akhirnya beliau pun membeli sebidang tanah, yang terletak di kota Fess lama tepatnya di Hay Al Balidah, Syaikh Ahmad At-Tijany beli tanah tersebut dengan uang pribadi beliau. Sebelum dibangunnya sebuah zawiyah, sebidang tanah ini merupakan tanah yang menakutkan dan mengandung mistis, tidak ada orang yang berani memasuki tanah ini sendirian, sebab terkadang tetdengar suara dzikir secara berjamaah yaitu dzikirnya para orang yang majdzub dari penduduk Fess. Selain itu, Syaikh Ahmad At-Tijany juga membeli tanag yang berada di samping tanag sebelumnya untuk memperluas bamgunan zawiyah.

      Ada banyak orang yang tidak suka terhadap SyaikhAhmad At-Tijany dan juga mengingkari pendirian bangunan zawiyah ini, hal  tersebut sampai membuat Syaikh Ahmad At-Tijany berfikir untu meninggalkan kota Fess dan bertolak ke Syam atau Syiri. Saat sang sultan mengetahui keinginan orang-orang yang mengingkari  Syaokh Ahmad At-Tijany dan juga oembangunan zawiyah itu, maka sang sultan mengeluarkan surat perintah untuk melanjutkan pembangunan zawiyah itu sekalipun banyak orang yang mengingkarinya. Tak hanya itu saja, sang Sultan pun mengeluarkan sejumlah harta yang cukup besar guna membantu pembangunanya. Akan tetapi Syaikh Ahamd At-Tijany menanggapi semua permasalahan yang ada dengan sangat santun dan halus, seraya berkat,"Dengan izin Allah, zawiyah ini akan terus berdiri."

      Bangunan zawiyah itu diselesaikan sekitar tahun 1215H/1800M. Beliau pun memberitahu keutamaan dan keberkahan zawiyah ini, dengan perkataannya, " Seandainya para pembesar orang-orang yang Arif billah itu tahu keutamaan zawiyah ini, maka mereka akan memacu tunggangan untuk segera sampai keaini." Beliau juga perna berkata," Shalat di zawiyah ini pasti diterima."
Saat Seorang Guru Mendidik Muridnya




Terkadang ia harus melakukan sesuatu yang membuat murid itu tidak nyaman..

Membuat akal fikiran y tak mampu memahami fikiran sang guru...

Membuat muridnya terus diminta untuk melakukan pengorbanan2..

Baik itu pengorbanan harta... Dan yang paling berat pengorbanan perasaan 🥺🥺🥺

Sebagaimana pernah saya sampaikan pesan dr abah ke kawan2..

*jika ingin menembus langit pakai adab bukan hanya ilmu*

Adab ini kuncinya di perasaan....

Dimana dimulai dr fikiran y di skak mat...

Bahwa tak semua hal bisa ia fikirkan dengan akal ya...

Bahwa ia harus menekan ego dirinya...


Disinilah guru itu mentarbiyah dengan berbagai hal yang membuat murid tak nyaman

Membuat murid terus berkorban perasaan...

Membuat murid berkorban hartanya..

Hingga bisa jadi tdk ada yang ia punya kecuali satu.....

Yaitu...


*keyakinan bahwa Allah swt dan Rasulullah saw serta gurunya tidak pernah membuat ia bersedih dan kecewa*


Saat itu terjadi....

Maqom Mahabbah akan datang kepadanya.....


Dimana saat benar ia sudah Mahabbah kepada Allah swt...

Maka tanpa ia minta semua akan datang sendirinya..

Maka doanya lagi bukan meminta hajat dunia bahkan bukan dirinya sendiri...


Tetapi untuk semua umat di semesta raya ini...



Maka Banyak Orang Mampu belajar kepada para ulama..

Karena yg diajarkan ia ilmu tentang aktivitas ibadah dzohir....

Yang masih bisa dicerna dengan akal fikiran dan hatinya sendiri...


Namun tak banyak orang mampu belajar dengan para wali..

Karena yang diajarkan para wali yaitu ilmu bathin ya ibadah.


Dimana pendidikan para wali akan menghancurkan akal fikiran....

Akan membuat tidak nyaman hati....

Itu semua dalam rangka tarbiyah hati murid benar2 berserah kepada-Nya.


Agar ia sadar tidak semua hal bisa dijangkau akal fikiran ya sendiri.

Agar ia sadar bahwa tdk ada yg bisa membuat hatinya nyaman kecuali berharap Ridho Allah swt dan Rasulullah saw

Dimana ia akan selalu diminta pengorbanan apa yg ia miliki

Agar ia tdk merasa memiliki apapun kecuali kesadaran apa yg ia miliki berasal dari Allah swt...

Dibuat banyak orang yg dekat dengannya hingga yg ia kagumi kecewakan dirinya

Agar ia sadar hanya Allah swt dan Rasulullah saw yg sempurna mencintainya bukan siapapun....



Disinilah perbedaan pola pengajaran ilmu dzohir dan bathin seorang guru dalam mendidik muridnya

Semoga kita semua khususnya saya yg penuh dosa ini bisa sepenuh hati belajar kepada guru kita...

_Jika dengan guru yg didepan mata saja tak mampu taati apalagi dengan Allah swt dan Rasulullah saw yg tak pernah kita lihat_

_Apakah benar kita bisa taat kepada yang tak terlihat oleh mata jika yg depan mata saja masih suka ingkar dan berhitung_


😢😢

MUHIBBIN

Senin, 18 Februari 2019

KISAH IMAM SYAFI'I DAN PUTRINYA IMAM AHMAD BIN HAMBAL

زار الإمام الشافعي رحمه الله تعالى الإمام أحمد بن حنبل ذات يوم في داره ، وكانت للإمام أحمد ابنة صالحة تقوم الليل وتصوم النهار وتحب أخبار الصالحين والأخيار ، وتود أن ترى الشافعي لتعظيم أبيها له ، فلما زارهم الشافعي فرحت البنت بذلك ، طمعاً أن ترى أفعاله وتسمع مقاله .

Suatu hari Imam Syafi'i -semoga Allah merahmatinya  berkunjung kerumah Imam Ahmad bin Hambal.

Imam Ahmad mempunyai seorang putri yg sholihah, kalo malam beribadah, siang berpuasa dan menyukai kisah orang2 sholih dan pilihan.

Putri beliau ini ingin sekali melihat lmam Syafi'i secara langsung sebab sang ayah sangat menghormatinya.

Ketika Imam Syafi'i berkunjung kerumah mereka, sang putri merasa sangat senang dan berharap bisa melihat apa saja yang di kerjakan imam Syafi'i serta mendengar ucapan2nya.

وبعدما تناول طعام العشاء قام الإمام أحمد إلى صلاته وذكره ، والإمام الشافعي مستلقٍ على ظهره ، والبنت ترقبه إلى الفجر ، وفي الصباح قالت بنت الإمام أحمد لأبيها :
-يا أبتاه ... أهذا هو الشافعي الذي كنت تحدثني عنه ؟
-قال : نعم يا ابنتي .

Setelah selesai makan malam bersama, Imam Ahmad menuju tempat sholat untuk melakukan sholat dan dzikir, Imam Syafi'i tiduran terlentang, sedangkan sang putri selalu mengawasi Imam Syafi'i sampai fajar.

Di pagi hari, sang putri berkata kepada ayahnya :
" wahai ayahku...Apakah benar dia ini Imam Syafi'i yg engkau ceritakan padaku dulu ? "

Imam Ahmad :
" benar anakku .."

-فقالت : سمعتك تعظم الشافعي وما رأيت له هذه الليلة .. لا صلاة ولا ذكراٍ ولا ورداً؟
وقد لا حظت عليه ثلاثة أمور عجيبة ، قال : وما هي يا بنية ؟
-قالت : أنه عندما قدمنا له الطعام أكل كثيراً على خلاف ما سمعته عنه ، وعندما دخل الغرفة لم يقم ليصلي قيام الليل ، وعندما صلى بنا الفجر صلى من غير أن يتوضأ .

Putri :

" aku mendengar bahwa engkau menghormati Imam Syafi'i, tapi apa yg aku lihat tadi malam dia...tdk sholat, tidak dzikir tidak pula wirid ?dan aku juga melihat ada 3 hal yg aneh "

Imam Ahmad : " apa saja 3 hal itu, wahai anaku ? "

Putri :
" ketika kita sajikan makanan kepada Imam Syafi'i, dia makan banyak sekali dan ini berbeda dengan yg ku dengar,

ketika masuk kamar, dia tidak beribadah sholat malam, dan ketika sholat subuh bersama kita, dia sholat tanpa wudlu ."

-فلما طلع النهار وجلسا للحديث ذكر الإمام أحمد لضيفه الإمام الشافعي ما لاحظته ابنته ، فقال الإمام الشافعي رحمه الله :
يا أبا محمد لقد أكلت كثيراً لأنني أعلم أن طعامك من حلال ، وأنك كريم وطعام الكريم دواء ، وطعام البخيل داء ، وما أكلت لأشبع وإنما لأتداوى بطعامك ، وأما أنني لم أقم الليل فلأنني عندما وضعت رأسي لأنام نظرت كأن أمامي الكتاب والسنة ففتح الله عليّ باثنتين وسبعين مسألة من علوم الفقه رتبتها في منافع المسلمين ، فحال التفكير بها بيني وبين قيام الليل ،

Ketika agak siang dan mereka berbincang2, Imam Ahmad berkata kepada Imam Syafi'i tentang apa yang dilihat oleh putrinya, lalu Imam Syafi'i semoga Allah merahmatinya berkata :

"wahai aba Muhammad , aku memang semalam banyak makan karena aku tahu bahwa makananmu adalah halal dan engkau adalah orang mulia sedangkan makan orang mulia adalah obat, kalau makanan orang bakhil adalah penyakit, jadi, aku makan bukan untuk kenyang tapi untuk berobat dengan makananmu.

adapun semalam aku tidak sholat malam, hal itu dikarenakan ketika aku melatakkan kepalaku utk tidur, aku melihat seolah olah al qur'an dan hadits berada di depanku, kemudian Allah membukakan kepadaku 72 masalah ilmu fiqih yg kususun untuk kemaslahatan muslimin, maka memikirkan ilmu inilah yang menghalangi antara diriku dan sholat malam.

-وأما أنني صليت بكم الفجر بغير وضوء ، فوالله ما نامت عيني حتى أجدد الوضوء . لقد بقيت طوال الليل يقظاناً ، فصليت بكم الفجر بوضوء العشاء . ثم ودّعه ومضى .
فقال الإمام أحمد لابنته : هذا الذي عمله الشافعي الليلة وهو نائم ( أي مستلقٍ ) أفضل مما عملته وأنا قائم .

Adapun ketika sholat subuh bersama kalian aku tidak wudhlu, maka demi Allah tidaklah kedua mataku tertidur hingga aku butuh memperbaharui wudhlu.

semalam suntuk aku terjaga, jadi aku sholat subuh bersama kalian dengan wudhu sholat Isya' ."

Kemudian Imam Syafi'i berpamitan dan pulang.

Imam Ahmad berkata kepada putrinya :

" yang di kerjakan oleh oleh Imam Syafi'i semalam dalam keadaan tiduran, lebih utama daripada apa yang kukerjakan sambil sholat malam ."

Kitab Zaadul Murobbiyyin

_Sebagian para kekasih-Nya dalam keseharian terlihat tidak ada bedanya dengan manusia pada umumnya_

_karena kebanyakan manusia hanya melihat dari sisi aktivitas dzohiriyah tidak sampai ke aktivitas batiniah_

_bahkan bisa jadi orang terdekat para wali Allah tidak mengetahui tentang dirinya_

_karena sejatinya_

لاَيِعْـرِفُ الوَالِيّ اِلاَّ الوَالِيّ

*_Tidak mengetahui/mengenali wali kecuali wali_*

IQRO LEARNING CENTER