Minggu, 31 Desember 2017

Puasa Ayyamul Bidh

Puasa yang satu ini bisa kita rutinkan setiap bulannya. Setiap bulan minimal ada tiga hari berpuasa.

Dan lebih utama jika dilakukan di pertengahan bulan, yaitu *13, 14 dan 15 Hijriyah*, dikenal dengan puasa Ayyamul Bidh.
bertepatan pada tanggal 1,2 & 3 Januari 2018.....
 

👉🏻 _KEUTAMAAN PUASA AYYAMUL BIDH_

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

*أَوْصَانِى خَلِيلِى بِثَلاَثٍ لاَ أَدَعُهُنَّ حَتَّى أَمُوتَ صَوْمِ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ ، وَصَلاَةِ الضُّحَى ، وَنَوْمٍ عَلَى وِتْرٍ*

_“Kekasihku (yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) mewasiatkan padaku tiga nasehat yang aku tidak meninggalkannya hingga aku mati: [1] berpuasa tiga hari setiap bulannya, [2] mengerjakan shalat Dhuha, [3] mengerjakan shalat witir sebelum tidur.”_ (HR. Bukhari no. 1178)

Mu’adzah bertanya pada ‘Aisyah,

*أَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَصُومُ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ قَالَتْ نَعَمْ. قُلْتُ مِنْ أَيِّهِ كَانَ يَصُومُ قَالَتْ كَانَ لاَ يُبَالِى مِنْ أَيِّهِ صَامَ. قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ*

_“Apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa tiga hari setiap bulannya?” ‘Aisyah menjawab, “Iya.” Mu’adzah lalu bertanya, “Pada hari apa beliau melakukan puasa tersebut?” ‘Aisyah menjawab, “Beliau tidak peduli pada hari apa beliau puasa (artinya semau beliau).”_ (HR. Tirmidzi no. 763 dan Ibnu Majah no. 1709. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata,

*كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يُفْطِرُ أَيَّامَ الْبِيضِ فِي حَضَرٍ وَلَا سَفَرٍ*

_“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada ayyamul biidh ketika tidak bepergian maupun ketika bersafar.”_ (HR. An Nasai no. 2345. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan. Lihat Ash Shohihah no. 580)

Dari Abu Dzar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda padanya,

*يَا أَبَا ذَرٍّ إِذَا صُمْتَ مِنَ الشَّهْرِ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ فَصُمْ ثَلاَثَ عَشْرَةَ وَأَرْبَعَ عَشْرَةَ وَخَمْسَ عَشْرَةَ*

_“Jika engkau ingin berpuasa tiga hari setiap bulannya, maka berpuasalah pada tanggal 13, 14, dan 15 (dari bulan Hijriyah).”_ (HR. Tirmidzi no. 761 dan An Nasai no. 2424. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan)

🕌🕌🕌🕌🕌

👉🏻 _Fedah Puasa Tiga Hari Setiap Bulan_

• Menghidupkan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

•Memberi istirahat pada anggota badan setiap bulannya.

Jumat, 22 Desember 2017

Nilai Ahlak Menurut Ilmuwan Matematika



Al-Khawarizmi, seorang ilmuwan matematika pernah ditanya tentang manusia.

Dia menjawab,

Bila manusia memiliki akhlak, ia mendapatkan nilai 1.

Jika ia memiliki wajah yang elok, maka ia mendapat tambahan 0 dan menjadi 10.

Jika ia memiliki kekayaan maka bertambah lagi satu 0 dan nilainya menjadi 100.

Jika ia memiliki nasab yang mulia, maka bertambah lagi satu 0 dan nilainya menjadi 1000.

Namun apabila ia tidak memiliki akhlak maka hilanglah nilai satu tersebut dan hanya tersisa 0. Karena itu tanpa akhlak manusia tak memiliki nilai sama sekali.

Apabila kita menengok pada ayat-ayat Al-Qur’an maka akan kita temukan bahwa Nabi Muhammad saw memiliki nilai kemuliaan tertinggi yaitu akhlak dan budi pekerti yang agung.

Bukankah Allah berfirman,

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ

“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS.al-Qalam:4)

Bahkan misi diutusnya Nabi tak lain adalah untuk menyempurnakan akhlak,

اِنِّي بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاق

“Sungguh aku diutus untuk menyempurnakan akhlak.”

Tidakkah kita tergerak untuk berada dalam misi nabi dengan memperindah dan menyempurnakan akhlak kita?

Senyap Dalam Keheningan Malam

Denting waktu terus berputar
Meninggalkan masa yang membuatku terlena akan dunia

Mungkin mata ini telah lama terpejam
Tertidur lelap, terbuai kenikmatan
Hingga tak ku hiraukan segala larangan dan perintah-Mu

Lagi-lagi aku tak peduli akan waktu yang kubuang sia-sia, tanpa ku sadari semakin berkurangnya usia

Kini aku mulai melangkah
Tegak berdiri mensyukuri nikmat hijrah ini
Merasakan guyuran hujan yang kini tak lagi dingin dan terik matahari yang tak lagi menyengat

Begitulah, karena selalu ada hikmah dibalik setiap ujian
Yang membuatmu belajar dari sebuah kesalahan

Alloh selalu memberi jalan bagi hamba-Nya yang bertaubat
Meninggalkan kesenangan dunia demi taat dijalan-Nya

Ya Robb, terimakasih telah kau lunakkan hati dan kau buka hidayah pada diri ini

Sungguh, aku bukanlah hamba terbaik-Mu
Aku hanya terus berusaha meraih Ridho-Mu

Karena kini hanya itulah satu-satunya harapanku

Ya Alloh, kuatkanlah aku dalam hijrah ini
Karna tanpa pertolongan-Mu aku tak akan mampu

Mudahkanlah dalam mematuhi perintah-Mu dan menjauh dari hal-hal yang Engkau murkai

Meski tak jarang terasa lelah namun jangan sampai ku berbalik arah

Kawan, jalan hijrah ini adalah jawaban terbaik yang Allah berikan

Janganlah berhenti untuk memperbaiki diri
Teruslah berjalan dalam ketaatan meski terkadang sulit dan melelahkan

Tetaplah kau jaga iman, hingga tanpa kau sadari surga telah kau tapaki

Manusia Langit dan Manusia Bumi

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ

_Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal_

Pada surat Al Imran ayat 190 dimana Allah mengajar kan kepada kita tentang dua hal.

1. Keseimbangan pada 2 hal
2. Rahasia Kehidupan Pada
    Setiap hal yang dialami

Namun kali ini kita akan membawa poin pertamanya

*Keseimbangan pada 2 Hal*

Ketika Allah menciptakan langit dan bumi secara dzohir atau secara bentuk fisik

Maka Allah juga telah menciptakan karakter manusia bumi dan manusia langit yang memiliki perbedaan.

Kedua karakter tadi memiliki sifat....

1. Genetika
 
    Dimana sejak lahir hingga
    Wafatnya manusia tsb ia
    Ditugaskan di posisi itu
    Baik disadari atau tidak
    Oleh manusia tsb.

2. Mengalami perubahan
     Yang bersifat Fluktuatif

    Keadaan ia tetap sesuai
    Dengan apa yang Allah
    Takdirkan namun bisa
    Meningkat atau menurun

Syekh Ibnu Athoillah seorang Ulama dan Kekasih Allah yang menulis kitab Al Hikam

Penamaan Manusia Langit Dengan Istilah Tajrid dan Manusia Bumi dengan Istilah Asbab

Sekarang kita akan membahas perbedaan karakter manusia bumi dan manusia langit... ☺☺

*Manusia Bumi*
🌎🌎🌎🌎🌎

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ ۗ

_Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri._

Manusia bumi memiliki ciri pertama ketika ia ingin memperoleh sesuatu memakai hukum kausalitas atau sebab akibat.

Dan dalam melihat sesuatu cenderung harus dengan kekuatan logika dan harus terlihat secara dzohiriyah

Misalnya....

Keberhasilan  menurut mereka ketika memiliki sesuatu yang bersifat materi

Saat memiliki rumah 🏡 kendaraan 🚗🏍
Karir yang bagus 👨🏻‍💻👨🏻‍✈👨🏻‍🎨👮🏼

Dan begitu juga saat mempelajari agama,  tolak ukur ya dilihat dari kuantitas

Misalnya....
Dalam menghasilkan Qur'an targetnya bagaimana menghafal sebanyak mungkin ayat Qur'an

Dalam menghafal Hadits ia fokus menghasilkan banyaknya jumlah hadits ya dihafal

Nilai pemahaman dan pengamalan atas banyaknya ayat Qur'an  dan Hadits yang dihafal bukan fokus pertama.

Intinya bagi mereka kesuksesan untuk bersifat materi dan dapat dilihat secara mata dzohiriyah

Nilai positifnya....
Mereka mampu masuk ke dalam setiap karakter manusia secara umum

Yang dimana secara umum manusia masih melihat secara dzohiriyah

Mudah menjangkau kaum intelektualitas yang berpedoman pada kemahiran manusia bumi yang mampu hafal banyak dalil

Kelemahan ya manusia bumi

- terjebak pada sisi tekstual
  Dan kurang memahami sisi
   Kontekstual

- hanya melihat seseorang
  Dari kacamata lahiriyah

Dalam kisah di video, bisa jadi sebagian kita sudah pernah mendengar kisah ini...

Namun dişini saya perjelas kembali....

Musuh yang terlalu percaya diri dan memakai hukum sebab akibat....

Ia merasa dengan pedang yang tajam di tangan ya sementara Rasulullah tidak memegang pedang di tangan nya...

Sang musuh tidak menyadari Rasulullah saw yang manusia langit, setiap ucapan ya adalah pedang yg lebih tajam dari apapun

_Inilah perbedaan ketika manusia bumi dan manusia langit berpikir dan bertindak_

*Manusia Langit*
☄✨⛅🌨🌩

Berbicara tentang manusia langit kita akan mulai membedah  surat Yunus ayat 62

أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

_Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati._

Manusia langit memiliki karakter jiwa yang terikat dengan Allah swt

Jiwa yang terikat dengan Allah bukan hanya saat ia beribadah shalat, membaca Qur'an,  Dzikir

Tetapi juga terikat ke mana pun ia beraktivitas seperti bekerja, berbisnis semua terikat kepada Allah

Dalam bekerja atau berbisnis tolak ukur ya bukan materi atau hukum sebab akibat

Namun ia selalu mencari keridhoaan Allah dalam setiap aktivitas ya....

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْرِي نَفْسَهُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ رَءُوفٌ بِالْعِبَادِ

_Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya._

Al Baqarah ayat 207

Jalan kehidupan yang dijalaninya dijadikan sebagai wakaf di jalan dakwah

Ia selalu mengutamakan kepentingan dakwah dan ummat dibandingkan kepentingan diri dan keluarga ya....

Inilah yang disebut itsar

وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ

_“Dan mereka mengutamakan  atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan.”_

(QS. al-Hasyr: 9)

Ibnu Katsir mengatakan,

_“Mereka mendahulukan orang-orang yang sangat membutuhkan daripada kepentingan pribadi.”_

(Tafsir Ibnu Katsir 8/70)

Ibnu Taimiyyah berkata,

_“Adapun mengutamakan orang lain padahal ia sedang kesusahan, itu lebih utama daripada sekadar bersedekah dengan senang hati. Karena tidak semua orang yang bersedekah itu senang hati lagi dalam kesusahan.”_

(Minhajus Sunnah7/129)

Karena tidak mudah bagi setiap manusia untuk menyerahkan apa yg dimiliki kepada Allah dan Rasulullah dan kepentingan orang banyak

Ini salah satu keutamaan manusia langit dan banyak keutamaan yang dilakukan manusia langit

Misalnya

Dalam diamnya ia sibuk berdoa untuk orang lain dan hatinya tak pernah lalai mengingat asma Allah dan Rasulullah

Wajarlah jika akhirnya ia menjadi kekasih Allah dan Rasulullah...

*Yang dimana Allah letakkan keridhoaan-Nya pada Manusia Langit*

Manusia Langit itu tidak Selamanya ia seorang Ulama
Namun ia memiliki ciri manusia langit...

Misalnya...

Keridhoaan seorang anak terletak pada ibunya

Keridhoaan seorang istri terletak pada suaminya

Keridhoaan seorang murid terletak pada gurunya...

Sosok manusia langit ketika ia beraktivitas bukan untuk mencari Keridhoaan Allah maka dia akan jatuh dalam kepahitan hidup😰

Karena sejatinya sejak ia lahir  dirinya telah Allah tugaskan bukan untuk melayani diri sendiri

Seorang wanita yang terlahir ke dunia ini maka ia telah memiliki kodrat seorang ibu

Yang dimana seorang ibu suka tidak suka ia akan memikirkan kepentingan suami dan anak nya

Namun jika ia fokus melayani suami bukan untuk mencari Ridho Allah maka hati ya mudah rapuh

Begitu juga setiap pria yg menjadi suami maka ia telah memiliki tanggung jawab besar atas istri dan anak ya

Maka jika ia membimbing keluarganya karena Ridho Allah maka hati nya tak mudah lelah☺☺

Seseorang yang telah menjadi juru dakwah Nya suka tidak suka, ia harus mengutamakan kepentingan ummat daripada keluarganya sendiri....

Ciri lain manusia langit ia banyak merasakan Keajaiban untuk mèmperkuat tugasnya di muka bumi ini

Bagaimana do'a seorang guru.... Do'a seorang ibu...  Do'a anak yatim... Memiliki kekuatan yang besar

Rezki Allah antarkan kepada mereka tanpa memakai hukum sebab akibat seperti manusia bumi

Selama manusia langit menjadikan segala aktivitas untuk mencari Ridho Allah dan dakwah kepada ummat

Dan semua itu telah Allah gariskan sejak dunia ini belum diciptakan,  Allah telah gariskan manusia bumi dan manusia langit

Dişinilah perlu ada sinergi antara manusia bumi dan manusia langit....

Sehebat apapun usaha manusia bumi maka ia membutuhkan kekuatan manusia langit

Sebagaimana sebagus apapun bibit tanaman membutuhkan hujan dan panas matahari yang ada di langit

Inilah pengantar materi manusia bumi dan manusia langit pada malam ini

Kamis, 14 Desember 2017

Shalawat Al Fatih

Shalawat Al Fatih ialah Shalawat yang diberikan Rasulullah saw kepada Sayyidi Syekh Ahmad At Tijani dalam keadaan Sadar bukan mimpi.

Yang dimana Sayyidi Syekh Ahmad At Tijani merupakan Keturunan Rasulullah saw

Fadhilah Shalawat Fatih

1. Membaca 1X dalam sehari
    Dijamin mendapatkan
    Kebahagiaan Dunia Dan
   Akhirat

2. Bacaan 1X Shalawat Fatih
    Lebih Utama Dari 600,000
    Kali Shalawatnya Para
    Malaikat Manusia Dan Jin
    Dihitung sejak Dari Baru
    Pertama kali diciptakan
    Sampai pada waktu dibaca
    Shalawat Al Fatih

3. Membaca Shalawat Al Fatih 10x pahalanya ialah
Menyamai Pahala Wali yang
Hidup Dan beribadah selama
Sejuta Tahun

4. Jika ingin bermimpi jumpa Rasulullah saw bacalah Shalawat Al Fatih 1000x selama 3malam berturut2 (Malam Rabu,Malam Kamis Dan Malam Jumat) Dan ini bisa dilakukan jika mendapatkan izin ijazah Amalan Dari Guru.

Berbagai Fadhilah atau keutamaan diatas masih bersifat umum yang bisa dilakukan siapa pun.

Untuk mendapatkan fadhilah atau Keutamaan khusus Shalawat Al Fatih hanya bisa didapatkan Dengan baiat (izin khusus) untuk berdzikir Shalawat Al Fatih Dengan sanad shahih yang sampai kepada Rasulullah saw

Informasi lengkap silakan daftar kegiatan Kelas PDT IQRO secara offline.

PDT : Pengenalan Dasar Tasawuf

Referensi :

1. Kitab Jawahirul Ma'ani
2. Kitab Al Fathur Rabbani
3. Thariqoh At Tijani Dalam
    Neraca Al Qur'an & Sunnah

Senin, 11 Desember 2017

Bertemu Rasulullah saw Secara Yaqzhah

*Mungkinkah Kita Bertemu Rasulullah Saw Secara Sadar??*

Masih di bulan yang penuh kemuliaan ini,bulan dimana Baginda Rasulullah saw dilahirkan.

Kali ini saya ingin membahas sedikit apa mungkin kita bertemu Rasulullah saw secara sadar bukan hanya dalam mimpi...

*Jawabannyaa sangat mungkin Dan bukan perkara yang mustahil*

Para Syuhada’ hidup di alam barzah.

  ولاتقولوا لمن يقتل في سبيل الله أموات، بل أحياء ولكن لا تشعرون. (البقرة: 154)

  “Dan janganlah kamu mengatakan kepada orang orang yang gugur di jalan Allah itu mati, bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya”.

(QS. Al Baqarah: 154).

   ولا تحسبن الذين قتلوا في سبيل الله امواتا، بل احياء عند ربهم يرزقون. (ال عمران: 169)

  “Janganlah kamu mengira orang orang yang gugur di jalan Allah itu mati, bahkan mereka hidup disisi Tuhan mereka dengan mendapat rezeki”.
(QS: Ali Imran: 169). 

*Jika para syuhada’ hidup di alam barzah, apakah para Nabi yang menjadi pemimpin para syuhada’ mati tanpa ada khususiyahnya sebagaimana manusia pada umumnya*

Kehidupan Rasulullah SAW. dan para nabi lainnya di alam barzah.

  وعن أوس بن أوس رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:”إن من أفضل أيامكم يوم الجمعة، فأكثروا علي من الصلاة فيه، فإن صلاتكم معروضة علي”فقالوا:يارسول الله، وكيف تعرض صلاتنا عليك وقد أرمت؟. قال: يقول: بليت ،قال “إن الله حرم على الارض أجساد الانبياء” (رواه ابو داود)

Diriwayatkan oleh Aus bin Aus RA :

Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya hari yang paling utama bagimu adalah hari Jum’at. Maka perbanyaklah membaca shalawat untukku didalamnya. Sesungguhnya shalawat kalian disampaikan kepadaku”.

Para sahabat bertanya :

Ya Rasulallah, Bagaimanakah shalawat kami disampaikan kepada Tuan, padahal Tuan sudah berkalang tanah?…

Rasulullah SAW menjawab:
“Sesungguhnya Allah SWT mengharamkan bagi tanah untuk makan jasad para Nabi” ( HR. Abu Daud ).

  وعن أبي هريرة  رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “مامن أحد يسلم علي الا رد الله علي روحي حتى أرد عليه السلام، (رواه ابو داود باسناد صحيح)

Diriwayatkan oleh Abi Hurairah RA.

Rasulullah SAW bersabda: “Tak seorangpun yang bershalawat kepadaku, kecuali Allah mengembalikan ruhku kepada (jasad)ku, sehingga
aku menjawab salamnya”.

(HR. Abu Daud dengan sanad shahih). 

Bertemu Rasulullah SAW dalam keadaan sadar adalah salah satu kekaramatan para wali Allah, termasuk juga bagian dari mu’jizat bagi Rasulullah SAW yang berlaku bukan hanya ketika beliau masih hidup,setelah wafatpun tetap jalan, diantaranya adalah Al Qur’an. Dimana kita selaku muslim menyakini adanya mukjizat bagi para Nabi serta

Karamah bagi para Wali.   Kalau fenomena ini kita kaji
dengan akal sesehat dan secerdas apapun jelas tidak akan terjangkau. Karena memang sudah bukan ruang lingkup cakupan akal yang sangat terbatas kemampuannya. Persoalan utamanya disinibukan tidak masuk akal  tapi tidak terjangkau oleh akal.

Yang bisa jangkau hanyalah pandangan hati yang sangat bersih, bening dan penuh dengan iman.  Bukti lain bahwa Rasulullah SAW tetap berkomunikasi dengan sahabatnya setelah beliau wafat adalah paparan Saykhul Islam Al Imam Fahrur Razi dalam menafsiri S. Al Kahfi berkata :

“Adapun S. Abu Bakar Al Shiddiq ra. maka sebagian karomahnya ialah, bahwa setelah janazahnya dibawa menuju pintu kuburan Nabi SAW dan disampaikan ucapan : السلام عليك يارسول الله هذا أبو بكر بالباب “Salam sejahtera untukmu ya Rasulullah, ini Abu Bakar di pintu”.  

Maka tiba tiba pintu terbuka dengan sendirinya dan ada hatif ( suara tanpa diketahui orangnya ) berkumandang dari arah kubur Rasulullah SAW. أدخلوا الحبيب إلى الحبيب “Masuklah kekasih pada (tempat) kekasih“ .

Berkata Syeikh Jalaluddin Al Suyuthi dalam kitabnya “Anbaaul Adzkiya’ Hayaatul Anbiya’”.

“ Nabi SAW hidup di dalam kuburnya, begitu juga para Nabi lainnya ‘alaihimus shalatu was salam. Adalah suatu hal yang kami ketahui dan yakini berdasarkan dalil hadits yang mutawattir”.

Adapun hadits yang menguatkan pendapat ini adalah :

  عن انس رضي الله عنه: “أن النبي صلى الله عليه وسلم مر بقبر موسى عليه السلام فإذا هو حيى فى قبره يصلى قائما” ومنذلكالحديث “الأنبياء أحياء في قبورهم يصلون” ( رواه مسلم )

Diriwayatkan oleh Anas ra.: “Sesungguhnya Rasulullah SAW lewat di kuburan Nabi Musa AS. (pada malam Isra’ dan Mi’raj ), Dia hidup di kuburannya sedang berdiri dalam shalat”. dan dari hadits ini pula, “Para Nabi hidup di kuburnya dan melaksanakan shalat”.

( HR. Muslim )  

*/berapa abad jarak wafatnya Nabi Musa dengan kehidupan Nabi muhammad SAW?….*

Lebih jelas lagi, kehidupan para Nabi dan Rasul di alam barzah banyak dijelaskan dalam hadits – hadits tentang Isra’ wal Mi’raj Rasulullah SAW.   

Firman Allah SWT: 

أَلآ إِنَّ أَوْلِيَآءَ اللهِ لاَخَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَهُمْ يَحْزَنُونَ(62) اَلَّذِيْنَ أَمَنُوْا وَكَانُوْا يَتَّقُونَ (63) لَهُمُ البُشْرَى فِى الحَيَوةِ الدُّنْيَا وَفِى الأَخِرَةِ، لاَتَبْدِيْلَ لِكَلِمَاتِ اللهِ، ذَلِكَ هُوَ الفَوْزُ العَظِيْمِ.(64)(يونس: 62-64)   “Ingatlah !, Sesungguhnya para wali Allah itu adalah mereka yang tidak merasa takut (akan kematian) dan mereka tidak bersedih hati (karena berbagai cobaan dan kesulitan dunia). (62) Yaitu orang orang yang beriman dan mereka selalu bertaqwa (63).Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan dunia dan dalam kehidupan akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat kalimat (janji janji) Allah, yang demikian itu adalah kemenangan yang sangat besar.(64).
(Q.S. Yunus: 62-64)

  Sabda Rasulullah SAW dalam menjelaskan adanya Awliya’:

   عن أبي هريرة رضي الله عنه، قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ قال: مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ أَذَنْتُهُ بِالحَرْبِ، وَمَاتَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبدِي بِشَيْئٍ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ، وَمَا يَزَالُ عَبدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِيْ يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ الَّذِيْ يُبْصِرُبِهِ وَيَدَهُ الَّذِيْ يُبْطِشُ بِهَا وَرِجلَهُ الَّذِي يَمْشِيْ بِهَا وإِنْ سَأَلَنِي َلاُعْطِيَنَّهُ وَلَئِنْ اَسْتَعَاذَنِي َلَأُعِيْذَنَّهُ. (رواه البخاري)

Diriwayatkan oleh Imam Abi Hurairah RA, bersabda Rasulullah SAW:

“Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla berfirman: Barangsiapa yang menyakiti WALIKU maka benar benar Aku umumkan perang dengannya. Dan tidaklah seorang hamba mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang paling Aku sukai yaitu sesuatu yang telah Aku wajibkan kepadanya, dan hambaku senantiasa mendekatkan diri kepadaku dengan sunnah sunnah sampai Aku mencintainya, Apabila aku mencintainya, maka akulah yang menjadi pendengarannya yang mana ia akan mendengarkan dengannya, dan Akulah yang jadi matanya ketika ia melihat dengannya, dan Akulah yang jadi tangannya ketika ia memegang dengannya, dan Akulah yang jadi kakinya ketika ia berjalan dengannya, dan jika ia meminta kepadaku maka aku benar benar memberinya, dan jika ia mohon perlindungan kepada-Ku niscaya Aku benar benar melindunginya”.

(HR. Bukhari). 

Melihat / bertemu Rasulullah SAW dalam sadar bagi para Pembesar Awliya’ adalah perkara wajar dan bagian dari karomah yang menjadi BUSYRO bagi mereka (para Awliya’).

Sebagai pejabat ruhani / pegawai Allah, para Nabi mendapat bekal mukjizat sebagai hujjah yang haq kepada seantero alam raya.

Demikian pula para Wali Allah, mereka mendapat bekal khusus sebagai bukti kebenaran dakwah mereka berupa karomah, yang mana karomah itu sendiri sebenarnya sebagai berita gembira dari Allah SWT sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Yunus ayat 64 :

لَهُمُ البُشْرَى فِى الحَيَوةِ الدُّنْيَا وَفِى الأَخِرَةِ، لاَتَبْدِيْلَ لِكَلِمَاتِ اللهِ، ذَلِكَ هُوَ الفَوْزُ العَظِيْمِ.

Bagi mereka BERITA GEMBIRA di dalam kehidupan dunia dan dalam kehidupan akhirat. Tidak ada perobahan bagi kalimat kalimat (janji janji) Allah, yang demikian itu adalah kemenangan yang sangat besar.(64).
(Q.S. Yunus: 64)  

Syaikhul Islam Al Imam Al Hafidz Imaduddiin, Abil Fida’ Ismail bin Katsir dalam kitab tafsirnya yang terkenal dengan Tafsir Ibnu Katsir, beliau menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan “Berita gembira” pada surat Yunus ayat 64 tersebut diatas adalah: 

عن أبي الدرداء رضي الله عنه,  عن النبي صل الله عليه وسلم  فى قوله: (لَهُمُ البُشرَى فِى الحَيَوةِ الدُّنيَا وَفِى الأَخِرَةِ) هِيَ الرُّؤيَا الصَّالِحَةُ يَرَاهَا الرَّجُلُ الْمُسْلِمُ أَو تُرَى لَهُ , بَشَّرَاهُ فِى الحَيَاةِ الدُّنْيَا وَبَشَّرَاهُ فِى الْأَخِرَةِ اَلْجَنَّةَ. (رواه أحمد وءابن جرير والحاكم وغيرهما )

“Dari Abi Darda’ ra. dari Rasulullah SAW menjelaskan firman Allah SWT yang artinya ‘Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan dunia dan dalam kehidupan akhirat‘ adalah mimpi baik seorang muslim, atau melihat langsung (dalam sadar) terhadap (fenomena) yang menjadi kabar gembira baginya untuk kehidupan dunia dan kabar gembira baginya untuk kehidupan akhirat berupa surga”.

(HR. Ahmad, Ibnu Jarir dan Al Hakim serta ulama’ Hadits lainnya) 

اَلرُّؤْيَا الصَّالِحَةِ  يَرَاهَا الْعَبْدُ الْمُؤْمِنُ فِى الْمَنَامِ أَوْتُرَىلَهُوَهِيَ جُزْءٌ  مِنْ أَرْبَعَةِ وَأَرْبَعِيْنَ جُزْأً أَوْ سَبْعِيْنَ جُزْأً مِنَ النُّبُوَّةِ. (تفسيرالقران العظيم ءابن كثير:) 

“Berita baik bagi hamba Allah yang mukmin yang didapat melalui mimpi atau melihatnya secara langsung (secara sadar), hal seperti ini adalah 1/44 atau 1/70 bagian dari ilmu kenabian”.
(Tafsir Ibnu Katsir : Jilid 2 halaman 364).  

Pendapat ini dijelaskan secara panjang lebar dalam kitab tafsir Ibnu Katsir, dengan dasar beberapa riwayat hadits shahiih mengenai maksud ayat tersebut diatas.

Demikian juga Syaikhul Islam Al Imam Jalaluddin Al Suyuthy dalam kitab tafsir Jalalain menjelaskan maksud ayat ini dengan penafsiran yang sama yaitu ru’yah al shalihah.

Dalam beberapa riwayat hadits ru’yah al shalihah ini termasuk satu bagian dari 44 bagian ilmu kenabian (nubuwah), riwayat lain menyebut satu bagian dari 70 bagian ilmu nubuwwah.   Menurut terminologi kaum sufi, Al Ru’yatu as shalihah paling shahih adalah ru’yah / melihat Rasulullah SAW. karena Rasulullah SAW tidak bisa ditiru oleh syetan.

Sebagaimana Hadits Nabi Muhammad SAW:  

Hadits lain yang menjelaskan masalah bisyarah: 

وعن أنس بن مالك رضي الله عنه قال,  قال النبي صل الله عليه وسلم: إِنَّ الرِّسَالَةَ وَالنُّبُوَّةَ قَدْ إِنْقَطَعَتْ, فَلاَ رَسُولَ بَعْدِي وَلاَنَبِيَّ : قَالَ فَشَقَ ذَلِكَ عَلَى النَّاسِ, فَقَالَ: وَلَكِنَّ الْمُبَشِّرَاتِ. قَالُوا يَارَسُولَ اللهِ وَمَاالْمُبَشِّرَاتُ؟ قَالَ: رُؤيَا الرَّجُلُ الْمُسْلِمِ وَهِيَ جُزْءٌ مِن أَجْزَاءِ النُّبُوَّةِ. (رواه الترمذي وقال صحيح غريب)

“Dan diriwayatkan dari Anas bin Malik ra, dia berkata:

Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya kerasulan dan kenabian(wahyu, syari’at) sudah putus(ditutup).

Maka tidak ada lagi Rasul danNabi setelahku”.

Sahabat berkata: (Manusia pasti rusak jika begitu).

Kemudian Rasulullah SAW bersabda: “Tapi ada mubasysyirat”.

Sahabat bertanya: Ya Rasulallah, apa mubasysyirat itu?.

Rasulullah SAW bersabda: “Mimpi seorang laki laki muslim termasuk bagian dari kenabian”. (HR. Turmudzi, dan dia mengatakan bahwa hadits ini shahiih gharib). 

Riwayat hadits  yang mempertegas adanya mubasysyirat (berita gembira) untuk para auliya’ radliyallaahu anhum sebenarnya sangat banyak, untuk menambah wawasan berikut ini kami sampaikan lagi sebuah hadits: 

عَن عُثمَانِ بِن عُبَيْدِ الرَّاسِبِي قَالَ, سَمِعْتُ أَبَا الطُفَيْلِ رَضِيَ الله عَنْهُ يَقُولُ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّ الله عَلَيهِ وَسَلَّمَ: لاَنُبُوَّةَ بَعْدِي إِلاَّ الْمُبَشِّرَاتِ.قِيلَ:وَمَاالْمُبَشِّرَاتُ يَارَسُولَ الله؟ قَالَ: اَلرُّؤْياَ الْحَسَنَةِ. أَو قَالَ: اَلرُّؤْياَ الصَّالِحَةِ. (رواه أحمد)

Diriwayatkan oleh Utsman bin Ubaid Ar Rasibi yang mengatakan: Saya mendengar Aba Ath Thufail ra mengatakan:

Rasulullah SAW bersabda:“Tidak ada lagi (wahyu) kenabian setelahku, kecuali Al Mubasysyirat”.

Sahabat bertanya: “Apakah Al Mubasysyirat itu ya Rasulallah?”

Rasulullah SAW menjawab: Mimpi yang baik”. (HR. Ahmad). 

Dalil yang menguatkan bahwa seseorang bisa bertemu Rasulullah SAW baik dalam mimpi ataupun dalam keadaan sadar / tidak tiduradalah sabda Nabi SAW:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: من رأني فى المنام فسوف يراني يقظة ولا يتمثلالشيطان بي( رواه البخاريومسلم وابو داود وغيرهم )

Rasulullah SAW bersabda : “Barangsiapa melihatku dalam mimpi, maka dia akan melihatku dalam keadaan jaga, dan syaithan tidak bisa menyerupai aku”.

(HR. Buhari, Muslim, Abu Daud dan muhaddits  lainnya).  

Riwayat hadits lain mengatakan :

  قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: من رأني فى المنام فسيراني فى اليقظة. (رواه  البخاري)

Rasulullah SAW bersabda : “Barangsiapa melihatku dalam mimpi, maka dia akan melihatku dalam keadaan jaga”.
( HR. Buhari ).  

Kedua hadits Nabi SAW tersebut diatas, sangat jelas dan tidak perlu penafsiran lagi, bahwa Nabi bisa dilihat dalam mimpi ataupun jaga (sadar / bukan mimpi), dan adanya jaminan syaithan tidak bisa ngaku atau menyamar sebagai Nabi.

Dalam kitab Bughyatul Mustafid li Syarhi Munyatul Murid karangan Sayyidi Muhammad Al ‘Araby halaman 211 diterangkan bahwa : “Dan diantara faedah / keuntungan bershalawat kepada Nabi SAW ialah mendekatkan hamba tersebut dengan Nabi Muhammad SAW. yang ahirnya sampai bisa bertemu dengannya dalam keadaan sadar / jaga.

Dan dengan demikian dia aman dari resiko dicabut pangkat kewaliannya. Sebelum bertemu Rasulullah dalam sadar, seorang wali yang ‘arif billah masih takut dicabut kewaliannya.  

Orang yang mengklaim bertemu langsung (dalam keadaan sadar) dengan Rasulullah SAW setelah beliau wafat, bukan hanya Sayyidi Syeikh Ahmad bin Muhammad Attijany RA dan para Wali lainnya yang dianggap sesat dan syirik oleh golongan salafi dan wahhabi.

Para sahabat banyak yang menyatakan bertemu Rasulullah SAW setelah wafatnya.

Salah satunya dan tertulis dalam sejarah adalah diceriterakan oleh Abdullah bin Salam RA. Khalifah Ar Rasyidiin ke tiga Sayyidina Utsman bin Affan RA. ketika dikepung para musuh politiknya pada saat hari terbunuhnya beliau, juga dijumpai Rasulullah SAW dalam jaga / sadar / bukan mimpi dan ditawari dua pilihan ; diselamatkan dari kepungan musuh atau berbuka bersama Rasulullah SAW. Dia memilih yang kedua dan wafat hari itu juga.

Dalam perjalanan Isra’ dan Mi’raj diceriterakan bahwa Rasulullah SAW bertemu dan menjadi imam shalat berjamaah dengan para Nabi sebelumnya, serta pertemuan dan diskusi Rasulullah SAW dengan Nabi Adam, Ibrahim, Musa dan lain sebagainya.   

Mimpi para Nabi bisa dijadikan dalil syar’i karena tergolong wahyu kenabian.

  Padahal Al Qur an menegaskan “Busyra = Ar Ru’yah As Shalihah (mimpi baik orang beriman)” itu merupakan 1/44 atau 1/70 bagian dari ilmu kenabian (Nubuwwah).

Lebih dari itu kalau kita mau sedikit jeli. Banyak perkara besar dalam syariat agama kita ini perintahnya lewat mimpi.

Diantaranya dalam tafsir Ibnu Katsir, dalam menjelaskan Busyra = Ar Ru’yatus Shalihah, terdapat sebuah Hadits yang menyatakan bahwa wahyu pertama yang diterima Rasulullah SAW adalah mimpi melihat terbitnya fajar.

Demikian juga fathul Makkah (penaklukan kota Mekkah) Rasulullah SAW diberitahu oleh Allah SWT melalui mimpi dan ditegaskan oleh Allah melalui firman-Nya:

  لَقَدْ صَدَقَ اللهُ رَسُوْلُهُ الرُّءْيَا بِالْحَقِّ لَتَدْخُلُنَّ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ إِنْ شَاءَ اللهُ أَمِنِيْنَ مُحَلَّقِيْنَ رُؤُسَكُمْ وَمُقَصِّرِيْنَ لاَتَخَافُوْنَ فَعَلِمَ مَالَمْ تَعْلَمُوْا فَجَعَلَ مِنْ دُوْنِ ذَلِكَ فَتْحًا قَرِيْبًا. ( الفتح : )

Sesungguhnya Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya tentang kebenaran mimpinya dengan sebenar benarnya bahwa, sesungguhnya kamu akan memasuki Masjid Al Haram insya-Allah dengan aman, dengan mencukur rambut kepala dan mengguntingnya.

Sedangkan kamu tidak merasa takut. Maka Allah Maha mengetahui apa yang tidak kamu ketahui, dan Dia memberikan selain itu kemenangan yang dekat. (QS. Al Fath : 27).  

Nabi Ibrahim Al Khalil as. berkorban dengan menyembelih putranya Nabi Ismail as. perintahnya juga lewat mimpi.

  فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيُ قَالَ يَابُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِى الْمَنَامِ إِنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى، قَالَ يَأَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللهُ مِنَ الصَّبِرِيْنَ، (الصفات:

“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama sama Ibrahim, Ibrahim berkata;

‘Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi, bahwa aku menyembelihmu, maka fikirkanlah apa pendapatmu?’,

Ia menjawab;

‘Wahai Bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan (oleh Allah) kepadamu, Insya-Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang orang yang sabar”.

(QS. As Shaffat : 102) 

Demikian juga Nabi Yusuf yang bermimpi bintang, bulan dan matahari sujud sebagai kabar gembira bahwa dia akan jadi raja. 

إِذْ قَالَ يُوْسُفَلِأَبِيْهِ يَأَبَتِ إِنِّي رَأَيْتُ أَحَدَ عَشَرَ كَوْكَبً وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ رَأَيْتُهُمْ لِي سَجِدِيْنَ ( يوسف :

  “Ketika Yusuf berkata pada ayahnya; Wahai ayahku, sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas bintang dan matahari serta bulan sujud kepadaku”, (QS. Yusuf : 4 )

Mimpi para Awliya’ tdk bisa dijadikan dalil syar’i, tapi tergolong busyra yang bersifat fadhailul a’mal dan baik untuk diamalkan jika tdk bertentangan dengan syariat Islam.

Hadits Rasulullah SAW: 

عَنْ عَبْدِاللهِ بْنِ عُمَرَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِى قَوْلِهِ : (لَهُمُ البُشْرَى فِى الْحَيَوةِ الدُّنْيَا وَفِىالأَخِرَةِ) هِيَ الرُّؤْياَ الصَّالِحَةِ يُبَشِّرُهَا الْمُؤْمِنُ جُزْءٌ مِنْ تِسْعَةٍ وَأَرْبَعِيْنَ جُزْأً مِنَ النُّبُوَّةِ، فَمَنْ رَأَى ذَلِكَ فَالْيُخْبِرْ بِهَا، وَمَنْ رَأَى سِوَى ذَلِكَ فَإِنَّمَا هُوَ مِنَ الشَّيْطَانِ لِيُحْزِنَهُ فَلْيَنْفُثْ عَنْ يَسَرِهِ ثَلاَثًا وَلْيُكَبِّرْ وَلاَ يُخْبِرْهَا أَحَدًا. (رواه أحمد وءابن جريروغيرهما)

“Diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar, dari Nabi SAW,menjelaskan firman Allah SWT yang artinya ‘Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan dunia dan dalam kehidupan akhirat‘ adalah mimpi baik seorang mukmin adalah satu bagian dari empat puluh sembilan bagian ilmu kenabian. Barang siapa mengalaminya maka hendaklah hal tersebut diceriterakan, dan bagi siapa saja yang bermimpi buruk maka itu dari syeitan yang bertujuan menyusahkan kita, maka (ketika terbangun) meludahlah tiga kali ke sebelah kiri dan bertakbirlah, dan jangan ceriterakan (mimpi buruk tersebut) kepada siapapun”

(HR. Ahmad dan Ibnu Jarir dan ulama’ Hadits lainnya). 

Mu’jizat para Nabi dan Karomah para Wali.

Menurut para ulama’, difinisi mu’jizat ialah:   اَلْمُعْجِزَةُ الأَمْرُ الْخَارِقُ لِلْعَادَةِ الْمَقْرُونُ بِالتَّحَدِّى اَلْمُوَافِقُ لِلدَّعْوَى مَعَ عَدَمِ إِمْكَانِ مُعَارَضَتِهِ، (كفاية العوام :

Mukjizat adalah suatu perkara yang menyalahi adat yang disertai tantangan sesuai dengan dakwah (kenabian)serta tidak mungkin tertandingi. (Kifaayatul ‘awam: 73)  

Sedangkan Karomah para Wali pada hakekatnya adalah mukjizat para nabi yang menjadi panutannya.

Cuma ada sedikit perbedaan antara mukjizat dan karomah, kalau mukjizat kemunculannya disertai tantangan, sedangkan karomah tidak selalu muncul karena adanya tantangan. Adapun difinisi karomah adalah: 

الكَرَامَةُ: الأَمْرُ الخَرِقُ لِلْعَادَةِ الَّذِيْ يَظْهَرُ عَلَى يَدِ عَبْدٍ ظَاهِرِ الصَّلاَحِ (حجة الله على العالمين: 13 – يوسف النبهاني)

Karamah adalah sesuatu yang menyalahi hukum adat (bukan menyalahi hukum Islam / Syariah) yang memancar dari tangan / anggota badan hamba Allah yang benar benar shalih. (Hujjatullah ‘alal ‘alamiin ; 13. oleh Yusuf An Nabhani)

Puncak Karomah para Wali Allah adalah bertemu Rasulullah dalam sadar.

Dalam banyak literatur sufi, seperti kitab Jami’ Karamatil Auliya’ banyak kita jumpai ceritera ceritera tentang kekeramatan para Wali Allah.

Dari kekaramatan dzahir seperti bisa terbang dan lain lain sampai pada kekeramatan maknawi (batin).

Sedangkan kekaramatan maknawi adalah karomah yang mempunyai nilai tertinggi disisi Allah SWT maupun bagi kebaikan manusia.

Puncak dari karomah maknawi adalah karunia pertemuan khusus dalam keadaan sadar dan bercakap cakap langsung dengan Rasulullah SAW. Ini pula yang menjadi standart paling akurat dari ketinggian derajat seorang Wali Allah termasuk juga standart terbaik dari tingkat kemakrifahannya disisi Allah SWT.

Sebagaimana diterangkan dalam kitab Rimah jilid 1 halaman 210 dijelaskan :   سَمِعْتُ سَيِّدِي عَلِيًّا اَلْخَوَاصَ رَحِمَهُ الله تَعَالَى  يَقُوْلُ: لَايَكْمُلُ عَبْدٌ فِي مَقَامِ الْعِرْفَانِ حَتىَّ يَصِيْرَ يَجْتَمِعُ بِرَسُوْلِ اللهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْظَةً وَمُشَافَهَةً (رماح:

Saya mendengar Sayyidi Ali Al Khawwash Rahimahullaahu ta’ala berkata:

“Tidak sempurna kedudukan seorang hamba pada maqam MA’RIFAH sampai hamba tersebut bertemu l berkumpul dengan Rasulullah SAW secara langsung (musafahah) dan dalam kondisi sadar / yaqadzah (bukan hanya melalui mimpi).  

Karomah dalam segala bentuknya selama itu tidak bertentangan dengan syariah (hukum Islam) adalah sesuatu yang mumkin / boleh terjadi sebagaimana adanya mukjizat bagi para Nabi.

Dalam kitab Al Fatawi haditsiyah – Ibnu Hajar Al Haitami halaman 256 dikatakan bahwa: 

وَقَدْ تَقَرَّرَ أَنَّ مَاجَازَ لِلأَنْبِيَاءِ مُعْجِزَةً جَازَ لِلأَوْلِيَاءِ كَرَامَةً بِشَرْطِ عَدَمِ التَّحَدِّى. (الفتاوى الحديثية لابن حجر الهيتمي : 258)

Dan telah menjadi ketetapan bahwa sesungguhnya apa saja yang bisa menjadimukjizat bagi para nabi, maka bisa juga menjadi karomah para wali, dengan syarat tidak disertai tantangan.(Al Fatawi haditsiyah – Ibnu Hajar Al Haitami halaman 256) 

Bertemu barzakhi dengan Rasulullah SAW dalam sadar secara hukum diakui kebenarannya sesuai Al Qur’an dan Hadits Rasulullah SAW dan atsar para Sahabat dan Para Ulama Khas (para Awliya’).

Amalan yang diberikan/ diijazahkan oleh Rasulullah SAW melalui pertemuan barzakhi secara hukum bisa diterima dan diamalkan. Karena status kenabian dan kerasulan Rasulullah SAW tetap berlaku sampai akhir zaman.

Untuk perkara umum dalam syariat Islam, sudah putus dan sudah sempurna, maka tidak ada tambahan lagi sejak wafatnya Rasulullah SAW. sedangkan untuk perkara khusus untuk kalangan khusus tetap berjalan sampai akhir zaman.

  Dari penjelasan Al Qur’an dan Hadits tentang PERTEMUAN BARZAKHI dengan Rasulullah SAW adalah PERKARA MUMKIN.

Maka secara hukum mumkin pula adanya percakapan / pesan barzakhi dengan beliau.

Oleh karena itu =SANAD BARZAKHI= yang merupakan hasil pertemuan barzakhi secara hukum bisa diterima.

Karena Sifat Rasulullah SAW tetap AL AMIN baik ketika masih hidup maupun setelah wafatnya. Dan martabat kenabian dan kerasulan Beliau tetap berlaku / tidak dicabut sanpai hari kiamat. 

Dan siapapun bisa mengalami hal ini dengan bimbingan keilmuan secara khusus.

Jumat, 08 Desember 2017

RIYADOH

Ilmu Syariat telah sempurna Rasulullah saw sampaikan sebagaimana yg diamanahkan melalui Jibril as

Namun Bagi setiap para kekasih Allah Dan Rasulullah masih ada bisyarah atau kabar gembira yang diberikan Allah Dan Rasulullah saw

Surat Yunus Ayat 62

أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.

Surat Yunus Ayat 64

لَهُمُ الْبُشْرَىٰ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ ۚ لَا تَبْدِيلَ لِكَلِمَاتِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan} di akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar.

Surat Yunus Ayat 63

الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ

(Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa.

Bisyarah ini bisa berupa mimpi bertemu Rasulullah saw hingga bisa bertemu secara yaqzhah atau sadar.

Dan jangan pernah berkata bahwa Rasulullah saw Dan para wali Allah telah wafat

Surat Al-Baqarah Ayat 154

وَلَا تَقُولُوا لِمَنْ يُقْتَلُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتٌ ۚ بَلْ أَحْيَاءٌ وَلَٰكِنْ لَا تَشْعُرُونَ

Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.

Contoh lagi....

Semua orang yg masuk perguruan tinggi pasti pernah melewati jenjang Sd-SMA

Namun tidak setiap mereka yang SD - SMA mereka bisa belajar sampai perguruan tinggi

Inilah salah satu bukti...

Semua Manusia memiliki komponen yg sama secara umum memiliki Jasadiyah, Fikriyah Dan Ruhiyah

Namun masing2 Manusia memiliki kekuatan yang Berbeda terkait 3 komponen tadi....

Misal...
Nabi Musa as saat berdialog Dengan Allah langsung , kekuatan telinganya Allah lipatgandakan 70,000x dibandingkan Manusia biasa

Bisyarah ini hanya diberikan kepada orang2 khusus yang menjadi wali-Nya

Kenapa tak semua orang mampu mendapatkan bisyarah ini...

Karena tidak semua orang memiliki kemampuan menjadi seorang kekasih Allah...

Bahkan dahulu Rasulullah saw memiliki sahabat yang bernama Huzaifah yg ia menyimpan banyak rahasia Rasulullah saw

Apakah Rasulullah saw tdk adil atau teebuka kepada semua sahabatnya...

Jawabannya ialah...

Untuk masalah ilmu syariat, semuanya dibuka...

Namun saat ada ilmu khusus atau Rahasia khusus tdk semua sahabatnya diberikan hal tersebut

Hal ini juga berlaku kepada para kekasih Allah Dan Manusia pada umum ya....

Seseorang yg masih terhijab ruhani walau Hijab Jasadiyah Dan Fikriyah dilewati

Maka disinilah musuh utamanya adalah Iblis ....

Sebagaimana Firaun sebelum menjadi Raja ia pernah riyadhoh 40 HARI  Dan didatangi malaikat jibril

Disuruh memilih antara menjadi Raja di Dunia tapi menjadi tiang neraka

Atau

Menjadi penghuni surga namun menjadi gembel di Dunia..

Disinilah Firaun sekalipun Sudah riyadhoh,bisa berkomunikaai dgn jibril Dan Iblis

Namun dikalahkan oleh nafsu Dunia yg menjadi Pintu terakhir Hijab Ruhiyah

Saat Rasulullah saw Sdh menembus Hijab Ruhiyah maka sekalipun ia Berbeda 15tahun dgn istrinya... ia mampu kendalikan syahwatnya...

Karena Hijab ruhaninya telah dilewati

Maka saat kita berdoa kepada Allah meminta sesuatu yang terbaik maka Sudah siapkah Dengan proses untuk mendapatkan yg terbaik

Misalnya...

Saat Rasulullah saw akan diangkat ke langit sidratul muntaha untuk menikmati kelezatan bertemu Dan berdialog kepada Allah

Maka Sebelum itu semua terjadi,Allah ambil ruh orang yg Rasulullah sangat sayangi yaitu Abu thalib Dan khodijah

Patah Hati yg teramat sakit namun dibalik itu semua ada kelezatan cinta Allah

Maka jika kita berdoa minta sesuatu...siapkan diri untuk menghadapi proses ya